Scroll untuk baca artikel
DIY

Rumah Terbengkalai di Bantul Ini Menyimpan Bisikan yang Tak Pernah Diam

9
×

Rumah Terbengkalai di Bantul Ini Menyimpan Bisikan yang Tak Pernah Diam

Share this article

Rumah Terbengkalai di Bantul Ini Menyimpan Bisikan yang Tak Pernah Diam

Rumah Mangkrak Jati Kembar: Bisikan Arwah di Bantul

Bantul, dengan sawahnya yang menghampar hijau dan irama hidupnya yang tenang, menyimpan sebuah rahasia kelam. Tersembunyi di balik rimbunnya pohon jati kembar, berdirilah sebuah rumah yang kisahnya membeku dalam ketakutan. Dikenal sebagai Rumah Mangkrak Jati Kembar, ia bukan sekadar bangunan tua yang usang.

Ia adalah monumen bisu bagi tragedi yang tak terucap, tempat di mana waktu seolah berhenti. Setiap sudutnya memancarkan aura dingin yang menggidikkan, mengundang rasa ingin tahu sekaligus ketakutan mendalam. Kisah-kisah horor telah menjadi bumbu sehari-hari di kalangan penduduk setempat.

Penduduk desa menghindari rumah itu seperti wabah, enggan bahkan sekadar meliriknya. Desas-desus tentang penampakan, suara tangisan, dan bisikan tak kasat mata telah melekat erat pada dinding-dindingnya yang lapuk. Konon, siapa pun yang berani mendekat akan merasakan kehadiran yang tak menyenangkan.

Sebagai seorang penulis yang terobsesi dengan cerita-cerita misteri lokal, ketertarikan saya pada Rumah Mangkrak Jati Kembar tak terbendung. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan, mendorong saya untuk menyelami lebih dalam legenda kelam yang menyelimutinya. Saya harus melihat sendiri, merasakan sendiri.

Perjalanan pertama saya menuju rumah itu terasa seperti menembus tirai waktu. Jalan setapak yang tertutup semak belukar dan ilalang tinggi seolah menolak kedatangan saya. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, lebih dingin, meskipun mentari masih bersinar terik di langit Bantul.

Ketika gerbang besi berkarat itu akhirnya terlihat, jantung saya berdegup kencang. Ia terbuka sedikit, mengundang saya masuk ke dalam kegelapan yang menyelimuti halaman. Aroma lumut, tanah basah, dan kayu lapuk menyeruak, seolah menyambut dengan napas kematian.

Halaman depan dipenuhi tanaman liar yang merambat tak terkendali, menutupi sebagian besar fasad rumah. Jendela-jendela tanpa kaca tampak seperti mata kosong yang menatap hampa, memantulkan bayangan suram dari langit yang mendung. Suasana mencekam menyelimuti setiap jengkal tanah di sana.

Rumah itu sendiri adalah bangunan joglo tua yang megah, namun kini telah runtuh di beberapa bagian. Atapnya berlubang, memperlihatkan kerangka kayu yang lapuk dan rapuh. Warna catnya telah mengelupas, meninggalkan noda-noda hitam yang menyerupai bercak darah kering.

Saya melangkah hati-hati melewati reruntuhan, merasakan setiap kerikil di bawah sepatu saya. Keheningan di sana begitu pekat, hanya sesekali dipecahkan oleh suara angin yang berdesir pelan, terdengar seperti bisikan yang nyaris tak terdengar. Bisikan itu seolah memanggil nama saya.

Semakin saya mendekat ke pintu utama yang terbuka lebar, hawa dingin semakin menusuk tulang. Pintu itu sendiri terbuat dari kayu jati yang tebal, namun kini telah lapuk dan engselnya berkarat. Di ambang pintu, saya ragu sejenak, menimbang antara keberanian dan naluri bertahan hidup.

Namun, rasa ingin tahu saya terlalu besar untuk diabaikan. Saya melangkahkan kaki ke dalam. Bagian dalam rumah terasa lebih gelap dan lembap. Debu tebal menyelimuti setiap perabot yang masih tersisa, membentuk lapisan abu-abu yang suram. Aroma apek dan tanah lembap memenuhi hidung.

Di ruang tamu, kursi-kursi berukir yang dulunya pasti megah kini roboh tak berdaya. Meja-meja penuh dengan retakan, seolah menanggung beban waktu dan kesedihan yang tak terhingga. Cahaya redup yang masuk dari celah-celah atap hanya menambah kesan suram dan angker pada ruangan.

Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar dari sudut ruangan. Bukan suara angin, melainkan seperti desahan panjang, atau mungkin rintihan yang tertahan. Bulu kuduk saya meremang seketika. Saya menoleh cepat, namun tak ada apa pun di sana, hanya bayangan yang menari-nari.

Saya mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa itu hanya imajinasi atau efek dari keheningan yang menyesakkan. Namun, hawa dingin yang tak wajar tiba-tiba menjalar di belakang leher saya, seolah ada seseorang yang berdiri tepat di belakang. Saya berbalik lagi, kosong.

Kaki saya melangkah ke lorong gelap yang menuju ke bagian belakang rumah. Di sana, kegelapan lebih pekat, dan saya harus menggunakan senter ponsel saya. Cahaya senter menari-nari di dinding, memperlihatkan ukiran-ukiran Jati yang indah, kini tertutup sarang laba-laba.

Saya masuk ke sebuah kamar tidur yang dulunya mungkin kamar utama. Sebuah ranjang kayu besar dengan kelambu yang sobek tergantung tak berdaya. Di sudut ruangan, sebuah cermin besar yang pecah seribu bayangan memantulkan pantulan wajah saya yang pucat.

Saat saya menatap cermin itu, sekelebat bayangan hitam melintas di belakang saya, terlalu cepat untuk ditangkap mata. Saya berbalik lagi, napas tertahan, tetapi sekali lagi, tidak ada apa pun. Jantung saya berdetak begitu kencang, nyaris meledak dalam dada.

Saya tahu saya tidak sendirian di sini. Kehadiran itu nyata, dingin, dan menekan. Perasaan diawasi semakin kuat, seolah ada sepasang mata tak terlihat yang mengikuti setiap gerak-gerik saya. Saya memutuskan untuk segera keluar, tetapi kaki saya terasa terpaku.

Tiba-tiba, dari arah kamar mandi yang gelap di ujung lorong, terdengar suara gemericik air yang sangat pelan. Air menetes, seolah keran yang terbuka. Padahal, saya tahu, rumah ini sudah lama tak memiliki pasokan air. Itu mustahil, tetapi suaranya nyata.

Rasa penasaran saya kembali muncul, bercampur dengan ketakutan yang mencekik. Saya melangkah perlahan menuju sumber suara, senter ponsel saya menyorot ke dalam kegelapan. Semakin dekat, suara gemericik itu semakin jelas, seolah ada seseorang yang sedang mandi.

Ketika saya mencapai ambang pintu kamar mandi, aroma melati yang kuat menyengat hidung. Aroma itu begitu manis, namun di tengah keangkeran ini, justru terasa mengerikan. Bau melati sering dikaitkan dengan kehadiran makhluk halus, terutama kuntilanak.

Saya menyalakan senter ke dalam kamar mandi. Yang saya lihat hanyalah sebuah bak mandi porselen yang kotor dan retak, serta lantai yang lembap. Tidak ada keran yang menetes, tidak ada sumber air yang terlihat. Tetapi suara gemericik itu masih ada, dan kini disusul dengan bisikan.

Bisikan itu sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun saya yakin itu adalah suara seorang wanita. Ia seperti merintih, lalu bernyanyi lirih, sebuah lagu Jawa kuno yang bernada sedih. Tubuh saya gemetar hebat, bulu kuduk berdiri tegak.

Saya memundurkan langkah perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tetapi sepertinya sudah terlambat. Tiba-tiba, dari sudut gelap di belakang bak mandi, sesosok bayangan putih pucat mulai terbentuk. Ia melayang perlahan, semakin jelas.

Itu adalah sesosok wanita dengan rambut panjang terurai dan pakaian putih yang lusuh. Wajahnya samar, tetapi saya bisa merasakan tatapan kosongnya yang menusuk. Bibirnya bergerak, seolah masih melantunkan lagu sedih itu, meskipun tanpa suara yang jelas.

Saya merasakan hawa dingin yang luar biasa mencekik, seolah oksigen di ruangan itu ditarik habis. Ketakutan yang selama ini saya tahan akhirnya meledak. Saya menjerit, melarikan diri sekuat tenaga, tak peduli lagi dengan apa pun.

Saya berlari keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang. Gerbang berkarat itu saya lewati dengan tergesa, tak peduli jika kaki saya tersandung. Napas saya terengah-engah, jantung berdebar seperti genderang perang, dan air mata bercampur keringat membasahi wajah.

Sejak hari itu, saya tak pernah lagi berani mendekati Rumah Mangkrak Jati Kembar. Cerita-cerita horor yang dulu saya anggap sekadar mitos, kini menjadi kenyataan pahit yang menghantui tidur saya. Aroma melati dan bisikan lirih itu masih terngiang jelas di telinga.

Rumah itu masih berdiri di sana, diselimuti misteri dan ketakutan. Ia tetap menjadi rumah kosong yang angker di Bantul, menyimpan kisah-kisah yang belum terungkap sepenuhnya. Dan saya, sang pemburu misteri, kini menjadi bagian dari legenda kelam yang menyelimutinya.

Bantul tetap tenang, namun bagi saya, ada satu sudut di sana yang tak akan pernah lagi sama. Sebuah rumah yang tak hanya kosong dari penghuni, tetapi juga dipenuhi dengan kehadiran yang tak terlihat, menunggu siapa pun yang cukup berani untuk mendengarkan bisikan mereka.

Mungkin, beberapa misteri memang lebih baik dibiarkan tetap menjadi misteri. Karena terkadang, kebenaran di balik kegelapan jauh lebih mengerikan daripada imajinasi terliar sekalipun. Dan di Rumah Mangkrak Jati Kembar, misteri itu abadi.

Rumah Mangkrak Jati Kembar: Bisikan Arwah di Bantul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *