Scroll untuk baca artikel
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Rumah Tanpa Pintu Itu Masih Berdiri di Gunung Sari… Tapi Siapa yang Tinggal di Dalamnya?

9
×

Rumah Tanpa Pintu Itu Masih Berdiri di Gunung Sari… Tapi Siapa yang Tinggal di Dalamnya?

Share this article

 

Rumah Tanpa Pintu di Gunung Sari: Kisah Kabut dan Kematian

Gunung Sari. Namanya saja sudah memanggil misteri. Sebuah desa terpencil, diselimuti kabut abadi. Tersembunyi di balik hutan pinus tua yang menjulang tinggi, ia menyimpan rahasia. Rahasia yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan bisikan ketakutan.

Penduduk lokal menatapku dengan mata penuh peringatan. Saat aku bertanya tentang sebuah rumah. Mereka menyebutnya “Rumah Tanpa Pintu,” atau terkadang, “Rumah Tanpa Jejak.” Sebuah anomali yang seharusnya tidak ada.

Sebagai seorang peneliti cerita rakyat, rasa penasaran menguasaiku. Desas-desus itu terlalu kuat untuk diabaikan. Aku memutuskan untuk mencari rumah itu. Meskipun setiap orang yang kutanya tampak bergidik.

Perjalanan itu sendiri sudah sebuah ujian. Jalur setapak licin, tertutup lumut dan dedaunan basah. Kabut tebal memeluk erat, mengurangi jarak pandang. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah dan ketidakpastian.

Hutan di sekitar terasa hidup, namun bukan dengan cara yang ramah. Pohon-pohon tua berdiri seperti penjaga bisu. Setiap hembusan angin terdengar seperti bisikan peringatan. Seolah alam sendiri mencoba mengusirku.

Setelah berjam-jam menembus keheningan yang mencekam. Melawan ranting yang menghalangi dan lumpur yang licin. Akhirnya, di antara pepohonan kuno yang berjejer rapat. Ia muncul.

Sebuah struktur kayu lapuk, berdiri tegak namun usang. Dindingnya berwarna abu-abu kehijauan, diwarnai jamur dan waktu. Jendela-jendela gelap menatap kosong, seperti mata mati. Mengundang sekaligus menakutkan.

Namun yang paling mencolok, dan paling tidak masuk akal. Tidak ada satupun pintu di dindingnya. Tidak ada kusen, tidak ada engsel, tidak ada bekas bukaan. Hanya kayu padat dan utuh di setiap sisi.

Aku mengelilinginya perlahan, tak percaya dengan penglihatanku. Aku menyentuh dindingnya yang dingin, kasar, dan tanpa cela. Berharap menemukan celah, sebuah ilusi, apapun. Tapi tidak ada.

Seolah rumah itu tumbuh begitu saja dari tanah. Sebuah monolit misterius yang menolak akses. Tidak ada jalan masuk, tidak ada jalan keluar yang terlihat. Hanya sebuah kotak kayu raksasa yang terisolasi.

Penduduk desa bercerita bahwa rumah itu muncul dan menghilang. Terkadang di satu tempat, terkadang di tempat lain. Namun selalu di area terpencil Gunung Sari. Sebuah entitas yang hidup dengan aturannya sendiri.

Beberapa orang yang mencoba mendekatinya terlalu dekat. Konon tidak pernah kembali. Cerita-cerita tentang suara-suara aneh. Dan bayangan bergerak di balik jendela kosong itu sering diulang.

Aku kembali berkali-kali ke tempat itu. Terobsesi oleh misteri yang tak terpecahkan. Aku mencoba mencari pola, celah tersembunyi. Menghabiskan berjam-jam hanya mengamati, berharap ia menunjukkan rahasianya.

Setiap kunjungan, perasaan aneh merayapi diriku. Bukan hanya rasa ingin tahu, tapi juga ketakutan mendalam. Seolah rumah itu sendiri mengamatiku. Menilaiku, menunggu saat yang tepat.

Malam itu, bulan purnama bersinar menusuk kabut. Aku merasakan tarikan yang tak tertahankan. Sebuah dorongan primal, bukan sekadar keinginan. Kaki-kakiku melangkah sendiri, kembali ke rumah itu.

Udara menjadi lebih dingin, kabut menebal hingga membutakan. Aku hampir tidak bisa melihat jalanku. Namun tarikan itu semakin kuat, seperti tali tak kasat mata yang menarikku. Menuju ke inti misteri.

Tiba-tiba, aku merasakan pergeseran. Bukan fisik, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Seolah udara di sekitarku berkerut. Lalu, aku berada di dalamnya. Tanpa menyadari bagaimana aku bisa masuk.

Tidak ada sensasi pintu terbuka, tidak ada suara engsel berderit. Hanya transisi yang mulus dari luar ke dalam. Seperti melangkah melalui tabir tipis. Atau terbangun dari mimpi yang sangat nyata.

Bau apek menyeruak, namun bercampur aroma aneh yang tak kukenal. Sebuah campuran tanah basah, lumut, dan sesuatu yang lebih busuk. Aroma yang terasa begitu kuno, begitu tua.

Kegelapan menyelimuti, hanya diterangi cahaya rembulan samar. Masuk melalui jendela-jendela yang dulunya terlihat gelap. Cahaya itu menari-nari di atas debu tebal. Mengungkap bayangan-bayangan aneh.

Ruangan terasa lebih besar dari yang seharusnya. Jauh lebih luas dari yang kulihat dari luar. Proporsinya tidak masuk akal. Dinding-dinding seolah menjauh, langit-langit membubung tinggi.

Debu tebal menutupi perabotan kuno yang masih utuh. Sebuah meja kayu besar di tengah ruangan. Beberapa kursi reyot di sekelilingnya. Rak buku kosong di salah satu dinding.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan modern. Tidak ada listrik, tidak ada barang pribadi. Hanya peninggalan masa lalu yang usang. Seolah waktu berhenti di sini, entah kapan, dan tidak pernah bergerak lagi.

Namun, ada sesuatu yang salah, yang mengganggu. Udara terasa berat, seperti ada kehadiran tak terlihat. Bisikan samar, atau hanya imajinasiku, mengganggu kesunyian. Mereka memanggil namaku.

Setiap langkah terasa diawasi, setiap napas terlalu keras. Aku merasa seperti objek di museum. Dipamerkan, diamati, dan dinilai. Oleh sesuatu yang tidak bisa kulihat, tapi sangat kurasakan.

Aku melangkah mendekati meja. Di atasnya, tergeletak sebuah buku catatan usang. Sampulnya terbuat dari kulit yang mengering dan retak. Halamannya menguning, rapuh, dan dipenuhi tulisan tangan.

Tulisan tangan yang rapi pada awalnya, namun semakin lama semakin kacau. Baris-baris kalimat mulai tumpang tindih. Huruf-huruf meliuk-liuk, seperti cacing yang menggeliat. Mencerminkan kegilaan penulisnya.

Buku itu menceritakan kisah seorang pria. Ia membangun rumah ini, terinspirasi oleh mimpinya. Ia ingin menciptakan tempat yang “sempurna,” tanpa gangguan dari dunia luar. Sebuah tempat untuk keabadian.

Ia percaya bahwa dengan menghilangkan pintu, ia akan mengunci diri dari kekacauan. Menciptakan dimensi pribadinya. Tempat di mana waktu dan realitas tak berarti. Sebuah benteng melawan kehampaan.

Namun, tulisan terakhirnya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan. Ia merasa rumah itu mulai “hidup,” menelannya perlahan. Dinding-dindingnya bernapas, lantai berdenyut. Suara-suara memanggil namanya.

“Ia bernapas. Ia lapar. Ia takkan membiarkanku pergi,” tulisnya. Kata-kata terakhirnya membuat darahku mengering. Jantungku berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhku.

Aku bukan lagi pengunjung. Aku adalah mangsa berikutnya. Terperangkap di dalamnya, sama seperti pemilik sebelumnya. Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah entitas hidup yang memakan jiwa.

Bisikan-bisikan menjadi lebih jelas, bukan lagi imajinasi. Mereka merangkak di telingaku, memanggil namaku. Memintaku untuk tinggal, untuk bergabung dengan keheningan abadi di dalamnya.

Bayangan-bayangan menari di sudut mataku. Tak nyata namun mengerikan. Bentuk-bentuk yang tak jelas melintas. Lalu menghilang ke dalam kegelapan yang lebih pekat. Seperti hantu-hantu masa lalu.

Aku berlari, panik, mencari jalan keluar yang tak ada. Aku menabrak dinding, menggaruk kayu dengan kuku-kukuku. Mencari celah, retakan, apa pun yang bisa membawaku keluar.

Dinding-dinding seolah bergerak, ruangan berputar. Lantai terasa bergelombang di bawah kakiku. Setiap langkah terasa berat, seperti aku berjalan di dalam air kental. Energi rumah itu melumpuhkanku.

Bisikan-bisikan itu kini menjadi jeritan. Bukan suara manusia, melainkan suara ribuan jiwa yang terjebak. Suara putus asa, rasa sakit, dan kehampaan. Mereka membanjiri indraku.

Aku merasa dingin yang menusuk, menembus tulang. Bukan dinginnya udara, tapi dinginnya kematian. Rumah itu menarik jiwaku, sedikit demi sedikit. Mengancam untuk menyatukanku dengannya.

Lalu, sama mendadaknya seperti saat aku masuk. Aku kembali berdiri di luar, di tengah kabut dingin. Terengah-engah, dengan jantung masih memompa liar di dadaku. Pakaianku basah oleh keringat.

Aku tidak tahu berapa lama aku berada di dalamnya. Waktu di dalam terasa berbeda, seperti terdistorsi. Mungkin hanya beberapa menit, mungkin berjam-jam. Aku tak bisa memastikan.

Rumah itu menatapku lagi. Jendela-jendela gelapnya kini terasa lebih dalam. Lebih jahat, lebih mengundang. Seolah ia menertawakanku, karena aku berhasil lolos. Untuk saat ini.

Aku tidak pernah kembali ke rumah itu. Tidak akan pernah. Sisa-sisa kegilaan pemilik sebelumnya merasuki pikiranku. Aku sering mendengar bisikan-bisikan itu. Bahkan di tengah keramaian kota.

Penduduk desa menatapku dengan tatapan tahu. Saat aku kembali ke desa, wajahku pasti sepucat mayat. Mereka tak bertanya, hanya mengangguk pelan. Seolah memahami kengerian yang kualami.

Aku tak pernah bercerita detail, tak akan ada yang percaya. Mereka hanya akan melihatku sebagai orang gila. Aku tahu, aku telah membawa sebagian dari rumah itu bersamaku. Sebuah kengerian abadi.

Rumah Tanpa Pintu itu masih ada di sana, di Gunung Sari. Sebuah anomali, sebuah teka-teki abadi yang mematikan. Ia menunggu, sabar, di balik selubung kabut tebalnya yang mistis.

Menunggu mangsa berikutnya yang berani mendekatinya. Yang tergelitik oleh misterinya. Dan yang cukup bodoh untuk melangkah masuk. Ke dalam kehampaan yang tak berujung.

Gunung Sari akan selalu menyimpan rahasianya. Dan aku, aku akan hidup dengan kengerian itu. Kisah tentang rumah yang bernapas. Rumah yang lapar. Rumah tanpa pintu yang takkan pernah bisa ditutup.

Rumah Tanpa Pintu di Gunung Sari: Kisah Kabut dan Kematian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *