Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Warga Desa Cigugur Tak Pernah Mendekat ke Rumah Ini… Alasannya Bikin Merinding

9
×

Warga Desa Cigugur Tak Pernah Mendekat ke Rumah Ini… Alasannya Bikin Merinding

Share this article

Warga Desa Cigugur Tak Pernah Mendekat ke Rumah Ini… Alasannya Bikin Merinding

Rumah Tua di Desa Cigugur: Bisikan Abadi dari Masa Lalu

Cigugur, sebuah desa terpencil di kaki gunung, menyimpan banyak kisah. Di antara hamparan sawah dan perbukitan hijau, berdiri angkuh sebuah rumah tua. Bangunan itu tampak usang, catnya mengelupas, jendelanya pecah, dan auranya kelam.

Penduduk setempat berbisik tentang rumah itu, menyebutnya “Rumah Seribu Kisah”. Mereka percaya, setiap sudutnya menyimpan duka dan dendam yang tak terucap. Sebuah kutukan abadi yang menjerat siapa pun yang berani mendekat.

Arif, seorang penulis muda dengan jiwa petualang, tak gentar. Terpikat oleh legenda kelamnya, ia memutuskan untuk mengungkap misteri rumah itu. Ia mengabaikan peringatan warga, dorongan rasa ingin tahu lebih kuat dari rasa takutnya.

Pintu kayu berderit parau saat Arif melangkah masuk. Udara pengap menyergap, membawa aroma debu, jamur, dan sesuatu yang lebih busuk. Debu tebal melapisi perabotan usang, seolah waktu berhenti berabad-abad lalu di sana.

Langkah pertama di lantai kayu yang rapuh menciptakan gema aneh. Bisikan samar terdengar dari lorong gelap, seolah menyambut kedatangannya. Bayangan melintas cepat di tepi pandang, diikuti dingin menusuk tulang yang tak wajar.

Arif mencoba menepisnya sebagai ulah angin atau imajinasinya. Ia meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah ilusi semata. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang hidup di antara kegelapan itu.

Ia mulai menjelajahi setiap kamar. Di sebuah kamar tidur utama, ia menemukan foto usang seorang wanita muda. Wajahnya sendu, matanya menyimpan kesedihan mendalam, seolah memendam rahasia besar yang teramat berat.

Di balik foto itu, terselip sepucuk surat menguning. Tulisan tangan yang indah namun rapuh menceritakan nama Clara. Gadis tercantik di Cigugur, yang cintanya direnggut paksa, berujung pada tragedi yang tak termaafkan.

Malam pertama Arif di rumah itu adalah awal teror sesungguhnya. Suara tangisan pilu seorang wanita terdengar dari loteng. Lampu minyaknya berkedip liar, dan perabotan di ruang tamu bergeser sendiri dengan bunyi menyeramkan.

Arif mulai kehilangan akal sehatnya. Tidurnya tak nyenyak, dihantui mimpi buruk berulang tentang tangisan dan bayangan. Ia merasa terus diawasi, setiap gerakannya diikuti oleh sepasang mata tak kasat mata.

Dengan tekad membara, Arif semakin dalam menggali. Ia menemukan sebuah buku harian lusuh, tersembunyi di bawah lantai papan yang longgar. Setiap halaman menceritakan penderitaan Clara yang mengerikan dan pengkhianatan yang ia alami.

Buku harian itu mengungkap kisah cinta Clara dengan seorang pemuda miskin desa. Namun, seorang bangsawan serakah menginginkannya. Cinta mereka direnggut paksa, membawa kehancuran pada jiwa Clara yang rapuh.

Clara hamil di luar nikah, dan bayinya diambil paksa darinya. Ia meninggal dalam kesedihan mendalam, tanpa sempat melihat putranya. Rohnya yang gelisah tak pernah menemukan kedamaian, terperangkap di rumah itu.

Arwah Clara gelisah, mencari bayinya yang hilang dan keadilan yang tak pernah ia dapatkan. Rumah itu bukan hanya tempat tinggalnya, melainkan juga penjara abadi bagi jiwanya yang tersiksa. Dendamnya mengikat energi gelap di sana.

Arif memutuskan untuk naik ke loteng, tempat suara tangisan paling sering terdengar. Udara dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Kegelapan pekat menelan cahaya senternya, menciptakan labirin bayangan yang bergerak.

Di sudut tersembunyi, ia menemukan sebuah boks kayu kecil. Di dalamnya, terlipat rapi sepasang pakaian bayi yang usang. Sebuah liontin kecil dan sehelai rambut pirang terikat pita, menjadi bukti keberadaan sang bayi.

Tiba-tiba, suhu di ruangan anjlok drastis. Sosok transparan mulai terbentuk di depannya. Wajah Clara, penuh duka dan kemarahan yang membeku, muncul di hadapannya. Tangannya terulur, memohon sesuatu yang tak terucap.

Arif terhenyak, membeku di tempat. Ketakutan bercampur iba memenuhi hatinya. Ia akhirnya mengerti penderitaan Clara. Dendam yang tak terbalas, kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya, semua memancar dari sosok itu.

Rumah itu bergetar hebat. Jendela-jendela pecah, pintu-pintu terbanting liar. Raungan kesedihan yang mengerikan menggema, seolah seluruh rumah itu ikut meratap. Energi gelap memuncak, mengancam untuk menelan Arif hidup-hidup.

Arif, dengan tangan gemetar, mengambil pakaian bayi itu. Ia berbisik lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku akan ceritakan kisahmu, Clara. Agar dunia tahu, dan kau bisa tenang.” Sebuah janji yang tulus terucap.

Sosok Clara memudar perlahan, seperti kabut pagi yang dihembus angin. Cahaya redup menyelimuti ruangan, dan kegelapan yang mencekam mulai terangkat. Rumah itu kembali sunyi, namun dengan kesunyian yang berbeda.

Arif keluar dari rumah itu, wajahnya pucat pasi, namun ada ketenangan aneh di matanya. Ia telah merasakan penderitaan yang tak terbayangkan. Sebuah beban berat terangkat dari pundaknya, dan mungkin juga dari rumah itu.

Penduduk Cigugur memandang Arif dengan tatapan campur aduk. Ia tak pernah menjelaskan secara rinci apa yang terjadi di dalam. Namun, ia menulis kisahnya, tentang Clara dan rumah itu, menyebarkannya ke seluruh negeri.

Rumah tua itu tetap berdiri di Cigugur, tetap angker dalam cerita. Namun, kini aura yang menyelubunginya terasa berbeda. Seperti menyimpan rahasia yang kini tak lagi menyiksa, melainkan menjadi sebuah peringatan abadi.

Arif tahu, beberapa kisah tidak hanya diucapkan. Beberapa kisah harus dirasakan, dialami, dan dipahami. Dalam dinginnya keabadian, rumah tua itu akan selamanya berbisik tentang Clara dan cinta yang hilang.

Rumah Tua di Desa Cigugur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *