Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jangan Sentuh Simbol Ini di Hutan Garut… Aku Sudah Mencobanya

188
×

Jangan Sentuh Simbol Ini di Hutan Garut… Aku Sudah Mencobanya

Share this article

Jangan Sentuh Simbol Ini di Hutan Garut… Aku Sudah Mencobanya

Simbol Kuno di Hutan Garut: Bisikan dari Kehampaan

Arif, seorang penjelajah veteran dengan reputasi tak tergoyahkan, selalu mengabaikan desas-desus. Hutan Garut, khususnya lereng terpencil Gunung Kancana, disebut menyimpan misteri. Kisah-kisah tentang pendaki yang hilang dan simbol aneh mulai beredar. Ia berangkat, membawa kamera dan keraguan.

Pohon-pohon raksasa menelan cahaya matahari, menciptakan lorong remang. Udara lembab membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk. Setiap langkahnya tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Hutan itu terasa hidup, namun tanpa suara.

Di sebuah batu granit yang ditumbuhi lumut, ia melihatnya. Sebuah ukiran aneh, kombinasi garis geometris tajam dan kurva organik. Warnanya pudar, seolah menyatu dengan batuan. Arif mendekat, rasa penasaran mengalahkan logikanya.

Awalnya ia mengira ulah iseng pendaki lain, atau formasi alam unik. Namun pola itu terlalu presisi, terlalu rumit. Ada sesuatu yang kuno dan asing di sana. Sebuah getaran halus merambat di jari-jarinya.

Semakin dalam ia melangkah, semakin banyak simbol muncul. Terukir di batang pohon yang menjulang, di dasar sungai kering, bahkan di bebatian yang tampaknya tak tersentuh. Mereka bukan sekadar grafiti, melainkan bahasa yang mati. Kompasnya mulai menunjukkan arah yang aneh.

Perasaan diawasi mulai menyelimuti Arif. Bukan oleh hewan liar, melainkan oleh sesuatu yang tak terlihat. Bisikan samar terdengar di antara desir angin. Hutan itu seolah bernapas bersamanya, ritmenya semakin cepat dan tidak beraturan.

Waktu terasa membengkok dan mengalir seperti cairan kental. Pagi bisa terasa seperti sore yang panjang, sore seperti dini hari yang tak berujung. Ia kehilangan jejak jam, bahkan hari, dalam kebingungan yang mencekam. Simbol-simbol itu seolah mengacak persepsinya, paniknya mulai merangkak naik.

Pola-pola itu kini tampak bergerak, berdenyut pelan di tepian penglihatannya. Beberapa ukiran baru muncul di tempat yang sebelumnya kosong, seolah tumbuh dari dalam hutan itu sendiri. Seolah hutan itu adalah kanvas raksasa, dan simbol-simbol itu adalah tulisan hidup. Sebuah ancaman yang tak terucap.

Ukiran-ukiran itu bukan hanya sekadar gambar statis. Mereka seolah memiliki kedalaman, dimensi lain yang menarik pandangan. Setiap garis, setiap kurva, beresonansi dengan denyutan halus. Arif merasa kepalanya berdenyut seiring dengan pola-pola misterius itu.

Suara-suara aneh mulai menghantui pendengarannya. Desisan seperti ribuan serangga, dengungan frekuensi rendah yang membuat gigi ngilu, dan bisikan-bisikan tak jelas yang seolah memanggil namanya. Ia melihat bayangan melintas di antara pepohonan, bentuk-bentuk yang tak mungkin ada. Apakah ia mulai gila? Pertanyaan itu menusuk benaknya.

Aromanya pun berubah, bukan lagi bau tanah dan dedaunan. Terkadang tercium bau logam hangus, lalu aroma manis yang memuakkan, seperti bunga yang membusuk. Indera penciumannya diserang, menambah disorientasi total yang ia alami.

Arif tersesat. Jalur yang ia yakini benar, tanda-tanda yang ia buat, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Pepohonan tampak bergerak, membentuk labirin tak berujung yang terus berubah. Bekal makanannya menipis, energinya terkuras habis. Dingin malam hutan semakin menusuk tulang.

Ia mencoba mengikuti aliran sungai kecil, berharap menemukan jalan keluar. Namun sungai itu berakhir di sebuah danau kecil berwarna hitam pekat. Permukaan airnya tenang, memantulkan bayangan pepohonan terbalik. Di sekeliling danau, simbol-simbol itu terukir di setiap batu.

Danau itu seperti mata hutan, gelap dan tanpa dasar. Arif merasa ditarik ke dalamnya, sebuah keinginan aneh untuk melompat. Sebuah suara dalam benaknya berbisik, menawarkan jawaban, menawarkan kedamaian. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjauh.

Setiap langkah terasa berat, seperti menyeret beban tak terlihat. Pepohonan tampak condong ke arahnya, cabang-cabannya seperti jari-jari yang mencengkeram. Cahaya matahari, jika ada, terasa tipis dan palsu. Ia berjalan di bawah langit yang terasa sangat rendah.

Akhirnya, ia menemukan sebuah clearing, sebuah ruang terbuka yang aneh di tengah hutan. Bukan tanah lapang biasa, melainkan area yang diselimuti kabut tipis dan dingin. Di tengahnya, sebuah monolit batu hitam menjulang, tingginya lebih dari dua puluh meter.

Permukaan monolit itu dipenuhi ribuan simbol yang saling bertautan, membentuk pola raksasa yang bergerak lambat. Mereka memancarkan cahaya redup yang berdenyut, seolah jantung kuno yang masih berdetak. Ukiran itu kini tidak lagi sekadar gambar, melainkan sebuah peta kosmik.

Monolit itu memanggilnya, menariknya mendekat dengan kekuatan tak kasat mata. Otaknya terasa berputar, informasi asing membanjiri kesadarannya. Ia melihat kilasan masa lalu yang bukan miliknya, masa depan yang mengerikan. Rahasia alam semesta terbuka di hadapannya.

Di antara simbol-simbol yang berdenyut itu, ia merasakan kehadiran. Bukan entitas fisik, melainkan energi murni, sebuah pikiran kuno yang tidur selama ribuan tahun. Ia ingin berkomunikasi, atau mungkin, mengklaim jiwa Arif. Sebuah kesadaran yang tak terbayangkan.

Suara itu kini bukan bisikan, melainkan raungan dalam benaknya. Sebuah bahasa tanpa kata, yang langsung menembus jiwanya. Ia merasakan jiwanya tertarik keluar, memanjang, menyatu dengan monolit. Rasa sakit dan ekstase bercampur menjadi satu.

Arif berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan, tak mampu keluar. Ia mencoba melawan, namun tubuhnya kaku, seperti disemen. Matanya terbelalak melihat simbol-simbol itu, yang kini tampak melayang di udara, mengelilinginya dalam pusaran cahaya.

Entah bagaimana, insting bertahan hidup yang primal mengambil alih. Ia berhasil melarikan diri, tubuhnya bergerak tanpa sadar. Ia berlari tanpa henti, melewati pepohonan yang kini tampak mengawasinya, mencemoohnya. Nafasnya terengah-engah, paru-parunya terbakar.

Ia tidak tahu berapa lama ia berlari, atau ke mana tujuannya. Yang ia tahu hanyalah harus keluar dari sana, dari cengkeraman hutan dan simbol-simbolnya. Rasa dingin mencengkeramnya, bukan dari suhu, melainkan dari ketakutan yang mengakar.

Ia ditemukan beberapa hari kemudian, di pinggir hutan, dehidrasi dan linglung. Matanya kosong, kulitnya pucat pasi, seperti seseorang yang baru saja melihat neraka. Ia berhasil selamat secara fisik, namun jiwanya tidak. Kenangan simbol itu tak pernah pudar.

Kisah Arif dianggap sebagai efek halusinasi karena kelelahan ekstrem. Para pejabat menyarankan ia untuk beristirahat dan melupakan semuanya. Ia mencoba menjelaskan, menggambar simbol-simbol itu di atas kertas, tetapi tak ada yang percaya. Mereka hanya melihat seorang pria yang trauma.

Ia mencoba menghubungi komunitas pendaki, berbagi pengalamannya. Sebagian besar menganggapnya gila, sebagian kecil penasaran namun skeptis. Mereka menganggapnya bualan, cerita hantu yang dilebih-lebihkan. Namun, Arif tahu kebenarannya.

Namun, Arif tahu kebenarannya yang mengerikan. Simbol-simbol itu bukan hanya ukiran, melainkan gerbang. Gerbang menuju apa, ia tidak tahu pasti. Sebuah entitas kuno, atau dimensi lain yang tak terjangkau akal manusia? Ia tak pernah kembali ke hutan itu.

Hingga kini, desas-desus masih beredar di Garut. Beberapa pendaki baru melaporkan disorientasi ringan, atau melihat pola aneh di bebatuan dan pohon. Simbol kuno itu masih ada, menunggu dalam keheningan hutan. Menunggu siapa yang cukup berani untuk menemukan kebenaran. Dan mungkin, tersesat di dalamnya, selamanya.

Simbol Kuno di Hutan Garut: Bisikan dari Kehampaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *