Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Hutan Ubud Terlihat Sepi — Tapi Kamera Menangkap Sosok Tak Terduga

9
×

Hutan Ubud Terlihat Sepi — Tapi Kamera Menangkap Sosok Tak Terduga

Share this article

Hutan Ubud Terlihat Sepi — Tapi Kamera Menangkap Sosok Tak Terduga

Bisikan Hutan Ubud: Misteri Sosok Bayangan

Udara di Ubud selalu membawa bisikan, sebuah melodi kuno yang tersembunyi di antara daun-daun palem dan gemericik air. Bagi Arya, seorang antropolog yang haus akan legenda, Ubud adalah kanvas sempurna. Ia datang untuk menelusuri jejak-jejak kepercayaan lama, bukan untuk menemukan sesuatu yang di luar nalar.

Namun, hutan di balik desa-desa yang tenang itu menyembunyikan lebih dari sekadar cerita rakyat. Ia memiliki rahasianya sendiri, yang berdenyut dalam keheningan yang mencekam. Arya sering menghabiskan hari-hari sendirian, mencatat observasi dan memotret reruntuhan pura kuno yang tertutup lumut.

Awalnya, hanya bisikan samar yang ia dengar, seperti desahan angin yang membawa nama yang tak jelas. Kemudian, kilasan-kilasan bayangan, seolah ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon beringin raksasa. Ia selalu menepisnya, menganggapnya hanya ilusi mata lelah.

Tetapi frekuensi penampakan itu semakin meningkat. Bayangan itu bukan lagi sekadar kilasan. Ia bergerak, kadang melintas di kejauhan, kadang hanya diam mengawasi. Bentuknya tinggi, ramping, dan selalu diselimuti kegelapan pekat, bahkan di bawah terik matahari.

Suatu sore, saat ia sedang memotret sebuah arca tua, Arya merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Bukan dinginnya senja, melainkan dingin yang aneh, seolah energi di sekitarnya tersedot habis. Bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.

Ketika ia menoleh perlahan, di antara dua pohon kamboja yang rimbun, berdiri sesosok bayangan. Lebih jelas dari sebelumnya, meski tetap tak berwajah. Ia hanya siluet hitam pekat, seperti lubang hampa di tengah hutan yang hijau.

Jantung Arya berpacu liar. Ia bukan tipe yang mudah panik, tetapi keberadaan sosok itu begitu nyata, begitu mengganggu. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, dan meraih kameranya. Namun, saat lensa fokus, sosok itu lenyap.

Hutan kembali hening, terlalu hening. Hanya ada suara jangkrik yang mulai berderik dan aroma dupa yang terbawa angin dari pura terdekat. Arya merasa diawasi, setiap gerakannya diamati dari balik pepohonan.

Malam itu, Arya tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan hitam itu. Ia mulai membuka buku-buku lama tentang mitologi Bali yang ia bawa. Ia mencari-cari, adakah legenda tentang entitas seperti itu di hutan Ubud?

Ia menemukan beberapa kisah tentang penjaga hutan, roh leluhur, bahkan Leyak. Tetapi tidak ada yang secara spesifik menggambarkan sosok bayangan yang benar-benar tanpa bentuk, hanya kegelapan yang bergerak. Ini adalah sesuatu yang berbeda.

Keesokan harinya, Arya memutuskan untuk kembali ke lokasi penampakan. Ia menyiapkan diri dengan lebih baik, membawa alat rekam suara dan senter yang kuat. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia harus mencari tahu.

Melangkah lebih dalam, udara terasa semakin lembab dan berat. Suara-suara hutan meredup, digantikan oleh keheningan yang intens. Setiap langkahnya terasa seperti mengganggu sesuatu yang tidur. Ia bisa merasakan tatapan yang tak terlihat.

Ia menemukan jejak-jejak aneh di tanah yang lembab. Bukan jejak kaki manusia, bukan pula binatang. Lebih mirip goresan panjang yang samar, seolah sesuatu yang berat dan tak berwujud telah menyeret dirinya. Sebuah firasat buruk merayapinya.

Tiba-tiba, alat rekam suaranya menangkap sesuatu. Sebuah frekuensi rendah yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun cukup kuat untuk terekam. Ia seperti dengungan, atau mungkin sebuah gumaman yang sangat dalam.

Arya berhenti, jantungnya berdegup kencang. Ia mengamati sekeliling. Hutan terasa hidup, namun tidak dengan cara yang biasa. Ada energi lain yang berdenyut di antara pohon-pohon, sebuah kehadiran yang kuat dan kuno.

Di kejauhan, sebuah reruntuhan pura kecil tampak samar. Pura itu lebih terpencil dari yang pernah ia kunjungi, hampir sepenuhnya ditelan oleh hutan. Sebuah tempat yang terasa begitu terlarang, namun memanggilnya.

Ia melangkah mendekat, waspada. Lumut tebal menyelimuti batu-batu candi, dan patung-patung dewa tampak usang, seolah sudah ribuan tahun di sana. Di depan pura, sebuah sesajen Canang Sari tampak segar, anehnya.

Kemudian, ia melihatnya lagi. Di antara pilar pura yang runtuh, sosok bayangan itu berdiri. Kali ini, ia tidak menghilang. Ia hanya diam, mengawasi Arya dengan intensitas yang tak terlukiskan. Udara di sekitar mereka terasa beku.

Arya mengangkat kameranya, tangannya gemetar. Ia harus mendapatkan bukti. Ia harus memahami. Lensa fokus, dan untuk sepersekian detik, ia melihat detail yang membuat darahnya mengering.

Sosok itu bukan hanya bayangan. Di dalam kegelapan itu, ada kerlipan samar, seperti mata yang tak terhitung jumlahnya bersembunyi. Dan dari kegelapan itu, sebuah getaran samar keluar, bukan suara, melainkan vibrasi yang menusuk jiwanya.

Vibrasi itu seperti pesan, sebuah peringatan. Bukan dalam bahasa yang bisa ia pahami, tetapi maknanya jelas: ia telah melewati batas. Ia telah mengganggu sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.

Arya menjatuhkan kameranya. Ia tak bisa bergerak, kakinya seolah terpaku. Sosok bayangan itu mulai bergerak, melayang perlahan mendekatinya. Bukan berjalan, melainkan meluncur tanpa suara di atas tanah.

Setiap inci jarak yang terpotong terasa seperti abadi. Aroma tanah basah dan daun kering bercampur dengan bau aneh, seperti belerang dan sesuatu yang sangat tua. Ia merasakan dingin yang ekstrem melingkupinya.

Tiba-tiba, suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, memecah keheningan. Sebuah melodi suci yang familiar, mungkin dari upacara di desa terdekat. Getaran dari sosok itu berfluktuasi.

Seolah terganggu oleh suara suci itu, sosok bayangan itu berhenti. Ia tidak lagi mendekat. Mata-mata yang tak terlihat di dalam kegelapan itu terasa menatap Arya dengan intensitas terakhir.

Lalu, secepat kemunculannya, ia mulai memudar. Bukan menghilang, tetapi menyatu dengan bayangan hutan itu sendiri. Dalam beberapa detik, yang tersisa hanyalah keheningan pura yang mencekam dan Arya yang terengah-engah.

Arya tidak ingat bagaimana ia sampai kembali ke penginapannya. Ia hanya tahu bahwa ia berlari, tanpa menoleh ke belakang. Kameranya hilang, tertinggal di dekat reruntuhan pura itu, bersama dengan misteri yang ia temukan.

Ia tidak pernah lagi berani masuk terlalu dalam ke hutan Ubud. Penelitiannya tentang mitologi Bali berubah, kini lebih berfokus pada kekuatan tak terlihat yang melindungi tempat-tempat suci. Ia tahu, ada entitas di sana.

Malam-malam setelah itu, ia sering terbangun dengan rasa dingin yang aneh dan bisikan samar di telinganya. Ia tahu, sosok bayangan itu tidak akan pernah sepenuhnya meninggalkannya. Ia telah melihatnya.

Dan kini, ia adalah bagian dari rahasia hutan itu. Sebuah misteri yang tak terpecahkan, sebuah peringatan akan kekuatan yang lebih tua dari manusia. Sosok bayangan di tengah Hutan Ubud itu tetap ada, abadi, mengawasi.

Setiap kali angin berdesir di antara pohon-pohon, Arya selalu bertanya-tanya. Apakah itu hanya angin, ataukah itu bisikan dari sosok yang tak berwujud? Sebuah penjaga, ataukah sesuatu yang lebih gelap?

Misteri itu tetap bersemayam dalam benaknya, sebuah bayangan abadi yang menemaninya. Dan di dalam keheningan Hutan Ubud, sosok hitam itu mungkin masih berdiri, menunggu pengunjung berikutnya yang berani melewati batas.

Sosok Bayangan di Tengah Hutan Ubud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *