Scroll untuk baca artikel
DIY

Taman Pelangi Menyimpan Satu Rahasia — Sosok Bertudung yang Selalu Datang Saat Hujan

9
×

Taman Pelangi Menyimpan Satu Rahasia — Sosok Bertudung yang Selalu Datang Saat Hujan

Share this article

Taman Pelangi Menyimpan Satu Rahasia — Sosok Bertudung yang Selalu Datang Saat Hujan

Taman Pelangi, sebuah oase warna di jantung kota, selalu memancarkan keceriaan. Lengkungan-lengkungan pelangi raksasa menjadi ikonnya, memantulkan cahaya matahari dalam spektrum warna yang memesona. Di antara tawa anak-anak dan bisikan angin di pepohonan rindang, sebuah bayangan muncul.

Bukan bayangan pepohonan atau awan yang melintas, melainkan sosok manusia. Sosok itu selalu mengenakan tudung gelap yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya tak pernah terlihat. Kehadirannya konsisten, nyaris seperti bagian tak terpisahkan dari lanskap taman itu sendiri.

Ardi, seorang fotografer lepas dengan mata jeli, adalah orang pertama yang benar-benar memperhatikannya. Awalnya, ia mengira sosok itu hanyalah pengunjung biasa yang mencari ketenangan. Namun, frekuensi kemunculannya yang rutin, selalu di waktu yang sama, mulai membangkitkan rasa ingin tahu yang aneh.

Setiap senja, saat cahaya matahari mulai meluruh, sosok bertudung itu akan muncul. Ia akan berdiri di dekat air mancur utama, mematung, menatap kosong ke arah danau buatan. Gerakannya nyaris tidak ada, seperti patung yang terbuat dari bayangan dan kesunyian.

Rasa ingin tahu Ardi berubah menjadi obsesi. Ia mulai mencatat setiap detail: pakaiannya yang selalu sama, posturnya yang membungkuk samar, dan aura melankolis yang terpancar kuat darinya. Tak pernah ada interaksi dengan siapa pun, tak pernah ada suara yang keluar dari balik tudungnya.

Ardi mencoba mendekat beberapa kali. Setiap langkah yang ia ambil untuk mempersempit jarak, sosok itu seolah merasakan. Sebelum Ardi mencapai radius tertentu, sosok itu akan berbalik perlahan, lalu menghilang ke dalam keramaian atau celah pepohonan, lenyap secepat bayangan yang tertelan malam.

Usahanya selalu gagal. Seolah Taman Pelangi memiliki perjanjian rahasia dengan sosok itu, melindunginya dari jangkauan dunia luar. Ardi mulai merasa frustrasi, namun rasa penasaran itu jauh lebih kuat. Ia mulai membawa kamera tele khusus, berharap bisa menangkap wajah di balik tudung itu.

Namun, setiap foto yang diambilnya selalu buram di bagian wajah. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang melindungi identitas sosok misterius tersebut. Hanya kegelapan pekat yang terpampang, menambah lapisan tebal pada misteri yang menyelimuti kehadiran sosok itu.

Orang-orang di sekitar Ardi menganggapnya gila. “Itu hanya orang aneh, Ardi,” kata Bima, penjaga taman. “Banyak orang aneh di kota ini.” Namun, Ardi tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar “orang aneh” pada sosok bertudung itu.

Suatu malam, Ardi memutuskan untuk menunggu lebih lama. Ia bersembunyi di balik semak rimbun, mengamati air mancur yang kini sepi. Angin berdesir, membawa bisikan dingin yang menusuk kulit, menambah ketegangan yang sudah mencekik.

Tepat pukul sembilan malam, sosok itu muncul kembali. Kali ini, gerakannya lebih lambat, lebih berat. Ia tidak berdiri di dekat air mancur, melainkan berjalan menuju sebuah bangku taman tua yang tersembunyi di balik pohon beringin raksasa.

Sosok itu duduk, diam. Ardi menahan napas, tangannya gemetar memegang kamera. Ini adalah kesempatan terbaiknya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Sosok itu menoleh perlahan, seolah tahu Ardi ada di sana, tersembunyi dalam kegelapan.

Meskipun wajahnya tak terlihat, Ardi merasakan tatapan itu menembus dirinya, menusuk hingga ke tulang. Udara di sekitarnya mendadak dingin, seolah energi tak kasat mata menyelimuti mereka berdua. Rasa takut mencekam Ardi, namun ia tak bisa bergerak.

Sosok itu kemudian mengangkat tangannya. Perlahan, sangat perlahan, ia meletakkan sesuatu di atas bangku. Benda itu kecil, berkilauan samar di bawah cahaya rembulan yang tipis. Setelah itu, sosok bertudung itu berdiri dan menghilang seperti kabut.

Ardi menunggu beberapa menit, jantungnya berdegup kencang. Ketika ia yakin sosok itu benar-benar pergi, ia bergegas menuju bangku tua itu. Di sana, ia menemukan sebuah liontin perak kusam, berukir inisial “S.A.” dan tanggal yang jauh, 15 Mei 1978.

Liontin itu terasa dingin di tangannya, dingin yang aneh, seolah ia baru saja ditarik dari kedalaman bumi. Ardi membawa pulang liontin itu, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Siapa “S.A.”? Mengapa tanggal itu begitu spesifik? Dan mengapa sosok bertudung itu meninggalkannya?

Pagi berikutnya, Ardi memulai penyelidikannya. Ia mengunjungi perpustakaan kota, menggali arsip-arsip lama, dan berbicara dengan para sesepuh kota. Ia mencari tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Taman Pelangi pada tahun 1978.

Akhirnya, ia menemukan sebuah artikel koran lama yang nyaris terlupakan. Berita itu menceritakan tentang hilangnya seorang anak perempuan bernama Sari Anindya—S.A.—di Taman Pelangi pada 15 Mei 1978. Sari hilang saat bermain petak umpet, dan jasadnya tak pernah ditemukan.

Artikel itu menyebutkan bahwa Sari terakhir kali terlihat bermain di dekat air mancur utama, tempat yang sama di mana sosok bertudung itu selalu muncul. Dan pohon beringin raksasa, di mana liontin itu ditemukan, adalah tempat persembunyian favorit Sari.

Sebuah kepingan teka-teki mulai menyatu, namun menciptakan lebih banyak pertanyaan. Apakah sosok bertudung itu adalah Sari yang telah dewasa? Atau arwahnya yang bergentayangan? Atau seseorang yang masih berduka atas kehilangannya?

Ardi kembali ke Taman Pelangi, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Keceriaan taman itu terasa semu, menyembunyikan lapisan kesedihan yang dalam. Ia mengamati air mancur, tempat yang dulu dianggapnya indah, kini terasa suram.

Malam itu, Ardi membawa liontin itu bersamanya. Ia duduk di bangku tua, menunggu. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah musim dingin telah tiba lebih awal. Ia merasakan tatapan, namun tidak melihat sosok itu.

Tiba-tiba, ia mendengar bisikan. Suara itu lembut, melankolis, nyaris tak terdengar, seolah terbawa angin malam. “Sari… pulang…” Bisikan itu datang dari arah air mancur. Jantung Ardi berdesir.

Ia bangkit, mengikuti suara itu. Langkahnya mantap, kali ini tanpa ragu. Ia tahu ia akan menemukan jawabannya, atau setidaknya, menghadapi kebenaran yang mengerikan. Ia sampai di tepi air mancur, tempat favorit sosok bertudung itu.

Di sana, di antara percikan air yang berkilauan, sosok itu berdiri. Lebih dekat dari sebelumnya, lebih nyata. Ardi bisa merasakan kehadirannya, energi dingin yang memancar kuat. Ia mengangkat liontin itu, membiarkannya berkilauan di bawah cahaya bulan.

“Sari?” bisik Ardi, suaranya nyaris tak terdengar. Sosok itu perlahan menoleh. Kali ini, tidak ada usaha untuk menghilang. Tudungnya tetap di tempatnya, namun Ardi merasakan ada sesuatu yang berubah.

Dari balik tudung itu, sebuah cahaya samar mulai berpendar. Bukan cahaya yang menerangi, melainkan cahaya yang menyerap, sebuah kekosongan yang menusuk. Dalam kekosongan itu, Ardi melihat bayangan, bukan wajah, melainkan sebuah siluet.

Siluet seorang anak kecil, melambaikan tangan dengan senyum samar. Lalu, siluet itu memudar, larut dalam cahaya yang lebih gelap, hingga tak ada lagi yang tersisa. Hanya kekosongan dan bisikan angin yang kini terdengar seperti tangisan.

Liontin di tangan Ardi terasa membeku, lalu perlahan menghangat. Ketika ia melihatnya lagi, ukiran inisial “S.A.” dan tanggal itu telah menghilang, digantikan oleh ukiran bunga lily yang layu. Taman Pelangi kini terasa lebih sepi, namun lebih berat.

Sosok bertudung itu tidak pernah muncul lagi. Taman Pelangi kembali ceria di siang hari, namun bagi Ardi, setiap senja, ia merasakan bisikan angin. Ia tahu, di balik tawa dan warna-warni itu, ada kisah yang terkubur, dijaga oleh bayangan yang tak akan pernah sepenuhnya menghilang.

Misteri sosok bertudung itu tak sepenuhnya terpecahkan. Ardi tak pernah melihat wajahnya, tak pernah tahu identitas pastinya. Namun, ia membawa sebuah kebenaran yang dingin: beberapa rahasia, terutama yang terlahir dari duka, akan selalu menemukan jalannya untuk kembali, menghantui tempat di mana mereka terkubur.

Sosok Bertudung di Taman Pelangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *