Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Sosok Hitam: Bayangan di Ujung Memori

58
×

Sosok Hitam: Bayangan di Ujung Memori

Share this article

Sosok Hitam: Bayangan di Ujung Memori

Sosok Hitam: Bayangan di Ujung Memori

Jalan itu membentang, urat nadi aspal yang sunyi. Hanya tiang listrik tua menjadi saksi bisu. Malam menelan semua warna, menyisakan hitam pekat dan kelabu. Di situlah ia muncul, tanpa peringatan, tanpa suara.

Ia adalah anomali murni. Sebuah siluet yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Sosok hitam itu meluncur, bukan berjalan, seolah tak terikat gravitasi dunia. Tiada wajah, tiada bentuk jelas, hanya massa bayangan bergerak.

Desas-desus tentangnya telah lama beredar. Bisikan lirih di kedai kopi tua, tatapan cemas para lansia. Sebuah legenda urban yang tak berani disebut terang-terangan. "Penjaga Memori yang Hilang," begitu sebagian orang menamainya.

Arya, sang penjaga malam di sebuah pabrik terbengkalai, mulanya menganggapnya ilusi. Kelelahan atau bias cahaya lampu jalan. Sebuah halusinasi yang muncul di antara kantuk dan dinginnya embun malam.

Namun, setiap malam, sosok itu hadir. Selalu pada jam yang sama, selalu di titik yang sama. Meluncur perlahan menyusuri jalan sepi itu, dari barat ke timur, tanpa pernah berbalik arah. Sebuah ritual misterius yang tak terpatahkan.

Kehadirannya membawa dingin menusuk tulang. Bukan dingin fisik yang biasa, melainkan kekosongan di relung jiwa. Arya mulai merasa ada yang terkikis. Bukan hanya waktu, tapi esensi keberadaannya.

Lampu jalan di sepanjang rute sosok itu kadang berkedip. Seolah energi mereka tersedot, redup sebelum kembali terang. Anjing-anjing liar tak pernah menggonggong saat ia melintas, hanya mencicit pelan, ketakutan yang tak terucap.

Arya mencoba merekamnya. Ponselnya ia arahkan, mencoba menangkap bukti. Namun, layar selalu menampilkan kegelapan total, atau distorsi aneh yang membuat bulu kuduk merinding. Seolah sosok itu menolak untuk terabadikan.

Rasa penasaran Arya berubah menjadi obsesi. Ia mulai mencatat. Waktu kemunculan, kecepatan pergerakan, bahkan detail samar dari lingkungan sekitar. Ia ingin menemukan pola, mencari tahu tujuannya.

Ia membaca buku-buku lama, mencari catatan sejarah lokal. Adakah cerita serupa di masa lalu? Ia menemukan beberapa, samar dan tak lengkap. Kisah tentang "bayangan yang melarutkan" atau "pencuri jejak langkah."

Setiap pagi, setelah sosok itu menghilang, Arya akan menyusuri rute yang sama. Mencari petunjuk, sisa-sisa keberadaannya. Ia tak pernah menemukan apa pun. Tiada jejak kaki, tiada aroma aneh, tiada apa pun.

Kecuali satu hal. Benda-benda kecil di pinggir jalan, yang Arya ingat ada di sana, kini lenyap. Sebuah kerikil dengan bentuk unik, sehelai daun kering yang mencolok, sebuah ranting patah. Mereka tidak dipindahkan, melainkan dihilangkan.

Bukan hanya benda fisik. Ingatan Arya sendiri mulai samar. Detail kecil dari hari sebelumnya, nama orang yang baru ia temui, letak kunci yang ia simpan. Semuanya menguap, meninggalkan kekosongan yang membingungkan.

Ia mencoba berbicara dengan rekan kerjanya. "Apa kau ingat kemarin aku cerita tentang…?" Kalimatnya sering menggantung. Rekannya menatap bingung, seolah Arya berbicara hal yang tak pernah ada.

Ketakutan mulai merayap. Sosok hitam itu tidak hanya melintas, ia mengambil. Ia menyerap apa yang dilupakan, dan dalam prosesnya, membuat kita melupakan lebih banyak lagi. Jalan sepi itu adalah jalur pembuangan ingatan.

Suatu malam, Arya memberanikan diri. Ia menunggu di tengah jalan, tepat di jalur sosok itu. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan. Ia ingin tahu, ingin menghentikan erosi ini.

Sosok itu muncul, meluncur mendekat tanpa suara. Kegelapan yang lebih pekat dari yang bisa dibayangkan. Arya merasakan dingin yang luar biasa, seolah udara di sekitarnya menguap. Kakinya terasa beku di tempat.

Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat. Ia mencoba melarikan diri, namun tubuhnya kaku. Sosok itu melintas, tepat melalui dirinya. Sebuah sensasi aneh, seperti gelombang kehampaan yang menembus jiwanya.

Arya terjatuh. Bukan karena dorongan fisik, melainkan karena rasa hampa yang tak tertahankan. Sebagian dari dirinya terasa lenyap. Sebuah memori penting, sebuah emosi mendalam, kini hanyalah kabut.

Saat ia bangkit, sosok itu sudah jauh di depannya, terus meluncur. Seolah tak ada yang terjadi, tak ada yang ia sentuh, tak ada yang ia ambil. Namun Arya tahu, ia telah kehilangan sesuatu yang tak bisa kembali.

Malam-malam berikutnya, Arya tak lagi hanya mengamati. Ia mulai merasa dirinya adalah bagian dari jalan itu. Menunggu, seperti tiang listrik dan kerikil. Menunggu untuk ikut terlarut.

Ia mencoba menulis. Mencatat semua yang ia alami, semua yang ia ingat. Sebuah perlawanan terakhir terhadap bayangan yang melarutkan. Namun, tangannya sering gemetar, dan kata-kata di halaman mulai kabur.

Ia melihat orang lain. Orang-orang yang lewat di jalan itu. Mereka juga tampak sedikit kosong. Tatapan mereka hampa, seolah sebagian dari jiwa mereka telah terhapus. Sosok itu tidak hanya bekerja di malam hari.

Dampak kehadirannya meluas. Nama-nama jalan berubah, bangunan-bangunan tua menghilang dari peta ingatan. Sejarah kota itu sendiri terasa seperti lembaran yang dirobek. Kekosongan merayap pelan.

Arya kini mengerti, sosok itu adalah manifestasi lupa. Sebuah entitas purba yang bertugas membersihkan dunia dari jejak-jejak yang tak lagi diinginkan, atau yang sudah terlalu lama tak diingat.

Ia adalah pengumpul kenangan yang terlupakan, namun proses pengumpulannya menciptakan lubang hitam dalam eksistensi. Ia bukan jahat, hanya ada. Dan keberadaannya adalah ancaman bagi setiap ingatan.

Suatu pagi, Arya bangun dengan perasaan aneh. Ia tak ingat kenapa ia ada di pabrik itu. Tak ingat namanya, atau siapa ia. Hanya ada satu bayangan samar di benaknya. Sebuah jalan sepi di malam hari.

Dan sebuah sosok hitam yang terus menyusurinya. Abadi, tak terhentikan, dan tak terelakkan. Ia adalah penjaga memori yang kini telah menjadi bagian dari memori itu sendiri. Menunggu untuk dilupakan.

Jalan itu masih membentang, urat nadi aspal yang sunyi. Tiang listrik tua masih menjadi saksi bisu. Dan setiap malam, Sosok Hitam itu masih meluncur, terus menyusuri, membawa serta serpihan-serpihan yang terlupa.

Mungkin suatu hari, jalan itu sendiri akan lenyap dari ingatan. Dan hanya sosok hitam itu yang tersisa. Sebuah bayangan abadi di tengah kehampaan yang tak terbatas, terus mencari apa yang bisa ia larutkan.

Sosok Hitam: Bayangan di Ujung Memori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *