Penenun Malam Hari: Benang Takdir yang Terurai
Di tengah pegunungan yang diselimuti kabut abadi, tersembunyi sebuah desa tua bernama Arumdalu. Desa ini sunyi, seolah waktu berhenti di sana, dan hanya ada satu suara yang secara teratur memecah keheningan malam. Suara itu adalah ketukan ritmis dari alat tenun kuno.
Namun, ketukan itu bukan berasal dari tangan manusia biasa. Penduduk Arumdalu menyebutnya “Penenun Malam Hari.” Sebuah legenda yang diwariskan turun-temurun, bisikan yang membuat bulu kuduk merinding setiap kali bulan purnama bersinar penuh di atas puncak gunung.
Aku, seorang peneliti folklor yang haus akan cerita-cerita takhayul, tiba di Arumdalu dengan skeptisisme. Penduduk desa menatapku dengan tatapan waspada, seolah aku membawa bencana. Mereka enggan berbagi cerita tentang penenun itu, hanya mengangguk ke arah bukit di ujung desa.
Di sana, berdiri sebuah gubuk reot yang hampir roboh, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan tua. Jendela-jendela gelapnya seperti mata kosong, menatap dingin ke arah desa. Dari sanalah, setiap malam tertentu, suara tenun itu berasal.
Malam pertama, aku hanya mendengar samar. Malam kedua, lebih jelas, seolah ada yang menarik benang-benang tak kasat mata. Ketukan itu seolah berdenyut, selaras dengan detak jantungku yang mulai tak menentu. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Penduduk desa, terutama yang lebih tua, selalu mengunci rapat pintu mereka setelah senja. Mereka menghindari kontak mata, menolak membahas apa pun yang berhubungan dengan gubuk itu. Ketakutan mereka nyata, menular seperti wabah.
Aku mulai mengamati. Setiap kali suara tenun itu terdengar, keesokan harinya selalu ada perubahan. Benda-benda kecil hilang dari rumah warga, ingatan samar-samar tentang seseorang yang pernah ada. Seolah ada bagian dari realitas yang perlahan terkikis.
Seorang wanita tua, Nenek Sari, akhirnya memberanikan diri berbicara. Matanya cekung, penuh kengerian. “Penenun itu… dia menenun takdir, Nak,” bisiknya, suaranya bergetar. “Tapi setiap benang yang ditariknya, ada harga yang harus dibayar.”
Dia bercerita tentang keponakannya yang hilang bertahun-tahun lalu. Malam sebelum menghilang, keponakannya mendengar suara tenun itu lebih keras dari biasanya. Pagi harinya, ia lenyap, dan semua orang di desa mulai melupakan keberadaannya.
Hanya Nenek Sari yang masih ingat samar-samar, seperti sehelai benang kusut dalam benaknya. Ingatan itu terasa menyakitkan, sebuah luka yang tak bisa sembuh. Dia percaya, Penenun Malam Hari telah menenun ulang takdir keponakannya.
Rasa penasaranku berubah menjadi kecemasan. Aku memutuskan untuk mendekati gubuk itu di siang hari. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk tulang, meskipun matahari bersinar terik. Aroma apek, debu, dan sesuatu yang sulit dijelaskan menguar kuat.
Aku melihat kain-kain usang tergantung di sekitar gubuk, sebagian sudah lapuk dimakan waktu. Polanya aneh, rumit, seperti jaring laba-laba raksasa. Ada nuansa suram pada setiap benangnya, seolah ditenun dari kesedihan dan kehilangan.
Malam itu, aku mempersiapkan diri. Bersenjatakan senter dan kamera, aku diam-diam menyelinap keluar dari penginapan. Kabut tebal menyelimuti Arumdalu, menelan suara langkahku. Suara tenun itu sudah terdengar, samar-samar, memanggil.
Semakin dekat, suara itu semakin keras, seperti detak jantung raksasa yang bergemuruh. Aku melihat cahaya redup memancar dari salah satu celah gubuk. Jantungku berdebar tak karuan, bercampur antara takut dan keinginan untuk tahu.
Aku mengintip melalui celah papan yang retak. Di dalam, sebuah sosok wanita duduk membelakangi, membungkuk di depan alat tenun raksasa. Rambutnya putih panjang terurai, hampir menyentuh lantai. Gerakannya ritmis, tanpa henti.
Tangannya bergerak dengan kecepatan luar biasa, menarik benang-benang yang tampak berkilauan di bawah cahaya remang. Benang-benang itu bukan benang biasa. Ada yang memancarkan cahaya redup, ada yang terlihat seperti kabut, ada pula yang gelap pekat.
Yang paling mengerikan adalah, benang-benang itu tampak berasal dari udara kosong, membentuk pola yang tak bisa kumengerti. Mereka terhubung ke gubuk itu sendiri, ke pepohonan di sekitarnya, bahkan seolah ke langit malam.
Tiba-tiba, sebuah benang yang tampak familiar muncul. Benang itu berkilauan dengan cahaya biru lembut, mengingatkanku pada kalung safir yang selalu dikenakan Nenek Sari. Penenun itu menarik benang itu dengan perlahan, dan aku merasa kedinginan.
Aku mendengar bisikan-bisikan samar, suara-suara yang tak kukenali, melayang di udara. Seolah gubuk itu dipenuhi dengan arwah-arwah yang terperangkap dalam benang-benang itu. Sebuah rasa panik mulai mencengkeramku.
Aku mundur perlahan, takut membuat suara. Tapi kemudian, aku tak sengaja menginjak ranting kering. Suara ‘krek’ itu memecah keheningan. Gerakan Penenun itu berhenti. Seluruh gubuk hening, sunyi mencekam.
Perlahan, sosok itu mulai berbalik. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melihat sepasang mata yang bersinar dalam gelap, bukan mata manusia. Mereka memancarkan cahaya kebiruan, dingin dan tanpa emosi, seperti bintang yang mati.
Wajahnya tertutup kerudung tipis, namun aku bisa merasakan tatapannya menembusku. Sebuah ketakutan primordial mencengkeramku. Bukan takut mati, tapi takut akan hal yang lebih buruk: kehilangan diriku sendiri, kehilangan ingatanku.
Aku berlari. Tanpa menoleh, tanpa memikirkan apa pun. Kabut terasa mengejarku, bisikan-bisikan di telingaku semakin keras. Aku hanya ingin keluar dari desa itu, keluar dari jangkauan benang-benang mengerikan itu.
Aku berhasil kembali ke penginapan, terengah-engah, tubuhku gemetar tak terkendali. Aku mengunci pintu dan jendela, lalu meringkuk di sudut kamar. Suara tenun itu masih terngiang, beresonansi dalam benakku.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan aneh. Ada celah dalam ingatanku, seperti sebuah halaman yang dirobek dari buku. Aku mencoba mengingat detail malam itu, tapi ada kabut tebal yang menghalanginya.
Aku ingat gubuk itu, suara tenunnya, mata biru yang dingin. Tapi wajahnya, kerudungnya, detail benang-benang itu—semuanya samar, seperti mimpi buruk yang hampir terlupakan. Aku telah melihatnya, tapi sebagian dari penglihatanku telah diambil.
Aku segera meninggalkan Arumdalu. Penduduk desa menatapku dengan tatapan aneh, seolah ada sesuatu yang berbeda dariku. Mungkin mereka tahu apa yang telah terjadi, apa yang telah diambil dariku.
Aku kembali ke kehidupan lamaku, tapi ada yang berubah. Terkadang, aku menemukan diriku menatap kosong ke dinding, mencoba mengingat sesuatu yang penting, tapi tak bisa. Seperti ada bagian dari diriku yang hilang, ditenun pergi.
Suara ketukan alat tenun itu terkadang masih kudengar di malam hari, jauh di balik keheningan kota. Itu adalah pengingat bahwa Penenun Malam Hari masih ada, di gubuknya yang terpencil, terus menenun takdir.
Dan setiap kali kudengar, aku bertanya-tanya: benang takdir siapa yang sedang ia tarik malam ini? Dan apa lagi yang akan hilang dari dunia, atau dari diriku, saat fajar tiba? Misteri Penenun Malam Hari akan selalu menghantuiku.






