Di jantung pegunungan Jawa Barat, tersembunyi sebuah jalan yang membelah keheningan. Jalan Cugenang, namanya, adalah sebuah lintasan berliku. Ia diselimuti kabut tebal saat malam tiba.
Pepohonan tua menjulang tinggi di kedua sisinya. Dedaunan lebatnya membentuk kanopi gelap. Kanopi itu seolah menelan cahaya bulan. Udara dingin pegunungan selalu menyapa di sana.
Namun, bukan hanya dinginnya alam yang membuat bulu kuduk berdiri. Ada sebuah kisah yang berbisik dari mulut ke mulut. Kisah itu telah menjadi legenda kelam.
Jalan Cugenang menyimpan misteri tersendiri. Sebuah misteri yang dibungkus kabut pekat. Ia menghantui setiap jiwa yang berani melintasinya.
Penduduk setempat enggan membicarakannya terang-terangan. Namun, sorot mata mereka tak bisa menyembunyikan ketakutan. Ketakutan akan “Sosok Putih” yang mereka sebut-sebut.
Desas-desus ini bukanlah cerita baru. Sudah bertahun-tahun lamanya beredar. Kisah itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Para pengendara malam, sopir truk, bahkan pejalan kaki, punya cerita serupa. Mereka semua mengaku pernah melihatnya. Sebuah penampakan yang tak bisa dijelaskan akal sehat.
Sosok itu selalu muncul tiba-tiba. Wujudnya samar, nyaris transparan. Namun warnanya putih bersih, kontras dengan kegelapan malam.
Ia kerap berdiri di pinggir jalan. Terkadang ia terlihat berjalan perlahan. Ia bergerak tanpa suara, seperti bayangan yang melayang.
Banyak yang awalnya mengira itu hanya ilusi optik. Mungkin pantulan cahaya. Atau sekadar bias kabut tebal yang menyelimuti Cugenang.
Namun, semakin banyak kesaksian yang terkumpul. Semakin sulit pula untuk menyangkal keberadaannya. Sosok itu nyata bagi mereka yang pernah melihatnya.
Sopir truk bernama Mang Ujang adalah salah satu saksi. Malam itu, hujan baru saja reda. Kabut tebal turun menyelimuti jalan.
Lampu sorot truknya menembus kegelapan. Tiba-tiba, di tikungan tajam, sebuah bayangan putih terlihat. Bayangan itu berdiri di tengah jalan.
Mang Ujang sontak menginjak rem. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengira akan menabrak seseorang.
Namun, ketika truknya berhenti, bayangan itu lenyap. Secepat kilat, ia menghilang. Tidak ada jejak, tidak ada suara.
Hanya ada keheningan mencekam. Keheningan itu ditemani dinginnya udara malam. Mang Ujang gemetar hebat.
Kisah Mang Ujang bukanlah yang pertama. Seorang pasangan muda, Budi dan Sari, juga pernah mengalaminya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Saat melintas di Cugenang, mesin mobil mereka tiba-tiba mati. Suasana langsung menjadi gelap. Hanya ditemani cahaya remang-remang dari dasbor.
Sari, yang duduk di kursi penumpang, menoleh ke jendela. Ia melihatnya. Sebuah sosok putih berdiri di balik pepohonan.
Sosok itu menatap lurus ke arah mereka. Matanya tidak terlihat jelas. Namun, tatapannya terasa menusuk, dingin, dan kosong.
Rambut Sari berdiri tegak. Ia mencengkeram lengan Budi. “Lihat, Budi! Itu dia!” bisiknya panik.
Budi ikut menoleh. Sosok itu masih di sana. Putih pucat, tinggi menjulang. Ia seolah menyatu dengan kabut.
Mereka berdua terpaku di dalam mobil. Tak bisa bergerak. Rasa takut melumpuhkan seluruh indra mereka.
Beberapa detik kemudian, sosok itu melayang pergi. Ia menembus pepohonan. Lalu menghilang di antara belantara malam.
Anehnya, tepat setelah sosok itu lenyap, mesin mobil Budi kembali menyala. Seperti tidak ada yang terjadi. Namun, trauma itu membekas.
Penduduk setempat percaya, Sosok Putih itu adalah penjaga. Penjaga yang tak kasat mata di Jalan Cugenang. Ia hadir untuk alasan yang tak mereka pahami.
Ada yang mengatakan ia adalah arwah penasaran. Arwah dari korban kecelakaan di jalan itu. Jiwanya terperangkap di antara dunia nyata dan gaib.
Ada pula yang berpendapat, ia adalah entitas purba. Entitas yang menghuni hutan di sana. Ia merasa terganggu oleh kehadiran manusia.
Polisi setempat telah menerima beberapa laporan. Laporan tentang penampakan ini. Namun, mereka tak pernah menemukan bukti konkret.
Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak kaki. Kamera keamanan di beberapa titik jalan juga tak pernah merekamnya. Sosok itu terlalu elusif.
Bagi pihak berwenang, itu hanyalah histeria massa. Atau mungkin imajinasi liar para pengendara. Imajinasi yang diperkuat oleh suasana seram Cugenang.
Namun, para saksi bersikeras. Mereka telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pengalaman itu terlalu nyata untuk diabaikan.
Beberapa orang mencoba menyelidiki. Mereka sengaja melintasi Jalan Cugenang di malam hari. Berbekal kamera dan keberanian.
Mereka ingin membuktikan keberadaan Sosok Putih. Atau sebaliknya, membantah semua mitos yang ada. Mengungkap kebenaran di balik legenda.
Seorang mahasiswa bernama Rio adalah salah satunya. Ia seorang yang rasional. Tidak percaya pada hal-hal mistis.
Rio menghabiskan beberapa malam di Jalan Cugenang. Ia memarkir mobilnya di titik-titik sepi. Menunggu dengan sabar.
Malam pertama dan kedua, tidak ada yang terjadi. Hanya dingin dan sepi yang menemaninya. Rio mulai merasa skeptis.
Namun, pada malam ketiga, segalanya berubah. Kabut tebal turun lebih pekat dari biasanya. Jarak pandang sangat terbatas.
Rio merasa hawa dingin yang menusuk. Bukan hanya dingin fisik. Tapi dingin yang merasuk ke tulang.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Di ujung jalan, sekitar seratus meter di depannya. Sebuah siluet putih yang samar.
Siluet itu bergerak perlahan. Melayang di atas aspal. Tanpa suara, tanpa jejak.
Jantung Rio berdebar tak karuan. Ia meraih kameranya. Mengaktifkan mode perekaman.
Namun, saat ia fokus pada sosok itu, pandangannya kabur. Kepalanya terasa pusing. Tubuhnya kaku, tak bisa bergerak.
Sosok putih itu semakin mendekat. Wujudnya menjadi sedikit lebih jelas. Tinggi, langsing, dan berwarna putih pucat.
Rio merasa seolah ada kekuatan tak terlihat. Kekuatan itu menguncinya di dalam mobil. Ia hanya bisa menatap ngeri.
Ketika Sosok Putih itu berada sekitar sepuluh meter di depannya, ia berhenti. Ia memutar kepalanya perlahan. Seolah menatap Rio.
Rio merasakan tatapan kosong itu. Dingin dan menusuk. Ia merasakan ketakutan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Lalu, secepat kilat, sosok itu lenyap. Ia menghilang ke dalam kabut. Seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.
Rio terdiam beberapa saat. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia memeriksa rekaman kameranya. Layar menunjukkan kegelapan. Hanya ada kabut tebal. Tidak ada Sosok Putih.
Ia mencoba lagi. Memutar ulang rekaman itu berkali-kali. Hasilnya tetap sama. Tidak ada apa-apa.
Rio tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Ia tahu apa yang ia lihat. Namun, buktinya lenyap begitu saja.
Sejak saat itu, Rio tidak pernah lagi berani menyelidiki. Ia kini percaya pada legenda itu. Misteri Sosok Putih di Cugenang.
Kisah-kisah ini terus berkembang. Menambah lapisan misteri pada Jalan Cugenang. Menjadikannya salah satu tempat paling angker.
Banyak yang memilih memutar jauh. Mereka menghindari jalan itu di malam hari. Daripada harus berhadapan dengan bayangan putih itu.
Jalan Cugenang kini bukan hanya sekadar jalur transportasi. Ia adalah ambang batas. Ambang batas antara dunia nyata dan alam lain.
Sosok Putih itu tetap menjadi teka-teki. Ia adalah bayangan yang menghantui. Sebuah misteri tak terpecahkan.
Apakah ia penunggu? Arwah penasaran? Atau hanya sebuah manifestasi dari ketakutan manusia? Tidak ada yang tahu pasti.
Yang jelas, setiap kali kabut turun di Cugenang, cerita itu kembali hidup. Bisikan-bisikan tentang Sosok Putih.
Ia terus menghantui imajinasi. Dan membuat setiap perjalanan malam di Jalan Cugenang. Sebuah pengalaman yang menegangkan dan tak terlupakan.
Hingga hari ini, misteri Sosok Putih itu tetap ada. Terbungkus dalam keheningan malam. Dan diselimuti kabut abadi Cugenang.





