Bisikan Malam yang Menggila: Sebuah Misteri di Keheningan
Malam selalu membawa ketenangan palsu bagi Arif. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, namun kantuk enggan mendekat. Hanya desiran angin yang sesekali menyapa jendela, memecah keheningan yang pekat. Ini adalah rutinitas malamnya, terperangkap dalam lingkaran insomnia.
Namun, malam itu ada yang berbeda. Sebuah suara. Sangat samar, hampir tak terdengar oleh telinga biasa. Arif menajamkan pendengarannya, mencoba mengidentifikasi. Ia mengira itu hanya imajinasinya, hasil dari pikiran yang lelah dan terjaga terlalu lama.
Malam berikutnya, suara itu kembali lagi. Kali ini, ia sedikit lebih jelas. Bukan sekadar desiran angin atau gesekan dahan pohon. Ada ritme aneh di dalamnya, seperti bisikan yang tertahan, lalu disusul lenguhan rendah yang sulit didefinisikan.
Arif bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju jendela kamarnya, menatap keluar ke arah pekatnya malam. Jalanan sepi, lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning remang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar sana, hanya kegelapan yang menelan segalanya.
Suara itu terdengar lagi, lebih dekat, lebih nyata. Kali ini, ia bisa merasakan getarannya di udara. Sebuah desisan basah, diikuti gesekan logam yang berkarat, lalu derit panjang yang menusuk kalbu. Jantung Arif berpacu, merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Ia mencoba meyakinkan dirinya. Mungkin kucing berkelahi? Atau mungkin anjing tetangga? Namun, suara itu terlalu kompleks, terlalu… asing. Tidak seperti suara hewan yang pernah didengarnya. Ada nada keputusasaan dan kekejaman di sana.
Malam ketiga, suara itu menjadi lebih intens. Ia kini terdengar seperti lolongan yang tercekik, lalu berubah menjadi erangan yang menyerupai tangisan. Suara itu berulang-ulang, menghantui setiap sudut rumah Arif, merayap masuk ke dalam pikirannya.
Arif tidak bisa lagi mengabaikannya. Rasa ingin tahu yang menakutkan menggerogoti kewarasannya. Dari mana asal suara ini? Mengapa hanya dia yang mendengarnya? Atau apakah orang lain terlalu takut untuk mengakuinya?
Ia meraih senter dan jaket tebal. Pikirannya dipenuhi gambaran-gambaran tak masuk akal. Monster? Hantu? Atau sesuatu yang lebih buruk, sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya? Setiap langkahnya terasa berat.
Napas Arif tertahan di tenggorokan. Udara dingin menusuk paru-parunya. Ia melangkah keluar, menyusuri jalanan sepi yang diselimuti kabut tipis. Hanya cahaya rembulan yang samar-samar menerangi jalannya, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan.
Suara itu kini memanggilnya, seolah-olah memiliki tujuan. Ia tidak lagi samar, melainkan jelas dan menusuk. Berasal dari arah pinggiran kota, dekat dengan hutan yang lebat dan pabrik tua yang telah lama ditinggalkan.
Pabrik tua itu menjulang di hadapannya. Bangunan usang dengan jendela-jendela kosong, seperti mata yang menatap kosong ke kegelapan. Dari celah-celah retakan dindingnya, suara itu kini bergemuruh, memenuhi udara.
Arif melangkah hati-hati mendekati gerbang yang berkarat. Suara itu kini tidak hanya lolongan, tapi juga bisikan. Bisikan-bisikan yang tak jelas, seperti bahasa asing yang mengerikan, diucapkan dengan suara yang serak dan parau.
Ia mendorong gerbang, yang berderit keras. Suara itu mendadak berhenti. Keheningan yang tiba-tiba lebih mengerikan daripada suara itu sendiri. Arif menahan napas, senter di tangannya gemetar.
Lalu, suara itu kembali. Kali ini, sangat dekat. Dari dalam pabrik. Bukan hanya satu suara, melainkan banyak. Seperti paduan suara makhluk-makhluk tak dikenal, berbisik dan melenguh dalam kegelapan yang pekat.
Arif memberanikan diri masuk. Debu tebal menyelimuti lantai, jejak langkahnya menciptakan awan-awan kecil. Bau karat, lumut, dan sesuatu yang busuk menusuk hidungnya. Suara itu membimbingnya, semakin dalam ke jantung pabrik.
Ia tiba di sebuah ruangan besar yang kosong. Dinding-dindingnya retak, langit-langitnya hampir roboh. Di tengah ruangan, sebuah mesin besar berkarat berdiri tegak, tertutup jaring laba-laba. Dan di sanalah suara itu paling jelas.
Suara itu kini menyerupai ratapan, diselingi bunyi “krek-krek” seperti tulang yang patah, dan “pluk-pluk” seperti tetesan darah. Arif menyalakan senternya ke segala arah, mencoba menemukan sumbernya yang mengerikan.
Lalu, matanya menangkap sesuatu. Di balik mesin berkarat itu, ada sebuah celah gelap. Dari celah itulah suara-suara itu berasal, seolah-olah ada sesuatu yang terperangkap di dalamnya, meronta-ronta dengan putus asa.
Arif melangkah mendekat, jantungnya berdegup tak karuan. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Ia mengarahkan senternya ke dalam celah. Kegelapan di dalamnya tampak tak berujung, seperti jurang yang menelan cahaya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan bergerak di dalam celah. Cepat, besar, dan aneh. Arif hanya bisa menangkap sekilas bentuknya, namun cukup untuk membuat darahnya berdesir dingin. Ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Siluet itu tampak tidak proporsional, dengan anggota tubuh yang terlalu panjang dan bentuk kepala yang tidak wajar. Matanya, jika itu mata, memancarkan kilau merah samar dalam kegelapan. Sebuah geraman rendah terdengar, jauh lebih mengerikan dari suara-suara sebelumnya.
Arif tidak menunggu lagi. Ketakutan yang membeku mencengkeramnya, memerintahkannya untuk lari. Ia berbalik, berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan kengerian itu di belakangnya. Suara-suara itu mengejarnya, membisikkan ancaman di telinganya.
Ia tidak berhenti sampai tiba di rumahnya. Mengunci pintu dan jendela, terengah-engah, tubuhnya gemetar tak terkendali. Malam itu, ia tidak bisa tidur sama sekali, dihantui oleh bayangan dan suara yang baru saja ia alami.
Keesokan harinya, Arif mencoba menceritakan pengalamannya. Kepada tetangga, kepada polisi, kepada siapa pun yang mau mendengar. Namun, ia hanya disambut tatapan curiga dan senyum meremehkan. “Mungkin hanya mimpi buruk, Nak,” kata mereka.
Kisah Arif dianggap delusi, mimpi buruk. Tidak ada yang mempercayainya, kecuali pantulan matanya sendiri di cermin. Mata yang kini selalu dihantui oleh bayangan siluet itu, dan telinga yang selalu menangkap gema bisikan-bisikan mengerikan.
Arif tidak pernah kembali ke pabrik tua itu. Namun, ia tahu. Ia tahu apa yang ia dengar. Ia tahu apa yang ia lihat. Dan ia tahu bahwa sesuatu yang tidak dikenal itu masih ada di sana, tersembunyi dalam kegelapan.
Kadang, di tengah keheningan malam, ia bersumpah masih mendengarnya. Bisikan samar, ritme aneh. Suara aneh dari malam yang tidak akan pernah ia lupakan. Dan setiap kali ia mendengarnya, ia tahu, ia tidak sendirian lagi dalam kegelapan.





