Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Malam di Toraja Tiba-Tiba Dipenuhi Suara Aneh… Bukan dari Manusia

9
×

Malam di Toraja Tiba-Tiba Dipenuhi Suara Aneh… Bukan dari Manusia

Share this article

Malam di Toraja Tiba-Tiba Dipenuhi Suara Aneh… Bukan dari Manusia

Bisikan dari Kedalaman Malam: Misteri Suara Aneh di Toraja

Toraja, sebuah permata di jantung Sulawesi Selatan, adalah negeri yang dipeluk pegunungan. Siang harinya, lembah-lembahnya dipenuhi riuh tawa dan gemerisik padi, memantulkan keindahan budaya yang megah dan kuno. Udara bersih pegunungan menyelimuti desa-desa tradisional.

Namun, saat tirai senja perlahan turun, membawa serta kabut dingin yang merayap dari puncak-puncak, Toraja seolah berganti rupa. Keheningan yang tadinya menenangkan, kini berubah menjadi selimut yang menyimpan ribuan rahasia. Malam di Toraja adalah kanvas misteri.

Aku, seorang penulis yang haus akan kisah-kisah tak biasa, tiba di sana dengan harapan menemukan inspirasi. Namaku Adrian, dan tujuanku adalah mendalami kebudayaan lokal, namun yang kutemukan jauh melampaui ekspektasiku. Toraja menyuguhkan sebuah enigma yang takkan pernah kulupakan.

Penginapan kecilku terletak di tepi desa, dikelilingi rimbunnya pohon kopi dan sawah berundak. Malam pertama, hening menyapa, hanya dihiasi suara serangga malam. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

Menjelang tengah malam, suara pertama itu muncul. Samar, seperti erangan panjang yang ditiupkan angin. Aku mengira itu hanya suara hewan hutan, mungkin babi liar atau burung hantu yang sedang berburu. Aku mencoba mengabaikannya.

Malam kedua, suara itu kembali, lebih jelas. Bukan lagi erangan samar, melainkan desahan panjang yang terdengar begitu pilu. Seperti rintihan yang tertahan, penuh duka dan penderitaan. Bulu kudukku mulai meremang.

Aku membuka jendela kamarku. Udara dingin menerpa wajahku, membawa serta aroma tanah basah dan daun-daun kering. Di kejauhan, hutan lebat tampak seperti siluet raksasa yang menelan cahaya rembulan. Suara itu berasal dari sana.

Beberapa malam berikutnya, suara itu menjadi rutinitas. Ia selalu datang setelah jam dua pagi. Kadang terdengar seperti bisikan berantai, kadang seperti tangisan bayi yang tersesat, namun paling sering adalah erangan pilu yang menusuk kalbu.

Aku mulai bertanya-tanya pada penduduk lokal. Setiap kali kusebutkan “suara aneh di malam hari,” wajah mereka berubah. Senyum ramah menghilang, digantikan ekspresi ketidaknyamanan, bahkan ketakutan. Mereka selalu mengalihkan pembicaraan.

Seorang wanita tua bernama Nenek Lena, yang menjual tenun di pasar, akhirnya memberanikan diri. Matanya yang keriput menatapku tajam. “Jangan mencari tahu, Nak,” bisiknya, suaranya serak. “Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tersembunyi.”

“Tapi suara apa itu, Nek?” desakku, penasaran. “Apakah ada legenda?” Nenek Lena menggeleng pelan. “Itu bukan legenda, itu kenyataan. Suara dari mereka yang belum tenang. Roh-roh yang mencari jalan pulang.”

Penjelasan Nenek Lena bukannya menenangkan, malah semakin memicu rasa penasaranku. Roh-roh yang belum tenang? Toraja memang terkenal dengan ritual kematiannya yang unik, Rambu Solo’. Apakah ini ada hubungannya?

Aku mulai mencari informasi lebih dalam. Membaca buku-buku tentang kepercayaan Aluk Todolo, adat istiadat Toraja kuno. Aku belajar tentang Puang Matua, dewa pencipta, dan Poya, alam arwah yang gelap. Aku belajar tentang Tau-tau, patung kayu yang dibuat menyerupai orang mati.

Malam itu, tekadku bulat. Aku harus mencari tahu sumber suara itu. Dengan senter kecil dan kamera di tangan, aku menyelinap keluar penginapan saat suara erangan itu kembali. Udara terasa dingin dan menusuk tulang.

Langkah kakiku berhati-hati di jalan setapak yang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan sesekali menembus celah pepohonan. Suara itu menjadi panduanku. Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas dan mengental suara pilu itu.

Ia terdengar seperti desahan kolektif, seperti paduan suara dari kesedihan yang tak berkesudahan. Aku melewati deretan Tongkonan, rumah adat beratap perahu, yang tampak seperti raksasa tidur dalam gelap. Tak ada lampu menyala.

Suara itu menuntunku ke arah sebuah bukit kecil, tempat pemakaman kuno berada. Di sana, tebing-tebing batu dipahat menjadi liang kubur, dengan peti mati tergantung atau tersimpan di dalamnya. Patung-patung Tau-tau berdiri tegak, seolah mengawasi.

Jantungku berdebar tak karuan. Suara itu kini begitu dekat, bergetar di udara, meresap ke dalam pori-pori kulitku. Aku bisa merasakan dingin yang bukan berasal dari suhu, melainkan dari kehadiran yang tak kasat mata.

Aku mematikan senterku, hanya mengandalkan cahaya rembulan yang samar. Di antara bayangan Tau-tau yang menjulang, aku melihat sesuatu bergerak. Bukan gerakan yang jelas, melainkan seperti bayangan yang meliuk, tak berbentuk.

Erangan itu kini terdengar seperti bisikan tepat di telingaku. Aku merasa seolah ada napas dingin menyentuh tengkukku. Tubuhku membeku, tak bisa bergerak. Mataku terpaku pada bayangan yang menari di antara makam-makam batu.

Aku mendengar nama-nama yang diucapkan dalam bisikan, nama-nama yang tak kukenal, namun terdengar begitu familiar. Seolah-olah mereka memanggil, mengajakku bergabung dalam kesedihan abadi mereka. Keringat dingin membasahi punggungku.

Tiba-tiba, salah satu Tau-tau seolah menoleh. Matanya yang kosong, terbuat dari kayu, tampak berkilat di bawah rembulan. Aku bisa bersumpah aku melihatnya. Suara erangan itu berubah menjadi tawa serak yang menusuk.

Ketakutan yang tak tertahankan memenuhi diriku. Ini bukan lagi sekadar suara, ini adalah interaksi. Aku merasa ditarik, seolah-olah sesuatu yang tak terlihat mencoba meraihku, menyeretku ke dalam kegelapan abadi di antara makam-makam itu.

Aku menjatuhkan senterku. Kamera di tanganku bergetar hebat. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berbalik dan berlari. Lari sekuat tenaga, tanpa menoleh ke belakang, tanpa memikirkan apa pun kecuali keselamatan.

Suara erangan dan tawa itu mengejarku, bergaung di telingaku, seolah takkan pernah berhenti. Aku berlari menembus kegelapan, melewati pohon-pohon, hingga napasku tersengal dan kakiku terasa lumpuh. Aku tidak berhenti sampai aku tiba di penginapan.

Aku mengunci pintu, menggeser lemari kecil di depannya. Napasku terengah-engah, tubuhku gemetar hebat. Aku tak berani menyalakan lampu, hanya meringkuk di pojok ruangan, menunggu fajar tiba. Setiap bayangan adalah ancaman.

Malam itu adalah malam terpanjang dalam hidupku. Suara-suara itu masih berputar di kepalaku, bisikan-bisikan dingin dan tawa yang menggema. Aku tahu, apa pun yang ada di sana, ia tidak ingin aku kembali.

Keesokan paginya, aku mengemasi barang-barangku. Aku tidak peduli dengan inspirasi atau risetku lagi. Aku hanya ingin pergi dari Toraja, dari bisikan-bisikan malamnya yang mengerikan. Aku ingin kembali ke dunia yang rasional.

Sebelum pergi, aku bertemu Nenek Lena di pasar. Dia menatapku dengan tatapan penuh pengertian. “Kau mendengarnya, bukan?” katanya pelan. Aku hanya mengangguk, terlalu gemetar untuk bicara.

“Mereka ada di mana-mana, Nak,” lanjutnya. “Toraja adalah tanah leluhur. Yang hidup dan yang mati berjalan beriringan. Terkadang, batasnya menjadi tipis. Terkadang, mereka ingin didengar.”

Aku tak tahu apakah aku percaya pada hantu atau roh, tapi apa yang kurasakan dan kudengar di malam itu adalah nyata. Itu adalah pengalaman yang tak bisa dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan. Toraja telah menunjukkan sisi gelapnya.

Aku meninggalkan Toraja dengan membawa beban ketakutan dan pertanyaan tak terjawab. Suara-suara itu masih menghantuiku dalam mimpi. Erangan pilu, tawa serak, bisikan-bisikan yang tak jelas artinya.

Misteri suara aneh di malam hari Toraja tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan bagiku. Mungkin itu adalah manifestasi dari energi kuno, kesedihan yang terakumulasi selama berabad-abad, atau memang arwah-arwah yang mencari kedamaian.

Yang jelas, Toraja bukan hanya tentang keindahan budaya dan alamnya. Ia juga menyimpan sisi gelap, sisi yang mistis, yang hanya terungkap saat malam tiba. Sisi yang membisikkan rahasia dari kedalaman kegelapan.

Dan bisikan itu, aku yakin, akan terus berlanjut. Akan terus menghantui setiap malam di lembah-lembah Toraja, menunggu siapa pun yang berani mendengarkan. Menunggu siapa pun yang berani mendekat dan mencari tahu.

Hingga kini, aku masih bisa merasakan dinginnya udara malam Toraja, dan mendengar erangan pilu itu. Sebuah pengingat abadi bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang melampaui pemahaman kita, menunggu di balik tabir kegelapan.

Suara Aneh di Malam Hari Toraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *