Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Suara Azan Saat Hutan Sudah Sunyi

9
×

Suara Azan Saat Hutan Sudah Sunyi

Share this article

Suara Azan Saat Hutan Sudah Sunyi

Azan di Jantung Kegelapan: Misteri Rimba Patih

Hutan Rimba Patih membentang tak terbatas, sebuah kanopi hijau yang menelan cahaya. Di sana, sunyi adalah raja, sebuah keheningan absolut yang menekan. Hanya desir angin di antara dedaunan kuno yang kadang memecah belahnya, seolah berbisik rahasia-rahasia lama yang terkubur.

Arif, seorang peneliti botani, mendapati dirinya semakin dalam. Misinya adalah mencari anggrek hitam langka, legenda dari masa lalu. Ia telah menghabiskan berhari-hari, jejaknya memudar di antara akar-akar raksasa dan lumut tebal yang menutupi segalanya.

Malam mulai merayap, menenggelamkan Rimba Patih dalam kegelapan pekat. Arif mendirikan tendanya di sebuah dataran kecil, dikelilingi oleh pohon-pohon purba yang menjulang. Ia menyalakan api unggun, nyalanya menari-nari, seolah satu-satunya detak jantung di tengah belantara yang membeku.

Keheningan malam itu berbeda. Ia terasa lebih pekat, lebih menindas. Suara serangga pun enggan muncul. Arif bisa merasakan bulu kuduknya berdiri, seolah ada mata tak terlihat yang mengawasinya dari balik bayang-bayang pepohonan.

Tiba-tiba, sebuah suara melayang. Samar, hampir tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat Arif menegang. Itu adalah suara azan, panggilan suci untuk salat. Ia mengernyit, mencoba memahami.

Di tengah hutan yang tak berpenghuni, ratusan kilometer dari peradaban, suara azan? Mustahil. Arif menggelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa itu hanya khayalannya, mungkin kelelahan yang mulai menguasai pikirannya.

Namun, suara itu datang lagi. Kali ini lebih jelas, lebih kuat, seolah mendekat. Nada-nadanya merdu, namun entah mengapa, membangkitkan rasa takut yang mencekam. Arif mematikan senternya, membiarkan kegelapan menelannya, mencoba mendengarkan lebih seksama.

Azan itu kini terdengar penuh, seolah dikumandangkan tepat di luar tendanya. Sebuah gema yang tak wajar, terlalu sempurna untuk hutan belantara. Arif meraih pisau saku, jantungnya berdegup kencang memukul-mukul dadanya.

Ia mengintip dari celah tenda. Kegelapan di luar begitu pekat, tidak ada satu pun cahaya terlihat. Pohon-pohon menjulang tinggi, siluetnya menyerupai raksasa-raksasa yang siap menerkam. Namun, suara azan itu seolah datang dari segala arah.

"Siapa di sana?" bisik Arif, suaranya tercekat. Tidak ada jawaban, hanya azan yang terus bergema, kini terasa mengelilinginya, memeluknya dalam irama mistis. Itu bukan azan biasa. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang sangat keliru.

Azan itu terdengar seperti memanggil, bukan hanya umat, tapi Arif secara pribadi. Seolah setiap kata ditujukan padanya, menariknya ke dalam jantung kegelapan Rimba Patih. Ketakutan Arif berubah menjadi rasa penasaran yang tak tertahankan.

Ia harus menemukan sumbernya. Dengan senter di tangan, Arif keluar dari tenda. Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Ia melangkah hati-hati, mengikuti suara azan yang kini seolah menuntunnya, seperti nyanyian siren yang mematikan.

Pohon-pohon menjulang tinggi, batangnya membentuk terowongan gelap. Cahaya senter Arif hanya mampu menembus sedikit kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan menari yang menyesatkan. Azan itu semakin kuat, membanjiri indranya.

Ia melangkah lebih dalam, kakinya terjerat akar-akar licin dan lumut tebal. Kompas di tangannya berputar liar, jarumnya menari-nari tanpa arah. Arah azan itu pun terasa berubah-ubah, kadang di depan, kadang di belakang, seolah mempermainkannya.

Arif mulai merasa sesat. Ia telah kehilangan jejak tendanya, dan kini hanya azan itu yang menjadi satu-satunya petunjuk. Namun, petunjuk itu terasa seperti sebuah jebakan, tarikan tak terlihat menuju jurang misteri yang lebih dalam.

Suara azan itu kini terdengar seperti berbisik, seolah langsung di telinganya. "Allahu Akbar… Allahu Akbar…" Namun, di antara kata-kata suci itu, Arif mendengar suara lain, suara gemerisik, seolah ada sesuatu yang mengikutinya.

Ia berbalik dengan cepat, mengarahkan senternya ke semak-semak. Tidak ada apa-apa, hanya kegelapan dan keheningan yang kembali menelan. Namun, sensasi diawasi itu tak pernah hilang, malah semakin kuat.

Pohon-pohon di sekelilingnya tampak hidup. Cabang-cabangnya seolah merunduk, bayangannya memanjang, menyerupai tangan-tangan kurus yang ingin meraihnya. Arif mempercepat langkah, panik mulai merayapi benaknya.

Ia tiba di sebuah celah sempit, antara dua tebing batu raksasa yang diselimuti lumut. Azan itu kini memekakkan telinga, bergema di antara dinding batu, seolah sumbernya ada di balik celah itu. Arif ragu, namun dorongan misteri terlalu kuat.

Ia merangkak masuk, senternya berkedip-kedip, hampir mati. Di ujung celah, sebuah ruang terbuka. Bukan clearing yang terang, melainkan sebuah cekungan gelap yang dipenuhi kabut tipis. Dan di tengahnya, berdiri sebuah pohon raksasa.

Pohon itu begitu besar, batangnya selebar rumah, dan dahan-dahannya menjulang hingga tak terlihat puncaknya. Ada ukiran-ukiran aneh di batangnya, simbol-simbol kuno yang tidak Arif kenali, seolah mantra-mantra yang telah dilupakan zaman.

Azan itu kini berasal dari pohon itu, dari setiap serat kayunya. Suaranya bukan lagi merdu, melainkan sebuah pekikan hantu, sebuah raungan yang menyakitkan telinga. "Allahu Akbar!" teriak azan itu, namun disusul oleh suara desisan dan rintihan yang menyeramkan.

Arif terhuyung mundur, napasnya tercekat. Itu bukan azan dari manusia. Itu adalah suara dari sesuatu yang bukan manusia, sesuatu yang sangat tua dan mengerikan, terperangkap di dalam pohon itu, atau mungkin, menjadi bagian dari pohon itu.

Dari celah di batang pohon, Arif melihat sesuatu. Bukan wujud jelas, melainkan kilatan cahaya aneh, berpendar dalam kegelapan. Sekilas, ia melihat sepasang mata merah menyala, dan bayangan hitam yang bergerak cepat di dalamnya.

Suara azan itu berubah menjadi deru angin kencang, menyerbu Arif, mendorongnya mundur. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah jiwanya ditarik keluar dari raganya. Ia berbalik, mencoba melarikan diri, namun kakinya terasa kaku.

Bayangan-bayangan dari pohon itu memanjang, mencoba meraihnya. Arif jatuh tersungkur, senternya terlempar. Ia merangkak dalam kegelapan, suara azan yang kini menyerupai tawa serigala menggelegar di belakangnya, memburunya.

Ia tidak tahu bagaimana, namun ia berhasil menemukan jalan kembali ke celah tebing. Ia merangkak keluar, napasnya terengah-engah, paru-parunya serasa terbakar. Azan itu masih mengejarnya, menggema di hutan, namun kini terasa lebih jauh.

Arif berlari tanpa arah, menembus semak-semak, melompati akar-akar. Ia tidak lagi mempedulikan anggrek hitam, tidak mempedulikan arah. Yang ia inginkan hanyalah keluar dari Rimba Patih, keluar dari cengkeraman suara azan itu.

Malam terasa begitu panjang, seolah tak berujung. Suara azan itu terus terngiang di telinganya, kadang keras, kadang samar, seolah mempermainkan kewarasannya. Ia jatuh bangun, tubuhnya penuh luka goresan.

Ketika fajar mulai menyingsing, cahaya tipis menembus kanopi hutan. Arif melihat sebuah sungai, dan di seberangnya, sebuah jalan setapak yang samar. Ia mengerahkan sisa tenaganya, menyeberangi sungai, dan berhasil mencapai jalan itu.

Ia terus berjalan, tak peduli ke mana arahnya, hingga akhirnya ia melihat sebuah desa kecil di kejauhan. Lega bercampur trauma memenuhi dadanya. Ia berhasil keluar.

Beberapa hari kemudian, Arif ditemukan oleh tim SAR, tubuhnya kurus kering, matanya cekung, dan pikirannya kacau. Ia menceritakan tentang suara azan di hutan, tentang pohon raksasa dan mata merah yang mengintai.

Para penduduk desa hanya mendengarkan dengan tatapan kosong. Mereka tahu Rimba Patih menyimpan banyak misteri, banyak cerita yang tak terpecahkan. Ada yang percaya Arif berhalusinasi, ada pula yang berbisik tentang makhluk penunggu hutan.

Arif tidak pernah kembali ke Rimba Patih. Suara azan itu, meskipun tidak lagi terdengar oleh telinganya, masih bergema di benaknya. Sebuah panggilan yang tak suci, sebuah bisikan dari kegelapan yang tak terjelaskan.

Hutan Rimba Patih tetap berdiri, sunyi dan misterius. Dan di jantungnya, di antara pohon-pohon kuno yang tak terjamah, mungkin azan itu masih terus dikumandangkan, menunggu jiwa-jiwa penasaran lain yang berani melangkah terlalu dalam. Sebuah panggilan abadi dari entitas tak dikenal, yang bersembunyi di balik tabir sunyi Rimba Patih.

Suara Azan Saat Hutan Sudah Sunyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *