Di sudut ruangan loteng yang berdebu, teronggok sebuah kotak P3K tua. Warnanya putih gading, namun kini kusam dan berkarat. Maya baru saja mewarisi rumah peninggalan neneknya itu. Sebuah warisan yang terasa lebih seperti beban daripada berkah, dipenuhi bayangan masa lalu yang kelam.
Rumah itu besar, sepi, dan selalu terasa dingin. Setiap langkah Maya di lantai kayu menimbulkan derit panjang. Ia adalah seorang penulis lepas, mencari inspirasi dalam kesendirian. Loteng itu, dengan jendela-jendela tinggi yang diselimuti sarang laba-laba, adalah tempat pertama yang ia jelajahi.
Kotak P3K itu menarik perhatiannya. Kunci kuningan yang usang masih menancap di lubangnya. Maya menyentuh permukaannya, merasakan dinginnya logam tua. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelimuti kotak itu.
Malam pertama, saat angin berdesir di antara pepohonan tua, Maya mendengar sesuatu. Sebuah lirihan. Ia mengira itu hanya angin yang menyusup melalui celah jendela yang lapuk. Atau mungkin, hanya imajinasinya yang terlalu aktif.
Namun, lirihan itu kembali. Lebih jelas kali ini. Seolah berasal dari dalam rumah itu sendiri, bukan dari luar. Maya duduk tegak di ranjangnya, jantungnya berdegup pelan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara rumah tua.
Keesokan harinya, saat ia kembali ke loteng, suara itu muncul lagi. Kali ini, bukan lirihan. Sebuah bisikan. “Buka…” kata suara itu, sangat pelan, nyaris tak terdengar. Bisikan itu terdengar seperti suara anak kecil.
Maya menegang. Bulu kuduknya merinding. Ia memandang sekeliling loteng yang kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Suara itu jelas berasal dari kotak P3K yang tergeletak di lantai. Ia mendekat perlahan, napasnya tertahan.
“Siapa di sana?” bisiknya, suaranya gemetar. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan. Maya mencoba mengabaikannya, namun rasa penasaran mulai menggerogoti. Ia mengambil kotak itu, merasakan bobotnya yang ringan.
Malam itu, di kamar tidurnya, Maya meletakkan kotak P3K itu di meja samping ranjang. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak terus memikirkannya. Saat kegelapan menyelimuti, bisikan itu kembali. “Dingin… aku sendiri…”
Suara itu terdengar begitu sedih, begitu rapuh. Maya merasakan simpati yang aneh bercampur dengan ketakutan. Ia mencoba membuka kotak itu, namun kuncinya seret. Seolah kotak itu menolak untuk dibuka.
Ia menghabiskan berjam-jam mencoba membuka kunci itu, namun sia-sia. Kuncinya macet, tak mau berputar. Ia merasa frustrasi, namun juga semakin penasaran. Apa yang ada di dalam kotak itu? Siapa pemilik suara itu?
Hari-hari berikutnya, bisikan itu menjadi lebih sering. Terkadang, terdengar seperti tangisan pilu. “Ibu… di mana Ibu?” Suara itu memenuhi rumah, menembus setiap sudut, membuat Maya merasa tidak sendirian, namun juga terancam.
Maya mulai meneliti sejarah rumah itu. Ia mengunjungi perpustakaan kota, mencari arsip koran lama. Ia berharap menemukan petunjuk tentang pemilik rumah sebelumnya, tentang tragedi yang mungkin pernah terjadi di sana.
Ia menemukan beberapa artikel usang. Sebuah keluarga kaya, keluarga Wijaya, pernah tinggal di sana. Beberapa dekade lalu, putri bungsu mereka, seorang gadis kecil bernama Lina, menghilang secara misterius. Kasusnya tidak pernah terpecahkan.
Jantung Maya berdesir. Lina. Mungkinkah suara itu adalah Lina? Ia kembali ke rumah, pikirannya dipenuhi spekulasi. Bisikan dari kotak P3K itu seolah semakin intens setelah ia mengetahui nama Lina. “Lina… takut…”
Maya merasa terdorong untuk membantu. Ia harus membuka kotak itu. Ia kembali mencoba kuncinya, mengolesi minyak, mencoba segala cara. Namun, kunci itu tetap menolak berputar, seolah terkunci oleh rahasia yang dalam.
Ia mulai berbicara dengan kotak itu, seolah berbicara dengan Lina. “Lina, apa yang terjadi padamu? Aku ingin membantumu.” Tiba-tiba, bisikan itu berubah. Bukan lagi lirihan, melainkan sebuah kalimat yang jelas. “Di bawah… tempat rahasia…”
Maya tersentak. Di bawah? Di bawah apa? Ia memandangi kotak P3K itu, mencari petunjuk. Kotak itu tampak padat, tidak ada celah. Ia membalikkannya, memeriksa bagian bawah. Tidak ada yang aneh.
Ia mengingat kembali artikel koran. Lina menghilang di dalam rumah. Bukan diculik dari luar. Mungkinkah ada ruangan rahasia di rumah ini? Ia mulai mencari, mengetuk dinding, memeriksa lantai.
Di salah satu sudut loteng, di bawah tumpukan karpet usang, ia menemukan sebuah bagian lantai yang sedikit menonjol. Ketika ia menekan, terdengar bunyi klik. Sebuah pintu rahasia kecil terungkap.
Di dalamnya, gelap dan sempit. Ia menyalakan senter ponselnya. Terlihat sebuah kotak kayu kecil yang usang. Di atasnya, tergeletak sebuah kunci kuningan. Kunci yang persis sama dengan yang menancap di kotak P3K.
Maya mengambil kunci itu, tangannya gemetar. Kunci ini pasti yang akan membuka kotak P3K. Ia bergegas kembali ke kamar, jantungnya berpacu kencang. Bisikan dari kotak P3K terdengar semakin mendesak. “Buka… aku sendiri…”
Ia memasukkan kunci yang baru ditemukan itu ke dalam lubang kunci kotak P3K. Kunci itu berputar mulus. Sebuah klik pelan terdengar, memecah keheningan yang tegang. Maya menarik napas dalam-dalam.
Dengan tangan gemetar, ia membuka penutup kotak P3K itu perlahan. Tidak ada asap, tidak ada cahaya aneh. Hanya kegelapan di dalamnya. Maya menyalakan senter ponselnya dan mengarahkan cahayanya ke dalam kotak.
Di sana, di dasar kotak yang berdebu, tergeletak beberapa benda. Sebuah boneka kain kecil yang usang, dengan satu mata hilang. Sebuah locket perak berkarat, yang tampak sangat tua. Dan selembar kertas yang sudah menguning, dengan tulisan tangan anak-anak yang buram.
Maya mengambil locket itu. Ketika ia membukanya, sebuah foto kecil terpampang. Foto seorang gadis kecil dengan senyum ceria, persis seperti deskripsi Lina di artikel koran. Ia melihat tulisan tangan di kertas itu. “Untuk Ibu, dari Lina.”
Saat itu juga, bisikan dari kotak P3K berhenti. Keheningan yang baru ini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang menekan, melainkan keheningan yang damai. Maya menatap benda-benda di tangannya, matanya berkaca-kaca.
Ia menyadari. Suara itu bukanlah hantu yang terjebak secara fisik. Itu adalah gema dari kesedihan yang mendalam, dari sebuah tragedi yang belum tuntas. Kotak P3K itu, yang seharusnya menjadi simbol pertolongan, justru menjadi peti mati bagi harapan Lina.
Lina mungkin tidak menghilang ke dunia lain. Ia mungkin terperangkap di suatu tempat di rumah itu, meninggal sendirian, dengan kotak P3K di dekatnya, berharap ada yang datang menolong. Bisikan itu adalah jeritan jiwanya yang terpendam, yang mencari penemuan dan kedamaian.
Maya memutuskan untuk memberikan Lina kedamaian yang layak. Ia membawa kotak P3K itu dan isinya ke pemakaman kota. Setelah mencari cukup lama, ia menemukan nisan kecil berlumut dengan nama “Lina Wijaya” terukir di sana.
Ia meletakkan boneka, locket, dan surat kecil itu di atas nisan. Angin berhembus lembut, seolah membawa pergi kesedihan yang telah lama berdiam di rumah itu. Maya merasakan beban berat terangkat dari pundaknya.
Ketika ia kembali ke rumah, suasana terasa berbeda. Dingin yang menusuk telah berganti menjadi kehangatan yang lembut. Derit lantai tidak lagi terdengar mengerikan, melainkan seperti melodi tua yang menenangkan. Loteng tidak lagi gelap dan menakutkan.
Kotak P3K itu kini kosong, namun tidak lagi mengeluarkan suara. Ia telah menjalankan misinya. Suara dari kotak P3K itu bukanlah ancaman, melainkan permohonan. Permohonan untuk ditemukan, untuk diingat, dan untuk akhirnya beristirahat dalam damai. Maya, sang penulis, telah menjadi jembatan bagi jiwa yang tersesat itu.











