Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Siapa yang Berjalan di Tengah Malam Saat Semua Orang Tidur?

9
×

Siapa yang Berjalan di Tengah Malam Saat Semua Orang Tidur?

Share this article

 

Derap Kaki Tengah Malam: Bisikan dari Dimensi Lain

Ardi, seorang arsitek muda, mencari ketenangan. Sebuah rumah tua di pinggir kota menjadi pilihannya. Dinding-dindingnya menyimpan bisikan masa lalu, udara dingin menyelinap di setiap sudut. Ia tak tahu, ketenangan itu akan segera pecah oleh sesuatu yang tak terjelaskan.

Malam pertama, sunyi menusuk. Hanya desau angin dan gemerisik dedaunan. Namun, lewat tengah malam, sebuah suara aneh terdengar. Samar, seolah hanya ilusi semata, seperti derap kaki seseorang yang berjalan perlahan di lantai atas.

Ardi segera bangkit, jantungnya berdegup. Ia menyalakan lampu, mencari sumber suara itu. Setiap sudut rumah diperiksanya, namun nihil. Bahkan atap dan taman tak luput dari pengawasannya, namun tak ada jejak penyusup.

Ia mencoba meyakinkan diri, mungkin itu hanya imajinasinya. Suara pipa, atau ranting pohon yang bergesekan. Ia kembali tidur, namun kegelisahan telah menanamkan akarnya. Malam itu, tidur nyenyak hanyalah sebuah kemewahan.

Malam kedua, kejadian itu terulang. Kali ini, lebih jelas, lebih nyata. Derap kaki yang berat namun tak berwujud. Dimulai tepat pukul dua belas malam, dari arah loteng yang terkunci rapat.

Langkah-langkah itu menuruni tangga utama dengan irama teratur. Melintasi koridor bawah, menuju kamar tidur tamu yang tak terpakai. Lalu berhenti di sana, seolah-olah seseorang telah memasuki ruangan itu.

Ardi merasakan dingin yang menusuk tulang. Bulu kuduknya berdiri. Ia bukan lagi seorang rasionalis yang skeptis. Ketakutan mulai merayap, menelusup ke setiap sendi tubuhnya. Ia sendirian di tengah misteri ini.

Ia memberanikan diri. Memegang tongkat baseball, ia mengendap-endap ke koridor. Lampu-lampu ia nyalakan, menerangi kegelapan. Ia berdiri di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat, jantungnya berpacu gila.

Ia membuka pintu itu perlahan. Tidak ada siapa-siapa. Kamar itu kosong, berdebu, dan dingin. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah sensasi kehadiran yang kuat, seolah ada jejak tak terlihat yang baru saja lewat.

Malam-malam berikutnya, derap kaki itu menjadi ritual. Selalu tepat tengah malam. Selalu dari loteng, menuruni tangga, melintasi koridor, dan berakhir di kamar tamu. Sebuah pertunjukan horor yang diputar ulang setiap malam.

Ardi mulai kehilangan tidur. Kantung matanya menghitam, pikirannya kacau. Ia mencoba merekam suara itu, memasang sensor gerak. Namun, rekaman hanya menangkap keheningan, dan sensor tak pernah berkedip.

Seolah-olah entitas itu hanya ada untuknya. Hanya untuk didengar oleh telinganya sendiri. Sebuah pesan, atau mungkin kutukan, yang ditujukan langsung padanya, penghuni baru rumah misterius ini.

Ia mulai meneliti sejarah rumah itu. Pergi ke perpustakaan kota, mencari arsip koran lama. Ia menemukan kisah-kisah tentang keluarga yang pernah tinggal di sana. Sebuah keluarga kaya, namun penuh tragedi.

Puluhan tahun lalu, seorang gadis muda bernama Laras menghilang secara misterius dari rumah itu. Tepatnya, dari kamar tamu yang kini menjadi tujuan derap kaki tak kasat mata itu. Kasusnya tak pernah terpecahkan.

Laras, seorang pianis berbakat, dikenal memiliki sifat tertutup. Ia sering menghabiskan waktu di kamar tamu itu, yang dulunya adalah ruang musiknya. Sebuah piano tua masih berdiri di sana, diselimuti kain putih.

Mungkinkah derap kaki itu adalah Laras? Rohnya yang terperangkap, mengulang-ulang langkah terakhirnya? Apa yang ia cari? Atau apa yang ia coba tunjukkan dengan kehadirannya yang tak berwujud ini?

Ardi merasa terpanggil. Ia harus memecahkan misteri ini. Bukan hanya demi ketenangan tidurnya, tapi juga demi Laras, jiwa yang mungkin masih terikat di antara dinding-dinding tua itu. Ia merasa harus membantu.

Ia mulai menghabiskan waktu di kamar tamu itu pada siang hari. Mengamati setiap detail, mencari petunjuk. Ia membersihkan debu, menggeser perabot. Udara dingin selalu terasa di sana, bahkan di siang bolong.

Suatu sore, saat ia mengamati dinding di belakang piano, ia menemukan sesuatu. Sebuah panel kayu yang sedikit longgar. Ia menariknya, dan sebuah kompartemen rahasia terbuka. Di dalamnya, ada sebuah kotak kayu kecil.

Jantung Ardi berdegup kencang. Ia membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah buku harian lusuh dan sebuah kalung perak berliontin kunci kecil. Buku harian Laras.

Ia membaca setiap halaman dengan saksama. Buku itu menceritakan kehidupan Laras yang kesepian, cintanya pada musik, dan sebuah rahasia gelap. Ia menemukan bahwa Laras memiliki seorang kekasih rahasia.

Kekasihnya adalah seorang pelayan di rumah itu, yang sangat ditentang oleh keluarganya. Laras berencana melarikan diri bersamanya. Pada malam ia menghilang, ia sebenarnya sedang menunggu kekasihnya di kamar itu.

Namun, kekasihnya tidak pernah datang. Laras menuliskan ketakutannya, firasat buruknya, dan rencananya untuk menyembunyikan kalung dan buku harian itu. Ia merasa ada yang tidak beres.

Halaman terakhir buku harian itu berakhir mendadak. Hanya ada coretan tangan yang panik, sebuah nama yang samar: “Bima”. Nama pelayan itu. Dan sebuah kalimat putus-putus: “Mereka tahu… Aku harus lari…”

Ardi menyadari. Laras tidak menghilang. Ia dibunuh. Dan pelayan itu, Bima, mungkin adalah saksi, atau bahkan terlibat dalam rahasia kelam itu. Derap kaki itu adalah upaya Laras untuk menunjukkan kebenaran.

Tengah malam tiba. Derap kaki itu kembali terdengar. Kali ini, Ardi tidak merasakan ketakutan. Ia merasakan empati. Ia memahami. Laras sedang mengulang detik-detik terakhirnya, mencari jalan keluar.

Langkah-langkah itu melewati koridor, menuju kamar tamu. Ardi berdiri di ambang pintu, menatap ruangan kosong itu. Ia merasakan kehadiran Laras, lebih kuat dari sebelumnya. Sebuah kesedihan yang mendalam.

Ia membuka kembali kompartemen rahasia itu. Mengambil kalung berliontin kunci. Dengan kalung itu di tangannya, ia merasakan kehangatan. Seolah roh Laras berkomunikasi dengannya, berterima kasih.

Tiba-tiba, derap kaki itu berhenti. Suasana di kamar tamu itu berubah. Dingin yang menusuk perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan yang lembut. Sebuah hembusan angin seolah melewati Ardi.

Ia merasakan damai. Sebuah beban terangkat. Misteri yang menghantui rumah itu selama puluhan tahun akhirnya terungkap. Roh Laras kini bebas, setelah rahasianya terbongkar.

Sejak malam itu, derap kaki tengah malam tak pernah terdengar lagi. Rumah itu kembali sunyi. Namun, Ardi tahu, ia tidak sendirian. Ada kisah, ada tragedi, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinding-dinding tua itu.

Ia menyimpan buku harian dan kalung itu. Sebuah pengingat akan Laras, dan bisikan dari dimensi lain yang pernah ia dengar. Rumah itu kini terasa lebih hangat, namun aura misterinya tak pernah sepenuhnya hilang.

Setiap tengah malam, Ardi terkadang masih menatap ke arah loteng. Tidak ada suara, tidak ada langkah. Hanya keheningan. Namun, ia tahu, beberapa rahasia mungkin selamanya terukir dalam sunyi.

Suara Derap Kaki Tengah Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *