Suara Gender Wayang Tengah Malam: Kutukan Dewi Arimbi
Ardi tiba di desa terpencil.
Mencari jejak kearifan Jawa kuno.
Rumah tua itu menunggunya.
Koleksi wayang terpajang rapi.
Malam pertama, sunyi mencekam.
Hanya jangkrik menemani tidur.
Namun, jarum jam menunjuk angka dua belas.
Bisikan tipis menembus dinding.
Suara itu samar, nyaris tak terdengar.
Seperti hembusan angin lewat celah.
Ardi mengabaikannya, mungkin ilusi.
Lelah perjalanan menutup mata.
Malam kedua, bisikan itu nyata.
Bukan angin, bukan imajinasi.
Melodi Gender, alat musik Jawa.
Bergema pelan dari ruang wayang.
Ardi terjaga, jantung berdebar.
Siapa memainkan Gender kini?
Jam menunjukkan tengah malam.
Dingin menusuk tulang di kamar.
Ia bangkit, ragu melangkah.
Pintu ruang wayang tertutup rapat.
Suara itu makin jelas, menghipnotis.
Ada nada pilu, menusuk sanubari.
Ia membuka pintu perlahan.
Kegelapan pekat menyambutnya.
Melodi itu berhenti mendadak.
Hanya keheningan yang tersisa.
Ardi menyalakan senter ponselnya.
Sinar menari di antara wayang.
Semua tergantung rapi di rak.
Tak ada jejak kehadiran siapapun.
Ia kembali ke ranjangnya.
Keringat dingin membasahi dahi.
Apakah ia bermimpi buruk?
Atau ada sesuatu yang salah di sini?
Malam ketiga, Ardi menunggu.
Antara takut dan penasaran.
Pukul dua belas tiba lagi.
Melodi Gender kembali terdengar.
Kali ini lebih kuat, lebih jelas.
Seolah dimainkan di dekatnya.
Ada suara lain di dalamnya.
Bukan Gender, tapi suara perempuan.
Suara itu lembut, bergetar pilu.
Berbahasa Jawa kuno yang halus.
Ardi tak mengerti sepenuhnya.
Namun, kesedihan terpancar jelas.
Ia berjalan menuju ruang wayang.
Pintu terbuka sedikit sendiri.
Bau melati menusuk hidung Ardi.
Bukan wangi segar, tapi busuk.
Lampu gantung berkedip-kedip.
Bayangan wayang menari di dinding.
Melodi Gender makin keras.
Suara wanita itu meratap perlahan.
Ardi masuk ke ruangan gelap.
Senter ponselnya berkedip mati.
Kegelapan total melingkupinya.
Ketakutan murni mencengkeram.
“Siapa di sana?” Ardi berbisik.
Suaranya bergetar tak karuan.
Melodi itu berubah, jadi disonan.
Seolah Gender merintih kesakitan.
Suara wanita itu meninggi.
Bukan lagi ratapan, tapi tangisan.
Tangisan pilu, penuh amarah.
Ardi merasakan udara dingin menusuk.
Ia meraba-raba dinding sekitarnya.
Mencari saklar lampu yang tak ada.
Kini, suara itu tepat di telinganya.
Desisan dingin, “Kau harus tahu.”
Jantung Ardi hampir copot.
Ia mundur perlahan, ketakutan.
Lalu ia tersandung sesuatu.
Terjatuh di lantai kayu yang dingin.
Ketika ia bangkit, senter menyala.
Menyorot langsung ke satu wayang.
Wayang Dewi Arimbi terpajang.
Sorot matanya tampak hidup.
Bukan hanya tatapan biasa.
Ada kesedihan mendalam di sana.
Melodi Gender kembali mengalun.
Suara Dewi Arimbi kini bernyanyi.
Ia menceritakan kisah lama.
Kisah pengkhianatan dan derita.
Seorang wanita yang dikhianati.
Cintanya hancur, jiwanya terpasung.
Ia adalah putri seorang dalang.
Hidupnya didedikasikan pada wayang.
Namun, ia dicintai pria yang salah.
Pria itu mencuri, lalu menghilang.
Ia dituduh melakukan pencurian.
Nama baiknya hancur lebur.
Terbuang, ia meninggal dalam duka.
Jiwa tak tenang, terikat pada Gender.
Alat musik Gender kesayangannya.
Tempat jiwanya menemukan suara.
Ia meratap setiap tengah malam.
Mencari keadilan yang tak tiba.
Suara Gender berhenti mendadak.
Dewi Arimbi masih menatapnya.
Ardi merasakan energi dingin.
Seolah jiwanya dihisap perlahan.
Ia terhuyung keluar ruangan.
Meninggalkan Dewi Arimbi sendirian.
Kisah itu menghantuinya kini.
Misteri suara Gender terjawab.
Namun, ia tak merasa lega.
Justru beban baru menyelimutinya.
Apa yang harus ia lakukan?
Bisakah ia menolong arwah itu?
Ardi mencoba mencari tahu lebih.
Bertanya pada penduduk desa.
Mereka enggan berbicara banyak.
Hanya tatapan takut yang ia dapat.
“Jangan ganggu yang sudah pergi,”
Seorang tetua berbisik padanya.
“Biarkan mereka beristirahat tenang.”
Tapi Ardi tahu, arwah itu tak tenang.
Setiap malam, Ardi menunggu.
Apakah Gender akan berbunyi lagi?
Apakah suara itu akan kembali?
Rasa takut bercampur kasihan.
Ia memutuskan untuk pergi.
Meninggalkan desa dan rumah tua.
Namun, suara Gender tak hilang.
Terngiang di benaknya setiap malam.
Di mana pun ia berada kini.
Jam dua belas, ia merasa dingin.
Seolah melodi Gender mengikutinya.
Bisikan pilu Dewi Arimbi.
Mungkin ia tak pernah bebas.
Terikat pada misteri kuno itu.
Kutukan Dewi Arimbi telah merasuk.
Suara Gender Wayang Tengah Malam.
Misteri itu belum usai baginya.
Kisah itu terus berlanjut.
Ia tahu, ia takkan bisa lupa.
Suara pilu dari wayang yang hidup.






