Nyanyian Gondang dari Jantung Kegelapan
Arya baru saja pindah ke sebuah apartemen kecil. Jendela kamarnya menghadap langsung ke sebuah rumah tua, kolonial, yang sudah lama tak berpenghuni. Atapnya melengkung, catnya mengelupas, dan jendelanya seperti mata buta yang menatap kosong.
Penduduk sekitar menyebutnya “Rumah Senyap”, sebab tak pernah ada suara dari dalamnya. Namun, seiring malam merayap, nama itu terasa ironis. Sebuah melodi mulai mengusik ketenangan Arya.
Awalnya samar, seperti desiran angin. Kemudian, ia mulai mengenali iramanya. Itu adalah suara gondang, alat musik pukul tradisional yang kaya akan nuansa. Namun, siapa yang memainkannya?
Rumah itu jelas kosong, terkunci rapat dan dipenuhi sarang laba-laba. Tak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi pesta atau ritual. Hanya keheningan yang menyesakkan, disela melodi aneh itu.
Setiap malam, sekitar pukul dua dini hari, ketukan gondang itu muncul. Iramanya berulang, kadang cepat dan bersemangat, kadang melambat menjadi sebuah ratapan panjang yang memilukan.
Arya mencoba mengabaikannya. Mungkin tetangga sebelah, pikirnya. Tapi suara itu terlalu jernih, terlalu dekat. Seolah-olah sumbernya persis di seberang jendela kamarnya.
Suatu malam, rasa penasarannya tak tertahankan. Ia berdiri di jendela, menatap Rumah Senyap yang diselimuti kabut tipis. Lampu jalan redup, menambah kesan angker pada bangunan itu.
Gondang itu kembali berdentum. Kali ini, ia bisa merasakan getarannya di udara. Bukan hanya suara, tapi juga tekanan yang aneh, seolah ada energi tak terlihat yang terpancar.
Jantung Arya berdebar kencang. Ia tahu, suara itu datang dari Rumah Senyap. Tidak ada keraguan lagi. Bagaimana mungkin sebuah rumah kosong bisa menghasilkan musik?
Rasa penasaran bercampur takut mendorongnya. Esok paginya, ia memutuskan untuk mendekati rumah itu. Pagar besi berkarat menjulang tinggi, dihiasi tanaman merambat yang liar.
Gerbangnya terbuka sedikit, seolah mengundang. Aroma lumut dan tanah basah menyeruak, bercampur dengan bau apak yang khas dari bangunan tua yang terbengkalai.
Arya melangkah masuk, kakinya menginjak daun-daun kering yang renyah. Setiap langkahnya terasa seperti gema di keheningan yang mencekam. Udara di halaman terasa dingin, tidak wajar.
Ia mengelilingi rumah itu. Jendela-jendela di lantai dasar tertutup papan kayu, tapi beberapa sudah lapuk dan berlubang. Dari sana, ia bisa melihat sekilas kegelapan di dalamnya.
Ia mencoba mengintip dari celah kecil. Hanya bayangan gelap dan tumpukan debu yang terlihat. Tidak ada tanda-tanda gondang, atau pemainnya, atau apapun yang bisa menjelaskan misteri ini.
Kembali ke apartemennya, pikiran Arya terusik. Ia mencoba mencari informasi tentang Rumah Senyap dari penduduk lokal. Kebanyakan hanya menggelengkan kepala, enggan bicara.
“Jangan dekati rumah itu, Nak,” ujar seorang ibu tua yang berjualan kopi di sudut jalan. “Ada sesuatu di sana yang tidak seharusnya diganggu.” Matanya memancarkan ketakutan yang dalam.
Arya mencoba bertanya lebih jauh, tapi ibu itu hanya memalingkan wajah. Cerita-cerita samar mulai beredar: tentang tragedi lama, kematian misterius, dan jiwa-jiwa yang terperangkap.
Malam kembali tiba. Arya berbaring, mencoba tidur. Namun, ia tahu melodi itu akan datang. Dan benar saja, tepat pukul dua, dentuman gondang itu memecah keheningan.
Kali ini, suaranya lebih jelas, lebih mendesak. Seolah memanggil, menariknya. Irama yang tadinya beraturan, kini sedikit kacau, seperti ada keputusasaan di baliknya.
Arya tak tahan lagi. Ia meraih senter, kunci, dan berjalan keluar. Langkahnya terasa berat, namun ada dorongan tak terlihat yang menariknya ke sana. Malam itu, ia akan masuk ke dalam.
Gerbang berderit pelan saat ia mendorongnya. Halaman depan terasa lebih gelap, seolah cahaya bulan enggan menyentuhnya. Pepohonan tua melambai, seperti tangan-tangan yang mencekik.
Ia menemukan pintu belakang yang sedikit terbuka, engselnya karatan. Dengan dorongan pelan, pintu itu terbuka, menampakkan lorong gelap yang dipenuhi bayangan. Bau apak menusuk hidungnya.
Senter Arya menari-nari di dinding. Debu tebal menyelimuti segalanya, jejak langkahnya terlihat jelas di lantai. Udara di dalam terasa pengap, dan jauh lebih dingin dari luar.
Gondang itu kini terdengar sangat dekat. Seolah dimainkan di ruangan sebelah. Jantung Arya berpacu, tenggorokannya kering. Ia melangkah maju, mengikuti suara itu.
Ia melewati ruang tamu yang luas, dengan perabot yang tertutup kain putih, tampak seperti hantu-hantu yang membeku. Kemudian, ia sampai di sebuah lorong panjang.
Suara gondang itu semakin keras, seperti dipukul tepat di depannya. Arya berhenti. Cahaya senternya jatuh pada sebuah pintu kayu besar di ujung lorong. Dari sanalah suara itu berasal.
Tangan Arya gemetar saat ia menyentuh kenop pintu. Dingin dan berkarat. Ia memutar kenop itu perlahan, dan pintu terbuka dengan derit mengerikan yang memekakkan telinga.
Sebuah ruangan luas terhampar di depannya. Di tengah ruangan, tepat di bawah jendela besar yang pecah, berdiri sebuah set gondang. Lengkap, dengan alat pemukulnya.
Namun, tidak ada seorang pun di sana. Ruangan itu kosong, seperti bagian rumah lainnya. Gondang itu berdiri tegak, di antara debu dan sarang laba-laba.
Arya melangkah masuk, senternya menyapu setiap sudut. Tidak ada jejak kaki baru, tidak ada tanda-tanda kehadiran. Hanya keheningan yang tiba-tiba melanda. Gondang itu berhenti.
Keheningan itu lebih menakutkan daripada suara apa pun. Arya merasa bulu kuduknya merinding. Ia sendirian di ruangan itu, namun merasa diawasi oleh ribuan pasang mata tak terlihat.
Tiba-tiba, sebuah embusan angin dingin melintas di belakangnya. Arya menoleh cepat, namun tak ada apa-apa. Hanya kegelapan yang menari di sudut ruangan.
Lalu, sebuah bisikan samar terdengar, seperti hembusan napas di telinganya. “Pulanglah…” Suara itu dingin, bergetar, namun penuh kesedihan yang mendalam.
Arya mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa melihat apa pun, tetapi ia merasakan kehadiran yang kuat di ruangan itu. Bukan ancaman, melainkan sesuatu yang terperangkap.
Matanya tertuju pada gondang itu lagi. Tiba-tiba, tanpa ada yang menyentuh, salah satu pemukulnya sedikit bergeser, seperti digerakkan oleh angin. Atau oleh sesuatu yang lain.
Ia merasa ada sesuatu yang ingin berkomunikasi, sebuah cerita yang ingin diceritakan. Namun, ia terlalu takut untuk tinggal lebih lama. Tubuhnya menolak untuk bergerak lebih dekat.
Tanpa pikir panjang, Arya berbalik dan berlari. Ia menerobos kegelapan lorong, keluar dari pintu belakang, dan melesat melintasi halaman. Ia tidak berhenti sampai tiba di apartemennya.
Ia mengunci pintu, mengunci semua jendela, dan terengah-engah di sofa. Pikirannya kalut. Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil. Gondang itu bermain sendiri.
Malam itu, gondang itu tidak berbunyi lagi. Keheningan yang baru ini terasa lebih berat, lebih menakutkan daripada melodi yang sebelumnya. Seolah rumah itu telah mengeluarkan peringatan.
Arya tidak bisa tidur. Setiap bayangan, setiap suara kecil, membuatnya terlonjak. Ia tahu ia tidak akan pernah melupakan apa yang dilihatnya. Atau apa yang tidak dilihatnya.
Keesokan harinya, ia mencoba mencari ibu tua penjual kopi itu lagi. Ia menceritakan pengalamannya, suaranya bergetar. Ibu itu menatapnya dengan tatapan penuh iba.
“Sudah kubilang, Nak,” katanya pelan. “Rumah itu… menyimpan kesedihan yang dalam. Dulu, ada seorang pemusik gondang hebat tinggal di sana. Ia kehilangan keluarganya dalam sebuah kebakaran.”
“Ia terus memainkan gondang, siang dan malam, meratapi kepergian mereka. Sampai akhirnya, ia sendiri menghilang, meninggalkan gondangnya di sana. Jiwanya mungkin masih mencari damai.”
Ibu itu terdiam, menatap kosong ke arah Rumah Senyap. “Suara gondang itu… adalah nyanyian kesedihan. Permintaan maaf. Dan peringatan bagi siapa pun yang berani mengganggu tidurnya.”
Arya tak pernah lagi mendekati Rumah Senyap. Ia masih tinggal di apartemennya, namun setiap malam, ia selalu melirik ke arah jendela yang menghadap ke sana.
Terkadang, ia merasa mendengar bisikan samar di angin malam. Bukan gondang, melainkan seperti desah napas, atau gumaman yang tak jelas, penuh penyesalan dan kesepian.
Misteri gondang itu tetap tak terpecahkan sepenuhnya. Siapa atau apa yang memainkannya, dan mengapa, masih menjadi pertanyaan yang menghantuinya.
Rumah Senyap tetap berdiri, bisu di siang hari, namun menyimpan rahasia kelamnya. Dan Arya tahu, jauh di dalam jantung kegelapan rumah itu, melodi kesedihan abadi mungkin masih terus bergaung.
Menanti siapa pun yang cukup berani untuk mendengarkannya. Dan mungkin, untuk selamanya, terperangkap dalam nyanyian gondang dari jiwa-jiwa yang tak tenang.





