Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Setiap Malam Ada Gonggongan — Tapi Tak Pernah Ada Anjing di Sekitar

11
×

Setiap Malam Ada Gonggongan — Tapi Tak Pernah Ada Anjing di Sekitar

Share this article

Setiap Malam Ada Gonggongan — Tapi Tak Pernah Ada Anjing di Sekitar

Gaung Tak Bertuan: Misteri Gonggongan Abadi

Malam pertama Pak Herman di rumah warisan itu terasa begitu damai. Udara pegunungan yang dingin menusuk kulit, membawa aroma pinus dan tanah basah. Sebuah ketenangan yang ia damba setelah hiruk-pikuk kota besar.

Rumah itu terletak di ujung desa, dikelilingi kebun teh tua dan hutan lebat. Jauh dari keramaian, sempurna untuk menenangkan pikiran. Ia datang ke sana mencari pelarian, namun menemukan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Malam kedua, suara itu muncul. Samar-samar, seperti bisikan angin yang lewat. Gonggongan anjing. Bukan gonggongan keras, melainkan serangkaian lolongan dan ringisan yang jauh.

Pak Herman mengira itu anjing liar dari hutan. Ia mengabaikannya, menarik selimut lebih erat. Namun suara itu terus ada, seperti bayangan yang enggan pergi dari sudut pandangnya.

Keesokan paginya, ia bertanya pada tetangga terdekat, Nenek Siti. “Nek, ada anjing liar di sekitar sini? Semalam saya dengar gonggongan.”

Nenek Siti menatapnya aneh, matanya yang tua menyipit. “Anjing? Di sini tak ada anjing, Nak Herman. Sudah lama.”

Sebuah kerutan muncul di dahi Pak Herman. Tidak ada anjing? Lalu suara apa yang ia dengar? Ia mencoba menepisnya sebagai kelelahan, ilusi pendengaran.

Namun, setiap malam, suara itu kembali. Lebih jelas, lebih dekat. Terkadang seperti gonggongan ceria, seolah menyambut. Di lain waktu, ringisan pilu, seolah kesakitan.

Ia mulai memeriksa setiap sudut rumah. Mengintip ke bawah kolong, memeriksa loteng, mengitari kebun. Tidak ada jejak anjing, tidak ada bulu, tidak ada jejak kaki.

Ketenangan yang ia cari perlahan terkikis. Malam-malamnya dipenuhi ketegangan. Setiap detik dihabiskannya menunggu suara itu, mengurai setiap nada yang keluar dari kegelapan.

Gonggongan itu tidak selalu sama. Kadang terdengar dari arah hutan, kadang dari pekarangan depan. Pernah sekali, ia bersumpah, suara itu berasal dari dalam rumahnya sendiri.

Ia meloncat dari tempat tidur, jantung berdebar kencang. Berbekal senter, ia menyusuri koridor gelap. Bayangan menari di dinding, mengikuti setiap langkahnya.

Suara itu berhenti saat ia mendekat, lalu muncul lagi dari ruangan lain. Seolah mengejek, mengarahkannya dalam labirin ketidakpastian yang tak berujung.

Satu malam, gonggongan itu berubah. Bukan lagi lolongan biasa, melainkan seperti suara gonggongan putus asa. Sangat dekat, di balik pintu kamarnya.

Pak Herman menahan napas, tangannya gemetar meraih gagang pintu. Ia membukanya perlahan, mengintip ke kegelapan. Tidak ada apa-apa. Hanya lorong kosong yang dingin.

Namun, saat ia menutup pintu, suara itu kembali. Tepat di telinganya, seolah ada anjing tak terlihat yang berdiri di sampingnya. Desahan napas dingin menyapu tengkuknya.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini bukan lagi anjing liar. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak berwujud, namun nyata dalam suaranya.

Ia mulai kehilangan akal sehat. Siang hari, ia tidur karena kelelahan. Malam hari, ia terjaga, menatap kegelapan, menunggu. Menunggu suara yang tidak seharusnya ada.

Nenek Siti mulai menatapnya dengan pandangan iba. “Kamu terlihat pucat, Nak Herman. Apakah ada yang mengganggumu?”

Pak Herman ragu untuk bercerita. Bagaimana ia bisa menjelaskan gonggongan tanpa anjing? Ia akan dianggap gila.

“Tidak apa-apa, Nek,” jawabnya singkat. Namun, pandangan Nenek Siti seolah tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

Ia mencoba mencari tahu sejarah rumah itu. Pergi ke perpustakaan desa kecil, mencari catatan lama. Rumah itu dibangun puluhan tahun lalu oleh keluarga Wiryo.

Tidak ada catatan tentang kejadian aneh, atau kisah misteri. Hanya cerita biasa tentang kehidupan pedesaan. Namun, ia tidak menyerah.

Suatu sore, ia mengunjungi Pak Karta, sesepuh desa yang dikenal bijak. “Pak Karta, saya ingin bertanya tentang sesuatu yang aneh.”

Pak Karta mendengarkan dengan sabar saat Pak Herman menceritakan tentang gonggongan itu. Wajah tua itu tidak menunjukkan terkejut, hanya ekspresi serius.

“Gonggongan tanpa anjing, katamu?” Pak Karta bergumam, mengusap jenggotnya. “Sudah lama tidak ada yang mendengar suara itu.”

Jantung Pak Herman berdesir. “Jadi, saya bukan satu-satunya?”

Pak Karta mengangguk pelan. “Dulu, ada cerita. Tentang rumah itu. Konon, tanah tempat rumahmu berdiri adalah tempat yang disucikan.”

“Disucikan?” tanya Pak Herman.

“Ya. Dulu, ada seorang penjaga hutan yang setia. Ia memiliki anjing-anjing peliharaan yang sangat ia sayangi. Mereka selalu menemaninya menjaga hutan dari pencuri.”

“Apa hubungannya dengan suara itu?” desak Pak Herman.

“Suatu hari, penjaga itu dan anjing-anjingnya tewas dibunuh secara brutal oleh sekelompok penjarah. Mayat mereka disembunyikan, tidak pernah ditemukan.”

“Sejak saat itu, konon, arwah anjing-anjing itu tidak pernah tenang. Mereka terus mencari tuannya, terus menjaga hutan, terus menggonggong.”

“Tapi itu hanya cerita lama, Pak Karta. Mitos,” bantah Pak Herman, meski hatinya mencelos.

“Mitos terkadang memiliki akar kebenaran, Nak Herman,” balas Pak Karta, matanya menatap tajam. “Terutama jika kamu adalah orang pertama yang mendengarnya lagi setelah sekian lama.”

Pulang dari Pak Karta, pikiran Pak Herman berkecamuk. Apakah ini benar-benar arwah anjing yang tak tenang? Atau hanya sugesti, karena ia kini tahu ceritanya?

Malam itu, gonggongan itu kembali. Kali ini, ia tidak lagi mencoba mencari sumbernya. Ia hanya mendengarkan. Dan suara itu terasa berbeda.

Ada kepedihan di setiap lolongan. Ada kesetiaan yang abadi di setiap gonggongan ceria. Ada amarah di setiap geraman rendah.

Suara itu kini memiliki emosi. Emosi yang terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Terlalu dalam untuk sekadar imajinasi.

Ia mencoba tidur, namun setiap kali ia menutup mata, ia bisa merasakan kehadiran yang tak terlihat. Kehadiran anjing-anjing yang bergentayangan.

Suatu pagi, ia terbangun dengan mata bengkak dan lingkaran hitam di bawahnya. Ia merasa lemah, namun anehnya, suara gonggongan itu terasa lebih akrab.

Bahkan saat ia berjalan ke dapur, ia bisa “mendengar” gonggongan pelan, seolah anjing-anjing tak terlihat itu mengikutinya, mengawasi setiap gerakannya.

Ia mencoba meninggalkan rumah, pergi ke kota terdekat. Namun, bahkan di tengah keramaian pasar, ia bersumpah ia bisa mendengar lolongan samar di antara kebisingan.

Suara itu telah merasuk ke dalam dirinya. Menjadi bagian dari kesadarannya. Gonggongan itu bukan lagi di luar dirinya, melainkan di dalam kepalanya.

Ia kembali ke rumah, menyerah. Tidak ada tempat untuk lari. Suara itu akan selalu bersamanya, selama ia berada di tanah ini.

Malam-malamnya kini dihabiskan dalam keheningan yang aneh. Ia tidak lagi ketakutan. Hanya ada penerimaan.

Gonggongan itu tetap ada. Kadang keras, kadang lembut. Kadang jauh, kadang dekat. Tapi Pak Herman tidak lagi mencarinya.

Ia hanya mendengarkan. Menjadi pendengar setia bagi anjing-anjing tak bertuan itu. Mereka kini adalah bagian dari dirinya, bagian dari rumah tua di ujung desa.

Rumah itu kini memiliki penjaga tak kasat mata. Penjaga yang terus menggonggong, mengingatkan siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sana.

Pak Herman terkadang tersenyum tipis, saat mendengar gonggongan itu. Sebuah senyum lelah, namun penuh pengertian. Ia tahu, ia tidak akan pernah sendiri lagi.

Suara gonggongan itu akan terus bergema. Abadi. Sebuah misteri yang tidak terpecahkan, hanya bisa dirasakan. Dan Pak Herman adalah saksinya.

Hingga hari ini, di desa itu, penduduk setempat masih kadang mendengar lolongan samar dari arah hutan di dekat rumah tua itu.

Mereka tahu itu bukan anjing liar. Mereka tahu itu adalah gaung tak bertuan. Gaung yang menceritakan kisah lama, kisah kesetiaan yang terkutuk, dan misteri yang tak pernah pudar.

Dan di dalam rumah itu, di tengah kegelapan, Pak Herman duduk. Ditemani oleh orkestra gonggongan tak terlihat. Selamanya terikat pada melodi kegelapan yang tak berujung.

Suara Gonggongan Tanpa Anjing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *