Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Warga Sering Mendengar Suara Ini di Hutan Banyumas, Tapi Tak Ada yang Berani Cari Asalnya

9
×

Warga Sering Mendengar Suara Ini di Hutan Banyumas, Tapi Tak Ada yang Berani Cari Asalnya

Share this article

Warga Sering Mendengar Suara Ini di Hutan Banyumas, Tapi Tak Ada yang Berani Cari Asalnya

Suara Misterius dari Hutan Banyumas

Banyumas, sebuah permata hijau di jantung Jawa Tengah, selalu dikenal dengan ketenangan dan keindahan alamnya yang asri. Hutan-hutan lebatnya, yang telah berdiri selama berabad-abad, adalah paru-paru kehidupan bagi desa-desa di sekitarnya. Namun, ketenangan itu kini telah terkoyak.

Sejak beberapa minggu terakhir, sebuah suara aneh mulai merayap keluar dari kedalaman hutan. Bukan lolongan binatang, bukan pula bisikan angin biasa. Suara itu adalah melodi ganjil, sebuah nada rendah yang bergetar, diselingi desiran tajam yang menusuk.

Awalnya, warga desa mengira itu hanya halusinasi. Kelelahan setelah seharian bekerja di ladang, atau mungkin bisikan dari legenda lama yang kembali bangkit. Namun, suara itu kian nyata, kian sering terdengar, terutama saat rembulan menggantung tinggi.

Ia datang di tengah malam, merayap masuk ke dalam rumah-rumah, menyelinap di antara celah jendela yang tertutup rapat. Getarannya menembus dinding, merasuk ke dalam tulang, membangkitkan ketakutan primal yang tak bernama. Warga mulai merasakan insomnia.

Mata mereka memerah karena kurang tidur, wajah mereka pucat pasi. Anak-anak menangis tanpa henti, menunjuk ke arah hutan dengan jari-jari gemetar. Bahkan hewan-hewan peliharaan pun menunjukkan kegelisahan, anjing-anjing melolong, kucing-kucing bersembunyi di sudut gelap.

Suara itu tak memiliki pola yang jelas. Terkadang ia terdengar seperti dengungan mesin raksasa yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Di lain waktu, ia berubah menjadi siulan pilu yang seolah memanggil-manggil, membelah keheningan malam yang mencekam.

Beberapa pemuda desa yang mencoba memberanikan diri mendekati batas hutan, kembali dengan wajah pucat pasi. Mereka bersumpah mendengar bisikan-bisikan tak jelas di balik suara utama, seolah ribuan lidah asing berbicara dalam simfoni kegilaan.

Pak Karta, seorang sesepuh desa dengan rambut memutih, mencoba menenangkan warganya. Ia mengulang kembali cerita-cerita lama tentang penjaga hutan, tentang arwah leluhur, tentang kekuatan alam yang tak boleh diganggu. Namun, bahkan suaranya sendiri terdengar gemetar.

Ia sendiri merasakan getaran aneh itu. Sebuah rasa dingin yang merayap dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun, membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu bukan sekadar gelombang bunyi; ia adalah sebuah kehadiran, sebuah entitas yang tak terlihat namun terasa nyata.

Di tengah kepanikan yang merebak, muncullah Aris. Seorang pemuda asli Banyumas yang baru saja menyelesaikan studinya di bidang konservasi alam di kota besar. Ia kembali dengan idealismenya, ingin meneliti keanekaragaman hayati hutan kelahirannya.

Aris adalah seorang rasionalis. Ia percaya pada ilmu pengetahuan, pada data, pada observasi. Kisah-kisah horor dan takhayul desa adalah bagian dari masa kecilnya, namun ia tak pernah benar-benar mempercayainya. Baginya, setiap fenomena pasti memiliki penjelasan logis.

Mendengar cerita tentang suara misterius itu, Aris awalnya tersenyum skeptis. Mungkin hanya resonansi dari gua bawah tanah, atau efek akustik aneh dari formasi batuan tertentu. Ia memutuskan untuk melakukan penyelidikan sendiri, berbekal peralatan modern.

Malam pertama Aris di desa, suara itu datang. Ia tidak siap. Dengungan rendah itu bukan hanya terdengar di telinga, tapi juga terasa di dada. Seolah ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, mengganggu ritme jantungnya.

Desiran tajam yang menyertainya seperti ribuan jarum yang menusuk udara. Itu bukan suara alam. Tak ada binatang yang bisa menghasilkan melodi sekompleks dan seseram itu. Otak rasional Aris mulai goyah, diserang oleh anomali akustik yang tak terjelaskan.

Ia mencoba merekamnya dengan alat perekam suara berpresisi tinggi. Hasilnya mengejutkan. Spektrum frekuensi suara itu sangat aneh, melampaui batas pendengaran manusia normal. Ada gelombang infra-suara dan ultra-suara yang tumpang tindih.

Ini bukan sekadar suara; ini adalah kompleksitas gelombang yang rumit. Semakin ia menganalisisnya, semakin ia yakin bahwa ini bukan fenomena alam biasa. Ada kecerdasan di baliknya, atau setidaknya, sebuah sumber yang sangat tidak biasa.

Keesokan harinya, Aris memutuskan untuk masuk lebih dalam ke hutan. Ia memilih jalur yang jarang dilalui, mengikuti insting aneh yang tiba-tiba muncul. Penduduk desa memperingatkannya, namun Aris bersikeras, didorong oleh rasa penasaran yang membakar.

Hutan itu berbeda di siang hari. Pepohonan menjulang tinggi, kanopi daun yang rapat menghalangi sinar matahari, menciptakan lorong-lorong temaram yang sunyi. Udara terasa lembap dan berat, seolah menyimpan rahasia-rahasia kuno.

Semakin dalam ia melangkah, semakin ia merasa diawasi. Bukan oleh mata binatang, tapi oleh sesuatu yang lebih tua, lebih bijaksana, dan jauh lebih menakutkan. Pohon-pohon tua dengan akar-akar yang menonjol seperti urat nadi raksasa seolah berbisik kepadanya.

Ia menemukan keanehan pertama: lumut-lumut di bebatuan memancarkan cahaya redup. Bukan pendaran jamur bioluminescent biasa, melainkan kilauan kehijauan yang berdenyut pelan, mengikuti irama yang tak terlihat.

Kemudian, ia melihat hewan-hewan. Kera-kera yang biasanya lincah dan berisik, kini duduk diam di dahan-dahan pohon, mata mereka kosong, menatap ke satu arah yang tak terlihat. Burung-burung tak berkicau, hanya sesekali terbang dengan gerakan gelisah.

Aris merasakan tekanan di telinganya. Suara itu, yang biasanya hanya terdengar di malam hari, kini mulai samar-samar terdengar di siang hari. Sebuah dengungan rendah yang membuat giginya bergemeletuk.

Ia terus melangkah, mengikuti jejak-jejak aneh yang tak terlihat. Udara semakin dingin, meskipun matahari bersinar terik di luar kanopi hutan. Rasa takut mulai merayapi Aris, dingin, menusuk, dan tak bisa dijelaskan.

Tiba-tiba, ia menemukan sebuah celah di antara bebatuan besar. Itu bukan gua alami, melainkan sebuah retakan raksasa di tanah, seolah bumi itu sendiri telah terkoyak. Dari dalamnya, terdengar suara yang jauh lebih jelas.

Dengungan itu kini menjadi raungan. Desiran tajam itu berubah menjadi jeritan. Suara-suara bisikan yang ia dengar dari pemuda desa kini menjadi paduan suara yang mengerikan, seolah ribuan jiwa terpenjara di bawah sana.

Aris menyalakan senternya. Cahaya itu menembus kegelapan di dalam celah, mengungkapkan formasi bebatuan yang aneh. Dinding-dindingnya bukan batu biasa, melainkan material yang berkilauan, memancarkan cahaya biru redup seperti lumut yang ia lihat tadi.

Di tengah celah itu, mengambang di udara, adalah sumber suara. Itu bukan makhluk hidup, bukan pula mesin. Ia adalah sebuah bola energi yang berdenyut, terbuat dari cahaya dan suara murni. Ia memancarkan gelombang yang terlihat, seperti riak air di kolam.

Bola itu berputar perlahan, mengeluarkan melodi yang kini memekakkan telinga Aris. Setiap putarannya, setiap denyutannya, terasa seperti pukulan di dadanya. Suara itu bukan lagi sekadar getaran; ia adalah sebuah entitas hidup.

Aris merasakan pikirannya ditarik masuk ke dalam pusaran suara itu. Ia melihat kilatan-kilatan gambar yang aneh: hutan purba yang berbeda, langit yang berputar, makhluk-makhluk tak dikenal yang menari dalam cahaya.

Ia mendengar bisikan-bisikan yang kini menjadi jelas di benaknya. Bukan kata-kata, melainkan emosi, pengetahuan, dan ketakutan yang tak terbayangkan. Suara itu adalah memori, adalah kesadaran, adalah inti dari sesuatu yang sangat tua.

Terlalu tua untuk dipahami manusia. Terlalu primal untuk diberi nama. Bola energi itu seolah berbicara kepadanya, namun bukan dengan bahasa lisan. Ia berkomunikasi melalui getaran langsung ke jiwanya.

Aris menyadari: suara ini bukan ancaman. Ia adalah sebuah peringatan. Sebuah tangisan. Atau mungkin, sebuah panggilan. Panggilan dari sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun, kini terbangun oleh sesuatu yang tidak ia ketahui.

Ia merasakan kehangatan dan rasa dingin yang bersamaan. Rasa takut yang melumpuhkan, namun juga rasa penasaran yang tak tertahankan. Bola suara itu seolah ingin menariknya lebih dekat, menyatukan dirinya dengan Aris.

Seketika, sebuah alarm berdering di benak Aris. Ini terlalu jauh. Ia harus pergi. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memutar badan, berlari kembali menembus kegelapan celah itu, melarikan diri dari sumber suara.

Raungan di belakangnya semakin keras, seolah marah karena ia menolak panggilan itu. Dinding-dinding celah bergetar, bebatuan kecil berjatuhan. Aris tak menoleh ke belakang, terus berlari sekuat tenaga.

Ia keluar dari celah itu, terengah-engah, dengan lutut gemetar. Hutan yang tadinya sunyi kini terasa hidup, setiap daun seolah berbisik, setiap bayangan seolah bergerak. Ia telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Perjalanan pulang terasa abadi. Ia tak tahu berapa lama ia berlari, berapa banyak pohon yang ia lewati. Yang ia tahu hanyalah suara itu, kini kembali merayap di benaknya, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah bayangan yang menghantuinya.

Ketika akhirnya ia tiba di pinggir desa, matahari telah terbit. Wajahnya pucat, mata cekung, dan tubuhnya dipenuhi goresan. Warga desa berhamburan mendekat, menatapnya dengan campuran cemas dan ketakutan.

Aris tak bisa menjelaskan apa yang ia lihat. Kata-kata terasa hampa. Bagaimana ia bisa menjelaskan sebuah bola energi yang hidup dari suara, sebuah entitas yang berkomunikasi tanpa bahasa?

Malam itu, suara misterius dari hutan kembali datang. Namun, bagi Aris, ia tak lagi sama. Ia kini tahu sumbernya. Ia kini merasakan hubungannya dengan entitas itu, sebuah ikatan yang tak bisa ia putuskan.

Suara itu kini adalah bagian dari dirinya. Ia tak lagi sekadar mengganggu tidur, ia merasuki mimpinya. Ia adalah bisikan di siang hari, getaran di dalam tulangnya. Ia adalah rahasia yang kini ia pikul sendiri.

Hutan Banyumas kembali diliputi ketegangan. Suara itu masih ada, masih memanggil, masih mengancam ketenangan. Namun, Aris kini tahu, bahwa misteri itu jauh lebih dalam, jauh lebih tua, dan jauh lebih menakutkan dari yang siapa pun bayangkan.

Ia bukan lagi sekadar suara dari hutan. Ia adalah suara dari masa lalu yang terlupakan, dari dimensi yang tersembunyi, sebuah melodi abadi yang akan terus berbisik, selamanya, di jantung Banyumas. Dan Aris, sang peneliti, kini hanyalah salah satu pendengarnya.

Suara Misterius dari Hutan Banyumas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *