Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Villanya Sudah Kosong Bertahun-tahun… Tapi Ada Suara Tawa Anak-anak dari Dalam

11
×

Villanya Sudah Kosong Bertahun-tahun… Tapi Ada Suara Tawa Anak-anak dari Dalam

Share this article

Villanya Sudah Kosong Bertahun-tahun… Tapi Ada Suara Tawa Anak-anak dari Dalam

Suara Tawa Anak-anak di Villa Tua Tak Berpenghuni

Di tengah rimba belantara yang melingkupi perbukitan terpencil, tegak berdiri sebuah bangunan usang. Villa Angker Nirmala, begitu masyarakat sekitar menyebutnya, adalah sebuah monumen bisu dari masa lalu yang terlupakan. Jendela-jendela kosongnya menatap hampa, seolah menyimpan rahasia kelam di balik tirai debu.

Pepohonan tinggi dan semak belukar yang menjulang telah lama mengepungnya, menciptakan aura misteri yang kental. Konon, siapa pun yang berani mendekat akan disambut bisikan angin yang membawa kisah-kisah tak masuk akal. Termasuk suara tawa anak-anak yang riang, namun sangat mengerikan.

Tiga pemuda pemberani, Arjun, Maya, dan Bram, tiba di sana suatu senja. Mereka adalah para penjelajah urban, haus akan konten misteri untuk kanal mereka. Peralatan kamera dan senter terpegang erat, jantung berdebar antara antusiasme dan ketegangan yang samar.

Gerbang besi berkarat menggerit ngeri saat Arjun mendorongnya. Udara dingin dan lembap segera menyergap, membawa serta aroma apak kayu lapuk dan lumut. Matahari telah tenggelam sepenuhnya, menyisakan siluet villa yang mengerikan di bawah cahaya rembulan samar.

Langkah kaki mereka bergema di lantai marmer yang retak saat memasuki aula utama. Debu tebal menyelimuti segalanya, bagai selimut putih yang menutupi kenangan. Furnitur usang ditata sembarangan, seperti boneka raksasa yang ditinggalkan pemiliknya.

Keheningan yang mencekam tiba-tiba pecah oleh desiran angin yang aneh. Bukan angin biasa, melainkan seolah ada bisikan yang melayang di udara. Maya menggigil, merasa sepasang mata tak kasat mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka.

Arjun mencoba tetap tenang, menyalakan senternya dan menyapu sudut-sudut gelap. “Hanya angin, Maya,” ujarnya, meskipun nada suaranya sedikit bergetar. Bram, yang selalu paling berani, malah tertawa, mencoba meredakan ketegangan.

Namun, tawa Bram terhenti mendadak. Samar-samar, dari kejauhan, terdengar suara. Mula-mula seperti bisikan, lalu semakin jelas. Sebuah suara tawa. Tawa anak-anak yang ceria, melayang-layang di antara pilar-pilar tua.

“Kalian dengar itu?” bisik Maya, matanya membelalak ketakutan. Bram mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya berubah serius. Arjun mengarahkan senternya ke arah suara itu berasal, ke lorong gelap di sisi kiri aula.

Tawa itu terdengar begitu polos, begitu murni, seolah anak-anak sedang bermain petak umpet. Namun, di dalam villa yang telah lama tak berpenghuni ini, tawa itu menjadi melodi teror yang mengiris pendengaran mereka. Bulu kuduk Maya meremang.

Mereka melangkah maju, mengikuti jejak suara yang memanggil. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menahan mereka. Udara di sekitar mereka terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum. Jantung berdegup kencang, memompa adrenalin.

Lorong itu mengarah ke sebuah ruangan besar. Pintu kayu berukir, meski usang, masih menunjukkan kemegahan masa lampau. Tawa anak-anak kini terdengar lebih dekat, seolah mereka berada tepat di balik pintu itu.

Arjun mengulurkan tangan, ragu-ragu. “Mungkin… mungkin ada yang masuk sebelum kita,” ia mencoba berargumen, tahu betul itu alasan yang lemah. Siapa yang akan bermain di villa terkutuk ini di tengah malam?

Dengan dorongan napas panjang, Arjun membuka pintu itu perlahan. Engsel berderit nyaring, memecah keheningan. Di dalamnya, sebuah ruangan yang tampaknya dulunya adalah ruang bermain anak-anak. Mainan-mainan berserakan di lantai.

Sebuah boneka porselen tanpa mata tergeletak di sudut, menatap kosong. Sebuah kuda goyang kayu berdebu seolah siap bergerak kapan saja. Dan di tengah semua kekacauan itu, tawa anak-anak itu kembali terdengar, memenuhi ruangan.

Tawa itu kini terasa mengelilingi mereka, datang dari setiap sudut. Seolah puluhan anak tak kasat mata sedang berlarian, bermain riang gembira. Bram mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Ia tak lagi berani tertawa.

“Ini tidak masuk akal,” gumam Bram, suaranya tercekat. “Tidak ada siapa-siapa di sini!” Ia mengayunkan senternya, mencoba mencari sumber suara, namun hanya kegelapan yang membalas.

Tiba-tiba, kuda goyang kayu itu berderit pelan. Hanya sekali, seolah ada beban yang baru saja menaikinya. Suara tawa itu sejenak mereda, digantikan oleh bisikan-bisikan halus yang tak bisa dimengerti.

Maya merasakan hawa dingin yang luar biasa di belakang lehernya. Ia berbalik dengan cepat, namun tak ada apa-apa. Hanya bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding, diciptakan oleh senter mereka sendiri.

Namun, di antara bayangan itu, Maya bersumpah melihat sekilas. Siluet kecil, seperti seorang anak, melesat cepat ke balik lemari usang. Ia tak berteriak, hanya menunjuk dengan jari gemetar ke arah itu.

Arjun dan Bram segera mengarahkan senter mereka. Tidak ada apa-apa di balik lemari. Hanya debu dan sarang laba-laba. Tawa itu kembali, kali ini terdengar lebih dekat, seolah berbisik di telinga mereka.

“Mereka ada di sini,” bisik Maya, matanya berkaca-kaca. “Mereka ada di mana-mana.” Ketakutan murni kini menguasai dirinya. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku di lantai.

Tiba-tiba, salah satu boneka kain di lantai bergerak. Bukan, bukan bergerak, melainkan bergeser sedikit. Seolah ada seseorang yang baru saja menyentuhnya, menggesernya dengan lembut.

Tawa itu kini berubah. Bukan lagi tawa riang, melainkan tawa yang mengejek. Tawa yang seolah mencemooh ketakutan mereka. Tawa yang mengandung kegelapan, bukan kepolosan.

Bram menjerit, kaget saat sebuah bola karet kecil menggelinding keluar dari bawah tempat tidur. Bola itu berhenti tepat di kakinya, seolah sengaja dilemparkan ke sana. Warnanya pudar, namun masih terlihat jejak sidik jari kecil di permukaannya.

Arjun merasakan tekanan di bahunya. Bukan sentuhan yang kuat, hanya desakan ringan, seperti tangan kecil yang mendorong. Ia menoleh, namun tak ada siapa-siapa di dekatnya. Hanya kehampaan yang dingin.

Tawa itu semakin histeris, semakin bising, memenuhi seluruh ruangan. Seolah puluhan anak-anak tak terlihat sedang mengelilingi mereka, menari-nari dalam kegelapan. Suara itu begitu nyata, namun tak ada wujud.

“Kita harus pergi!” teriak Arjun, suaranya pecah. Ia menarik tangan Maya, yang masih terdiam membatu. Bram sudah lebih dulu berlari menuju pintu, tanpa menoleh lagi. Ketakutan telah mengalahkan rasa penasarannya.

Mereka berlari keluar dari ruangan itu, menembus lorong gelap. Tawa anak-anak itu mengikuti mereka, menggema di belakang mereka, seolah mengejar. Suara langkah kaki mereka berpacu dengan melodi horor itu.

Maya tersandung, namun Arjun dengan sigap menariknya berdiri. Mereka tidak berani melihat ke belakang. Setiap bayangan terasa seperti sosok kecil yang siap menerkam. Setiap derit kayu terasa seperti langkah kaki.

Aula utama terasa lebih jauh dari yang mereka ingat. Udara di sana terasa lebih berat, seolah dipenuhi oleh entitas tak terlihat. Tawa itu kini terdengar dari depan dan belakang mereka, seolah villa itu hidup dan mengurung mereka.

Mereka sampai di pintu utama, napas terengah-engah. Bram telah lebih dulu sampai, mencoba membuka gerbang besi yang terasa macet. Panik menyelimuti mereka. Mereka terjebak.

Tawa itu semakin dekat, kini terdengar tepat di belakang punggung mereka. Sebuah bisikan dingin menyentuh telinga Arjun, “Jangan pergi…” Suara anak kecil, namun penuh ancaman.

Dengan kekuatan terakhir, Bram berhasil membuka gerbang. Engsel berderit melengking, seolah ikut menjerit. Mereka melesat keluar, tidak lagi peduli pada kamera atau konten. Hanya ingin selamat.

Mereka terus berlari, menembus semak belukar, tak berhenti sampai bayangan villa itu lenyap di balik pepohonan. Napas mereka tersengal, paru-paru terasa terbakar. Mereka ambruk di pinggir jalan, jauh dari villa terkutuk itu.

Keheningan malam yang menyelimuti mereka kini terasa bagai anugerah. Namun, keheningan itu tak mampu menghapus suara tawa anak-anak yang masih terngiang di benak mereka. Tawa yang kini terasa dingin, kosong, dan sangat mengerikan.

Mereka tak pernah lagi kembali ke Villa Angker Nirmala. Mereka juga tak pernah merilis video eksplorasi mereka. Bagaimana bisa mereka menjelaskan apa yang mereka dengar, apa yang mereka rasakan? Dunia tidak akan percaya.

Namun, di malam-malam sunyi, saat angin berdesir di luar jendela, mereka bersumpah masih bisa mendengarnya. Tawa anak-anak itu, melayang-layang dari villa tua tak berpenghuni, mencari teman bermain baru di kegelapan abadi.

Villa itu kini tetap berdiri, kokoh namun menyeramkan. Jendela-jendela kosongnya masih menatap hampa ke arah jalan. Dan di dalam sana, di antara debu dan kenangan yang memudar, tawa anak-anak itu terus bergema.

Apakah mereka arwah yang terperangkap? Atau hanya sisa-sisa energi dari masa lalu yang tragis? Misteri Villa Angker Nirmala tetap tak terpecahkan. Hanya suara tawa itu yang menjadi saksi bisu.

Tawa yang polos namun kejam. Tawa yang ceria namun mematikan. Tawa anak-anak yang tak pernah berhenti, menghantui siapa pun yang berani mendekat, memanggil mereka untuk bergabung dalam permainan abadi.

Dan di setiap malam, ketika rembulan bersinar di atas hutan, tawa itu masih terdengar. Sebuah pengingat bahwa beberapa tempat sebaiknya dibiarkan sendiri, agar misteri mereka tetap terkunci dalam kegelapan.

Suara Tawa Anak-anak di Villa Tua Tak Berpenghuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *