Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Suara Tangisan Misterius Ganggu Penerbangan Malam Ini, Kru Lapor Keanehan

10
×

Suara Tangisan Misterius Ganggu Penerbangan Malam Ini, Kru Lapor Keanehan

Share this article

Tangisan dari Galley Belakang

Gelombang Laut Jawa memukul lambung KM Samudera Biru. Andi, koki baru, merasa janggal sejak pertama kali menginjakkan kaki di kapal kargo tua itu. Bau karat dan ikan busuk menusuk hidung, seolah kapal menyimpan rahasia kelam. Ada misteri yang menggantung di udara.

Malam pertama, suara itu terdengar. Samar, namun jelas, tangisan lirih dari arah galley belakang. Andi mengira itu hanya angin atau derit besi tua. Namun, ada nada putus asa dalam suara itu, yang membuatnya merinding.

Ia mencoba mengabaikannya, membalikkan badan di ranjang sempitnya. Tapi tangisan itu tak kunjung berhenti. Itu bukan suara binatang atau mesin. Itu adalah ratapan pilu, sebuah desahan kesedihan yang menusuk.

Keesokan harinya, Andi bertanya pada Pak Tua, koki senior. “Pak, apa ada yang aneh di galley belakang?” tanyanya hati-hati. Pak Tua hanya mendengus, matanya menerawang jauh. “Jangan banyak tanya, Nak,” jawabnya singkat. “Fokus saja pada masakanmu.”

Jawaban itu hanya menambah rasa penasaran Andi. Malam kedua, tangisan itu kembali, lebih jelas dan lebih dekat. Kali ini, Andi tidak bisa tidur. Ia bangkit, jantungnya berdegup kencang di dadanya.

Kakinya melangkah perlahan menuju sumber suara. Koridor kapal gelap, hanya diterangi lampu redup. Setiap derit papan kayu di bawah kakinya terasa memekakkan telinga. Dinginnya malam menusuk kulit.

Tangisan itu memandu langkahnya ke bagian paling belakang galley. Sebuah pintu besi tua, berkarat dan terkunci rapat, berdiri di hadapannya. Dari balik pintu itulah suara itu berasal, merintih pelan.

Andi mencoba gagang pintu, tapi terkunci kuat. Ia mengetuk pelan. Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Keheningan menyelimuti, lebih menyeramkan dari suara apa pun. Andi menahan napas, menanti.

Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa saat, kemudian kembali ke kabinnya. Tidurnya terganggu oleh bayangan dan pertanyaan. Apa yang ada di balik pintu itu? Siapa yang menangis?

Beberapa hari berikutnya, tangisan itu menjadi rutinitas menakutkan. Kadang terdengar seperti anak kecil, kadang seperti wanita dewasa. Frekuensinya acak, membuat Andi gelisah sepanjang waktu. Awak kapal lain tampaknya tidak peduli, atau pura-pura tidak mendengar.

Kapten Arman, seorang pria bertubuh besar dengan tatapan tajam, mengabaikan setiap pertanyaan Andi. “Kapal ini tua, banyak suara aneh,” katanya dengan nada mengancam. “Jangan biarkan imajinasimu bermain.”

Ancaman itu jelas. Ada sesuatu yang disembunyikan. Andi tidak bisa lagi menahan diri. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia harus tahu. Ia mulai mencari petunjuk di sekitar galley.

Ia memeriksa setiap sudut, setiap celah. Dinding-dindingnya kotor, lantai lengket. Bau amis dan besi berkarat bercampur di udara. Tidak ada yang tampak aneh.

Namun, suatu sore, saat membersihkan lemari penyimpanan, ia menemukan sesuatu. Sebuah papan lantai yang sedikit lebih longgar dari yang lain. Ia mencoba mengungkitnya dengan pisau.

Di bawah papan itu, ada sebuah celah kecil. Cukup untuk melihat, tidak cukup untuk masuk. Andi menyalakan senter ponselnya dan mengarahkan cahayanya ke dalam. Kegelapan pekat menyambutnya.

Tidak ada apa-apa, hanya ruang kosong di bawah lantai. Tapi ia merasakan hawa dingin yang menusuk dari sana. Sebuah bau aneh, bukan bau karat atau ikan, tapi sesuatu yang lebih busuk.

Malam itu, tangisan kembali. Kali ini, lebih keras, lebih histeris. Seolah-olah sumbernya tahu Andi telah mendekat. Itu adalah jeritan keputusasaan yang menusuk jantung. Andi tahu ia harus bertindak.

Ia menunggu semua orang tidur. Gelap gulita di kapal. Hanya suara mesin yang bergemuruh pelan. Andi membawa obeng dan senter, kembali ke galley belakang. Jantungnya berdebar tak karuan.

Ia mulai membongkar papan-papan lantai di sekitar celah. Setiap derit kayu terasa seperti petir. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ketegangan mencekiknya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, sebuah lubang cukup besar terbuka. Di bawahnya, sebuah terowongan sempit, gelap, dan kotor. Bau busuk semakin kuat, membuat perut Andi mual.

Tangisan itu, kini lebih mirip rintihan, terdengar dari ujung terowongan. Andi memberanikan diri. Ia merangkak masuk, senter di tangannya gemetar. Udara di dalam lembap dan pengap.

Dinding terowongan terasa dingin dan licin. Setiap inci terasa seperti jebakan. Andi merangkak maju, mengikuti suara rintihan yang kini terdengar lemah. Ketakutannya mencapai puncaknya.

Terowongan itu berakhir di sebuah ruangan kecil. Itu adalah gudang penyimpanan yang tersembunyi, yang tidak tercatat di peta kapal. Lampu senter Andi menyapu ruangan itu.

Di sudut ruangan, meringkuk di antara tumpukan karung kosong, ada sesosok tubuh. Kurus kering, rambut panjangnya acak-acakan. Itu adalah seorang wanita, terikat rantai ke dinding.

Matanya terbelalak, menatap Andi dengan pandangan kosong. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menangis lagi, hanya mengeluarkan rintihan kecil, hampir tidak terdengar. Kulitnya pucat pasi.

Andi terkesiap, mundur selangkah. Ini bukan hantu. Ini adalah manusia. Seorang tawanan. Ngeri merayap di benaknya. Siapa dia? Mengapa dia di sini? Dan siapa yang melakukannya?

Ia melihat sekeliling. Beberapa wadah makanan kosong berserakan di lantai. Wanita itu pasti sudah lama di sana. Tangisan itu adalah jeritan minta tolong yang tak pernah didengar.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari terowongan di belakang Andi. Jantungnya melompat. Ia tidak sendirian. Senter di tangannya jatuh, berguling, dan padam. Kegelapan total.

Suara langkah itu mendekat, diikuti suara napas berat. Andi merasakan kehadiran seseorang yang sangat dekat. Udara di sekitarnya terasa dingin dan menekan. Ia tak bisa bergerak.

“Akhirnya kau menemukannya, koki muda,” sebuah suara berat berbisik di kegelapan. Itu suara Kapten Arman. Suaranya terdengar dingin dan tanpa emosi. “Aku sudah tahu kau akan penasaran.”

Rasa takut mencekik Andi. Ia tahu ia dalam masalah besar. Tangisan dari galley belakang kini memiliki jawaban yang jauh lebih mengerikan dari sekadar hantu. Itu adalah rahasia gelap yang dijaga dengan nyawa.

“Tangisan dari Galley Belakang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *