Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Terungkap! Misteri Tangisan Malam dari Rumah Gadang Warisan Kuno

13
×

Terungkap! Misteri Tangisan Malam dari Rumah Gadang Warisan Kuno

Share this article

Terungkap! Misteri Tangisan Malam dari Rumah Gadang Warisan Kuno

Tangisan di Balik Ukiran Tua: Misteri Rumah Gadang Pusaka

Kania menjejakkan kaki di ambang batas. Sebuah rumah adat menjulang di hadapannya. Proyek risetnya tentang arsitektur tradisional menuntunnya kemari. Namun ada aura yang berbeda, bukan sekadar sejarah.

Kayu ulin yang menghitam dimakan usia, ukiran rumit yang memudar. Atap menjulang tinggi seperti mahkota raksasa. Keheningan pekat menyelimuti segalanya. Udara dingin merayapi kulitnya.

Ia adalah seorang etnografer muda, selalu logis. Percaya pada data, bukan desas-desus. Desa terpencil ini menjanjikan kearifan lokal. Tapi penduduknya menatapnya aneh, seolah Kania berjalan menuju jurang.

Rumah Gadang ini, kata mereka, telah kosong puluhan tahun. Keluarga terakhir meninggalkannya mendadak. Hanya ada satu peringatan: “Jangan biarkan malam menjebakmu di dalamnya.” Kania hanya tersenyum.

Malam pertama tiba, membawa serta embusan angin dingin. Kania memeriksa kamera dan alat rekamnya. Semua siap untuk eksplorasi esok hari. Ia memutuskan tidur di ruang tamu, dekat jendela.

Sekitar pukul dua dini hari, sebuah suara halus mengoyak sunyi. Rintihan. Tipis, nyaris tak terdengar. Kania terbangun, telinganya menajam. Angin? Atau mungkin kucing liar?

Ia mencoba kembali tidur, namun suara itu kembali. Lebih jelas kali ini. Isakan kecil, putus-putus. Seperti tangisan bayi yang tertahan. Jantung Kania mulai berdegup lebih cepat.

Ia bangkit perlahan, merangkak menuju sumber suara. Lorong gelap gulita, hanya diterangi senter ponselnya. Debu beterbangan di setiap langkahnya. Udara semakin dingin, menusuk tulang.

Tangisan itu berasal dari bagian belakang rumah. Sebuah kamar terkunci, pintunya berukiran bunga teratai. Kania mencoba membuka, namun terkunci rapat. Tangisan itu kini terdengar lebih dekat, seolah di baliknya.

Ketakutan mulai merayap. Ini bukan angin, bukan kucing. Kania mundur perlahan, kembali ke ruang tamu. Ia menghabiskan sisa malam dalam keadaan terjaga, memeluk lutut, mendengarkan isakan samar yang tak kunjung berhenti.

Pagi menjelang, cahaya matahari menerobos masuk. Ketakutan semalam terasa irasional. Kania menertawakan dirinya sendiri. Mungkin ia terlalu lelah, berhalusinasi. Atau ada bayi tetangga yang menangis.

Ia mulai bekerja, mengukur setiap tiang, mencatat setiap ukiran. Setiap sudut rumah menyimpan cerita. Namun, matanya terus melirik ke arah kamar terkunci. Sebuah daya tarik aneh memanggilnya.

Siang itu, ia bertemu dengan Pak Karim, kepala suku adat. Kania bertanya tentang kamar terkunci itu. Pak Karim menunduk, matanya redup. “Itu kamar seorang ibu, Nona,” katanya pelan.

“Ibu itu kehilangan anaknya,” lanjut Pak Karim. “Satu-satunya. Sejak itu, dia tak pernah berhenti menangis. Bahkan setelah dia tiada.” Kania merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.

“Apakah… apakah ada yang pernah mendengar tangisan bayi di sini?” Kania bertanya hati-hati. Pak Karim hanya menghela napas panjang. “Beberapa orang bilang begitu. Tapi itu hanya cerita lama.”

Malam kedua, Kania sudah siap. Ia tidak tidur di ruang tamu. Ia memilih kamar yang lebih dekat dengan kamar terkunci itu. Ketegangan menggantung di udara. Ia ingin membuktikan, atau menyanggah.

Pukul dua dini hari lagi. Dan tangisan itu datang. Lebih nyaring, lebih putus-putus. Kali ini diiringi suara seperti ayunan berderit. Kania meraih senternya, napasnya tertahan.

Ia merangkak mendekat ke kamar terkunci. Tangisan itu kini terdengar seperti di sampingnya. Kania mendekatkan telinga ke pintu. Jelas sekali, itu tangisan bayi. Dan suara ayunan itu nyata.

Ada desiran angin dingin melewati celah pintu. Kania merasa seolah ada yang mengawasinya dari dalam. Ia menggigil, bukan hanya karena dingin. Ini adalah ketakutan purba yang menggerogoti jiwanya.

Tiba-tiba, suara tangisan itu berubah. Bukan lagi rintihan, tapi jeritan pilu. Sebuah jeritan yang mengoyak hati, penuh keputusasaan. Seperti jeritan terakhir sebelum keheningan.

Kania terlonjak mundur, menabrak dinding. Jantungnya berdebar kencang, nyaris meledak. Ia melihat sekeliling, mencari jalan keluar. Namun kegelapan rumah adat itu seolah menelannya.

Ia berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Jeritan bayi itu semakin memekakkan telinga. Ayunan berderit semakin cepat. Ada bayangan berkelebat di bawah pintu. Sosok kecil.

Kania berlari tanpa arah, menabrak perabotan tua. Ia hanya ingin keluar. Udara semakin berat, seolah mencekiknya. Tangisan itu kini di mana-mana, mengelilinginya.

Ia sampai di pintu utama, menarik gagangnya dengan panik. Terkunci. Ia lupa menguncinya dari dalam. Kepanikan murni menguasai dirinya. Ia terjebak. Bersama apa pun yang ada di rumah ini.

Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Hening. Keheningan yang lebih mengerikan dari suara apa pun. Kania berdiri mematung, napasnya terengah-engah. Apa yang terjadi?

Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan dingin di kakinya. Sebuah tarikan lembut. Kania menunduk perlahan. Di kakinya, sebuah kain putih lusuh melilit. Kain gendongan bayi.

Bau anyir dan lembab menyeruak. Kain itu seolah hidup, bergerak perlahan. Kania menjerit, melepaskan diri dari kain itu. Ia mundur, terhuyung-huyung.

Kemudian, ia melihatnya. Di ujung lorong, di ambang kamar terkunci. Sebuah sosok mungil berdiri. Kabur, tembus pandang. Mengulurkan tangan kecilnya ke arah Kania.

Itu adalah bayi. Matanya kosong, mulutnya sedikit terbuka. Dari mulut itu, tidak ada suara. Namun Kania bisa merasakan tangisannya, resonansinya di dalam dadanya. Tangisan pilu yang tak pernah usai.

Kania menutup mata, berteriak tanpa suara. Ia terjatuh ke lantai, lututnya lemas. Ia tidak sanggup melihatnya. Sosok itu perlahan mendekat. Setiap langkahnya, udara semakin dingin.

Kemudian, sebuah bisikan. Bukan suara bayi. Suara wanita. “Bayiku… kembalikan bayiku…” Suara itu bergetar, penuh kesedihan mendalam. Itu adalah suara ibu yang kehilangan segalanya.

Kania membuka mata. Sosok bayi itu kini tepat di depannya. Matanya memohon. Kania tahu, ini bukan entitas jahat. Ini adalah kesedihan yang tak terucap, terperangkap di antara dinding-dinding tua ini.

Ia melihat ke arah kamar terkunci. Pintu itu kini terbuka sedikit. Sebuah cahaya samar memancar dari dalamnya. Kania merangkak, mendekati ambang pintu.

Di dalam kamar, sebuah ranjang bayi usang berdiri. Di atasnya, sebuah boneka kain lusuh tergeletak. Dan di dinding, sebuah lukisan buram seorang wanita menggendong bayi. Wajah wanita itu penuh air mata.

Tangisan bayi itu kembali terdengar. Tapi kali ini, tidak menakutkan. Lebih seperti ratapan perpisahan. Sosok bayi itu melayang ke arah ranjang, perlahan-lahan memudar.

Kania meraih boneka kain itu. Dingin. Ia memeluknya erat. “Dia tidak sendirian,” bisiknya. “Dia tidak sendirian.” Ia merasakan air mata mengalir di pipinya, bukan karena takut, tapi karena duka.

Perlahan, tangisan itu mereda. Cahaya di kamar meredup. Sosok bayi itu benar-benar lenyap. Keheningan kembali meraja. Namun kali ini, keheningan yang berbeda. Keheningan damai.

Pagi menjelang. Kania menemukan dirinya tertidur di lantai, memeluk boneka kain itu. Tubuhnya pegal, matanya bengkak. Tapi ia merasakan beban berat telah terangkat dari pundaknya.

Ia bangkit, meletakkan boneka itu kembali di ranjang bayi. Ia mengunci pintu kamar itu dari luar. Bukan untuk mengurung, tapi untuk menjaga kedamaian yang baru ditemukan.

Kania meninggalkan rumah adat itu. Ia tidak menyelesaikan risetnya. Tapi ia membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar data. Sebuah kisah. Sebuah misteri yang terungkap.

Ia tahu, tangisan bayi itu mungkin tak akan pernah terdengar lagi. Atau mungkin, ia hanya tak akan lagi mendengarnya. Karena ia telah menyaksikan dan mengakui kesedihan yang terpendam.

Rumah Gadang itu kini terasa berbeda. Bukan lagi tempat angker, tapi sebuah monumen duka yang akhirnya menemukan ketenangan. Sebuah rumah tempat kenangan pahit akhirnya beristirahat.

Kania tidak akan pernah melupakan malam itu. Tangisan bayi di rumah adat tua. Sebuah misteri yang membawanya pada kebenaran tentang duka, kehilangan, dan roh yang tak pernah mati.

Dan di setiap hembusan angin yang melewati ukiran tua, Kania akan selalu mendengar bisikan samar. Bukan lagi tangisan, tapi sebuah lagu pengantar tidur. Untuk jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian.

Terungkap! Misteri Tangisan Malam dari Rumah Gadang Warisan Kuno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *