Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Toilet Ini Mengeluarkan Suara Panggilan… dan Tak Ada Siapa pun di Dalamnya

10
×

Toilet Ini Mengeluarkan Suara Panggilan… dan Tak Ada Siapa pun di Dalamnya

Share this article

 

Toilet yang Terus Memanggil

Risa baru saja pindah ke rumah peninggalan neneknya. Bangunan tua itu menjulang tinggi dengan aura kusam. Jendela-jendelanya berderit, lantai kayunya melenguh di setiap pijakan. Risa berusaha keras merasa nyaman.

Ia mulai membersihkan setiap sudut. Kamar mandi utama menjadi prioritasnya. Toilet porselen putih itu tampak kuno, sedikit retak di bagian tepinya. Risa menggosoknya dengan sabun.

Malam pertama Risa di rumah itu, ketenangan pecah. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Seperti ada yang baru saja menyiram toilet. Risa yakin ia belum menggunakannya.

Ia bangkit dari tempat tidur. Melangkah perlahan menuju sumber suara. Pintu kamar mandi sedikit terbuka. Gelap di dalamnya. Risa mengintip.

Tidak ada siapa-siapa. Toilet itu tampak normal. Air di dalamnya tenang. Risa menggelengkan kepala, mungkin hanya pipa tua yang berulah. Ia kembali ke kamar.

Namun, suara itu kembali. Kali ini lebih jelas. Bukan hanya gemericik, tapi seperti tarikan napas panjang. Seolah ada yang menahan napas di dalam sana. Risa terdiam.

Jantungnya berdebar. Ia meraih senter. Kembali ke kamar mandi. Senter menyorot ke arah toilet. Tidak ada yang aneh. Permukaan airnya tetap diam.

Risa mencoba menyiramnya. Bunyi air mengalir, lalu berhenti. Ia menunggu. Hening. Mungkin ia terlalu lelah. Ia kembali mencoba tidur.

Beberapa malam berikutnya, fenomena itu makin intens. Suara siraman air muncul tanpa sebab. Terkadang, disertai desisan samar. Seperti bisikan dari dasar lubang.

Risa mulai merasa terganggu. Ia memanggil tukang ledeng. Pria itu memeriksa pipa-pipa. Tidak ada kebocoran, tidak ada kerusakan. Semuanya normal.

“Mungkin hanya tekanan air,” tukang ledeng itu menyimpulkan. Risa tidak yakin. Tekanan air tidak bisa berbisik. Tekanan air tidak bisa memanggil namanya.

Ya, ia mulai mendengar bisikan. Sangat samar pada awalnya. “Risa…”. Suara itu terdengar lembut. Tapi begitu jelas. Seolah berasal dari dalam porselen dingin itu.

Risa menutup telinganya. Ia mencoba mengabaikannya. Ini pasti kelelahan. Atau imajinasinya bermain-main. Ia mencoba berpikir logis.

Tapi bisikan itu semakin kuat. Terkadang di tengah malam. “Risa… tolong…” Suara itu terdengar seperti seorang wanita. Sangat sedih dan putus asa.

Risa mulai ketakutan. Ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Mengunci dari luar. Ia bahkan menumpuk kursi di depannya. Tapi suara itu tetap menembus.

Ia mulai merasa terisolasi. Tidak ada yang akan percaya ceritanya. Mereka akan mengira ia gila. Rumah tua ini mulai terasa seperti penjara.

Suatu malam, Risa terbangun oleh suara gemuruh. Lebih keras dari sebelumnya. Air di toilet kamar mandi seolah mendidih. Ia bisa mendengarnya dari kamarnya.

Rasa takut bercampur penasaran mendorongnya. Ia memberanikan diri. Melangkah ke kamar mandi. Cahaya bulan masuk melalui jendela kecil. Menerangi toilet itu.

Air di dalamnya bergolak hebat. Berwarna keruh. Seperti lumpur hitam. Dari dalam pusaran itu, sebuah tangan pucat muncul. Perlahan meraih ke atas.

Risa menjerit. Ia mundur terhuyung-huyung. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar kencang di dadanya. Itu bukan halusinasi. Itu nyata.

Tangan itu tampak kurus, dengan jari-jari panjang. Kuku-kukunya patah dan hitam. Tangan itu seperti meminta bantuan. Risa tidak bisa bergerak.

Bisikan itu kini menjadi tangisan. “Tolong… aku di sini… terjebak…” Suara itu memilukan. Rasa takut Risa bercampur dengan iba.

Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Toilet itu adalah sebuah portal. Sebuah jalan menuju dunia lain. Atau sebuah penjara.

Risa teringat cerita-cerita lama neneknya. Tentang rumah ini. Tentang tragedi yang pernah terjadi. Seorang gadis kecil yang menghilang.

Namanya Lina. Sekitar enam puluh tahun yang lalu. Ia menghilang tanpa jejak. Polisi tidak pernah menemukan petunjuk. Kasusnya ditutup.

Apakah ini Lina? Apakah ia terjebak di suatu tempat? Dan toilet ini adalah satu-satunya jalan keluarnya? Atau satu-satunya cara ia bisa berkomunikasi?

Risa mulai meneliti rumah itu. Mencari petunjuk. Ia membaca buku harian neneknya. Mencari arsip koran lama. Segala sesuatu tentang Lina.

Ia menemukan sebuah artikel. Lina terakhir terlihat bermain di dekat kamar mandi. Sebelum ia menghilang. Itu adalah petunjuk penting.

Suara dari toilet semakin mendesak. Kini, bukan hanya tangan. Terkadang bayangan samar wajah muncul. Sebuah wajah kecil, pucat, dan mata ketakutan.

“Aku takut… mereka datang…” bisik suara itu. Risa mengerutkan kening. Siapa “mereka”? Apa yang terjadi pada Lina?

Risa memeriksa dinding di sekitar toilet. Mengetuk-ngetuk. Mencari rongga kosong. Mencari sesuatu yang tersembunyi.

Ia menemukan retakan kecil di ubin lantai. Di belakang toilet. Tersembunyi di balik pipa. Hampir tidak terlihat.

Risa mencoba mengungkitnya. Dengan obeng, ia berhasil membuka ubin itu. Di bawahnya, ada sebuah rongga. Kecil dan gelap.

Ia menyalakan senter. Menyorot ke dalam. Debu dan sarang laba-laba memenuhi rongga itu. Di dasar, ada sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu sudah lapuk. Risa meraihnya dengan hati-hati. Ia membukanya. Di dalamnya, ada beberapa benda. Boneka kecil, jepit rambut, dan sebuah buku harian.

Buku harian Lina. Tulisan tangannya masih jelas. Risa mulai membaca. Halaman demi halaman, rahasia terungkap.

Lina tidak menghilang. Ia disembunyikan. Oleh seorang kerabat yang tamak. Yang menginginkan tanah keluarga. Lina adalah penghalang.

Ia disekap di sebuah ruangan tersembunyi. Dekat kamar mandi. Melalui sebuah pintu rahasia. Yang kini telah ditutup rapat.

Tangisan dari toilet makin keras. Bukan lagi tangisan putus asa. Tapi tangisan lega. “Terima kasih… kau menemukanku…”

Risa menelusuri dinding. Mencari pintu rahasia itu. Di balik cermin besar kamar mandi. Ada sebuah mekanisme.

Ia menekannya. Dinding di belakang cermin bergeser. Menampakkan lorong gelap. Bau apak menusuk hidung.

Di ujung lorong, ada sebuah ruangan kecil. Di sana, Lina disembunyikan. Ia meninggal di sana. Sendirian.

Risa menutup mata. Kesedihan melandanya. Roh Lina terjebak. Tidak bisa tenang. Sampai kebenaran terungkap.

Ia membawa buku harian itu ke polisi. Cerita Lina akhirnya didengar. Kasus lama dibuka kembali. Kebenaran terkuak.

Sejak hari itu, toilet di kamar mandi utama tidak lagi memanggil. Tidak ada lagi bisikan. Tidak ada lagi tangan pucat.

Airnya tenang. Porselennya dingin. Namun, Risa tidak pernah bisa melihatnya sama. Toilet itu bukan lagi sekadar perabot.

Ia adalah saksi bisu. Penjaga rahasia. Sebuah portal bagi jiwa yang tersesat. Risa tahu, ia kini tinggal di rumah yang damai.

Tapi kenangan tentang bisikan itu. Tentang tangan yang muncul dari dalam. Akan selalu menghantuinya. Setiap kali ia melihat toilet itu.

Ia tahu, ada lebih banyak hal di dunia ini. Daripada yang bisa dilihat mata telanjang. Dan kadang, kebenaran itu. Bisa keluar dari tempat yang paling tak terduga.

Bahkan dari sebuah toilet tua. Yang pernah terus memanggil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *