Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Jangan Pernah Bermalam di Vila Ini — Terutama Saat Sungai Sedang Pasang

10
×

Jangan Pernah Bermalam di Vila Ini — Terutama Saat Sungai Sedang Pasang

Share this article

Jangan Pernah Bermalam di Vila Ini — Terutama Saat Sungai Sedang Pasang

Bisikan Sungai Tua: Misteri Vila Terbengkalai di Tepi Air

Udara sore menggantung berat, memeluk Arya dengan kelembapan dan aroma lumut. Ia berdiri di tepi sungai yang mengalir tenang, namun memancarkan aura melankolis. Di seberang, diselimuti rimbunnya pepohonan tua, sesosok bayangan hitam menjulang: sebuah vila terbengkalai, legenda lokal yang kerap ia dengar.

Sudah lama ia ingin menjelajahi tempat itu. Sebagai seorang fotografer dan penulis yang mencari inspirasi, daya tarik misteri adalah magnet tak tertahankan. Vila itu, dengan jendela-jendela pecah dan cat yang mengelupas, tampak seperti lukisan yang belum selesai, atau lebih tepatnya, sebuah kisah yang belum terungkap.

Ia menemukan sebuah perahu kecil yang terikat di dermaga reyot, seolah menunggunya. Dengan sedikit ragu, Arya menaiki perahu, mendayung perlahan menyeberangi arus yang sunyi. Setiap kayuhan terasa seperti langkah menuju masa lalu yang gelap.

Ketika kakinya menjejak tanah di seberang, sensasi dingin merayapi kulitnya, bukan karena angin, melainkan aura yang terpancar dari vila. Gerbang besi berkarat terbuka sedikit, mengundang dengan decitan panjang. Arya melangkah masuk, melewati semak belukar yang liar dan pohon-pohon rindang yang menjulurkan dahan-dahan seperti jari-jari kurus.

Halaman depan adalah labirin yang ditelan waktu. Rumput setinggi pinggang menyembunyikan jalan setapak yang dulu terawat. Pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi tampak seperti penjaga abadi, bisu namun penuh rahasia.

Fasad vila itu megah, namun memancarkan kesedihan. Pilar-pilar klasik telah retak, dan ukiran pada dindingnya mulai terkikis. Arya menduga, ini pasti dulunya adalah kediaman mewah, tempat tawa dan kebahagiaan pernah bersemi.

Ia mendekati pintu utama, terbuat dari kayu jati tebal yang kini melengkung dan pecah di beberapa tempat. Engselnya berderit protes saat ia mencoba membukanya. Akhirnya, dengan dorongan pelan, pintu itu terbuka, menampakkan kegelapan pekat di dalamnya.

Debu tebal menyelimuti segalanya, menari-nari dalam sorotan cahaya senja yang menembus celah-celah jendela. Udara di dalam terasa pengap, dingin, dan berbau apek. Arya mengeluarkan senternya, cahayanya menembus kegelapan, memperlihatkan jejak-jejak kehidupan yang tiba-tiba terhenti.

Ruang tamu adalah pemandangan yang menyayat hati. Sofa-sofa mewah kini robek dan berjamur, meja kopi terbalik, dan sebuah lampu gantung kristal tergantung miring, nyaris putus. Seolah-olah para penghuninya pergi tergesa-gesa, tanpa sempat berpamitan pada harta benda mereka.

Di sudut, sebuah piano besar tergeletak, tutsnya menguning dan beberapa hilang. Arya menyentuh salah satu tuts yang tersisa; suara sumbang yang keluar terasa seperti ratapan. Ia membayangkan melodi-melodi indah yang dulu mengisi ruangan ini, kini digantikan oleh keheningan yang menyesakkan.

Ia melangkah perlahan, setiap jejak kakinya menimbulkan awan debu. Koridor panjang membentang ke belakang, dihiasi lukisan-lukisan berbingkai tebal yang kini tertutup sarang laba-laba. Beberapa lukisan tergantung miring, wajah-wajah dalam potret menatapnya dengan pandangan kosong.

Di salah satu dinding, sebuah bingkai foto kosong menggantung. Seolah-olah foto di dalamnya telah dicopot dengan tergesa-gesa, meninggalkan jejak persegi yang lebih bersih di antara lapisan debu. Arya merasakan bulu kuduknya merinding.

Ia memasuki dapur, sebuah ruang yang dulunya sibuk kini sunyi membeku. Peralatan masak berserakan di meja, beberapa piring pecah di lantai. Sebuah kalender usang tergantung di dinding, menunjukkan tanggal di bulan Oktober, beberapa dekade yang lalu.

Di bawah kalender, Arya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya: sebuah noda coklat tua yang telah mengering, mirip seperti bercak darah. Jantungnya berdebar lebih cepat. Apakah ini petunjuk? Atau hanya noda lama yang menyesatkan?

Ia melanjutkan penjelajahan ke lantai atas. Tangga kayu berderit di bawah bobotnya, setiap anak tangga seolah mengeluh. Di puncak, lorong yang lebih gelap membentang, diapit oleh deretan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat.

Pintu pertama mengarah ke kamar tidur utama. Ranjang besar dengan seprai compang-camping mendominasi ruangan. Meja rias dipenuhi botol-botol parfum kosong dan perhiasan imitasi yang telah berkarat. Sebuah cermin pecah merefleksikan bayangan Arya yang terdistorsi.

Di samping ranjang, sebuah buku terbuka tergeletak di lantai. Arya mengambilnya. Itu adalah novel klasik, dengan halaman yang menguning. Penanda bukunya adalah sehelai bunga kering yang telah hancur. Seolah pembacanya tiba-tiba berhenti di tengah kalimat.

Ia beralih ke kamar sebelah, yang tampak seperti kamar anak-anak. Dindingnya dihiasi gambar-gambar kartun pudar, dan sebuah ranjang kecil tanpa kasur berdiri di sudut. Mainan-mainan berserakan di lantai, boneka beruang tanpa mata menatap kosong ke arahnya.

Di bawah tumpukan mainan, Arya menemukan sebuah gambar yang terbuat dari krayon. Gambaran sebuah keluarga bahagia di tepi sungai, dengan vila di latar belakang. Namun, ada sesuatu yang janggal: wajah-wajah dalam gambar itu tidak memiliki mata.

Sebuah sensasi aneh mulai menjalari Arya. Bukan hanya dingin, tapi rasa diawasi. Bisikan-bisikan halus seolah melayang di udara, terlalu samar untuk dipahami, namun cukup nyata untuk membuat tengkuknya meremang.

Ia memutuskan untuk mencari ruang kerja atau perpustakaan, tempat di mana mungkin ada dokumen atau petunjuk lebih lanjut. Ia menemukan sebuah pintu di ujung lorong, sedikit terbuka, menguak celah kegelapan yang lebih pekat.

Ruangan itu dipenuhi rak-rak buku yang sebagian besar kosong. Sebuah meja kerja besar berada di tengah, dengan tumpukan kertas berserakan. Sebuah lampu meja terguling, dan pena bulu tergeletak di samping sebuah buku harian.

Jantung Arya berpacu. Ini dia. Buku harian bersampul kulit lusuh itu tampak seperti kunci ke misteri ini. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Tulisan tangan yang rapi mengisi halaman-halaman yang menguning.

20 Mei [tahun tidak jelas]
“Hari ini kami pindah ke vila ini. Indah sekali! Anak-anak sangat senang dengan sungai di belakang rumah. Suamiku berjanji ini akan menjadi awal yang baru bagi kami.”

17 Juli [tahun yang sama]
“Ada suara-suara aneh di malam hari. Seolah ada yang berbisik dari balik dinding. Suamiku bilang itu hanya angin, tapi aku tidak yakin.”

5 September [tahun yang sama]
“Anak-anak mulai ketakutan. Mereka bilang melihat ‘bayangan’ di lorong. Aku mencoba menenangkan mereka, tapi aku sendiri mulai merasakan kehadiran yang tidak menyenangkan.”

21 Oktober [tahun yang sama]
“Suara-suara itu semakin jelas, lebih menyeramkan. Mereka memanggil nama kami. Aku merasa vila ini hidup, bernapas, dan menginginkan sesuatu dari kami. Suamiku mulai berubah, dia terlihat lelah dan sering melamun.”

12 November [tahun yang sama]
“Anakku yang kecil, Lily, melukis. Dia menggambar kami semua tanpa mata. Dia bilang, ‘Matanya sudah diambil oleh vila.’ Aku tidak bisa tidur lagi. Ketakutan itu nyata.”

30 November [tahun yang sama]
“Kami harus pergi. Vila ini… dia tidak ingin kami pergi. Aku merasa dia mengikat kami. Suamiku… dia tidak lagi terlihat seperti dirinya. Matanya kosong.”

Halaman terakhir dari buku harian itu hanya berisi tulisan tangan yang kacau, coretan-coretan tidak beraturan, dan sebuah kalimat yang nyaris tidak terbaca: “Dia mengambil kami… satu per satu… di balik dinding…”

Sebuah sensasi dingin yang menusuk tulang belakang menjalari Arya. Ia mengangkat kepalanya, matanya menyapu sekeliling ruangan. Bisikan-bisikan itu kini lebih jelas, seolah langsung di telinganya. Kata-kata tidak jelas, namun intonasinya dipenuhi penderitaan dan kegilaan.

Ia merasakan sebuah sentuhan dingin di bahunya. Arya tersentak, berbalik dengan cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan dan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Namun, bau amis yang tajam tiba-tiba menyeruak, memenuhi indra penciumannya.

Senternya mulai berkedip-kedip, cahayanya melemah, menciptakan ilusi mengerikan. Bayangan di sudut ruangan tampak bergerak, memanjang, seolah membentuk siluet manusia yang memudar. Arya menahan napas, jantungnya berdebar kencang di dadanya.

Ia mendengar suara decitan dari bawah lantai, seolah ada sesuatu yang merangkak. Kemudian, suara gesekan yang mengerikan, seperti kuku-kuku panjang menggaruk permukaan kayu. Suara itu datang dari balik dinding, dari dalam kegelapan itu sendiri.

Buku harian di tangannya terasa membakar. Arya menjatuhkannya, mundur perlahan. Ia bisa merasakan tatapan tak terlihat yang mengikutinya, meresap ke dalam jiwanya. Vila ini bukan hanya terbengkalai, ia adalah jebakan, sebuah makam yang hidup.

Kepanikan menyergapnya. Ia berbalik, berlari menuruni tangga tanpa mempedulikan deritannya yang melengking. Ia tidak lagi mencari inspirasi atau misteri; ia hanya ingin keluar, ingin bernapas, ingin lepas dari cengkeraman tempat terkutuk ini.

Di ruang tamu, ia hampir tersandung meja yang terbalik. Lukisan-lukisan di dinding seolah menatapnya dengan mata kosong. Suara-suara bisikan mengejarnya, memenuhi setiap sudut vila, memanggil namanya dengan nada yang semakin mendesak.

Ia menerjang pintu utama, yang kini terasa begitu jauh. Cahaya senja di luar tampak seperti surga yang terlarang. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong pintu, yang terbuka dengan deritan memekakkan telinga.

Arya berlari melintasi halaman yang gelap, melewati semak-semak liar yang kini terasa seperti tangan-tangan yang ingin menariknya kembali. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak ingin melihat vila itu lagi, bahkan bayangannya sekalipun.

Ia melompat ke perahu, mendayung dengan kekuatan penuh, menjauh dari tepi yang menyimpan begitu banyak kengerian. Sungai yang tadinya tenang kini terasa dingin dan menakutkan, seolah ia pun menyimpan rahasia-rahasia gelap vila di tepinya.

Ketika ia mencapai sisi sungai yang berlawanan, Arya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap ke seberang, ke arah vila yang kini diselimuti kegelapan total. Cahaya bulan mulai menembus awan, memancarkan siluetnya yang mengerikan.

Ia tidak akan pernah kembali. Misteri vila itu tetap tidak terpecahkan sepenuhnya, namun Arya tahu cukup. Vila itu bukan hanya ditinggalkan, ia adalah entitas yang hidup, sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang malang. Dan bisikan sungai itu, kini, selalu mengingatkannya pada kengerian yang tersembunyi di balik dinding-dinding usang.

Vila Terbengkalai di Tepi Sungai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *